IAINUonline – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak, Satuan Tugas Pencegahan Perundungan dan Penanganan Kekerasan Seksual (SATGAS PPPKS) IAINU Tuban jemput bola edukasi ke wilayah pedesaan.

Bertempat di Gedung Sekolah KB/RA Tlogowaru, Kecamatan Merakurak, Ketua Satgas PPPKS IAINU Tuban, Dr. Sholikah, menggelar workshop parenting intensif pada Selasa (28/07).

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh jajaran guru RA/KB serta puluhan wali siswa yang antusias mengikuti setiap sesi. Fokus utama dari pertemuan ini adalah membekali keluarga di pedesaan agar memiliki pemahaman yang kuat mengenai deteksi dini dan pencegahan kekerasan seksual serta perundungan (bullying) pada anak usia dini.

Dalam pemaparannya, Dr. Sholikah menekankan bahwa sekolah bukan satu-satunya penanggung jawab keselamatan anak. Ia menegaskan bahwa rumah harus menjadi “Madrasah Pertama” di mana anak merasa aman untuk bercerita.

“Ancaman kekerasan di era digital ini bisa menembus dinding-dinding rumah melalui gadget, atau bahkan muncul dari lingkungan yang selama ini kita anggap aman. Orang tua tidak cukup hanya memberikan nafkah, tapi harus menjadi sahabat yang mampu mendengarkan setiap keluh kesah anak,” ujar Dr. Sholikah di hadapan para wali murid.

Mengacu pada materi yang disampaikan, Dr. Sholikah mengajak para orang tua dan guru untuk mengenali berbagai bentuk kekerasan yang seringkali tidak disadari, mulai dari kekerasan verbal, fisik, hingga kekerasan seksual yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan di desa.

Ia memaparkan strategi praktis perlindungan anak, di antaranya; satu membangun komunikasi terbuka. Yakni mengajak anak berdialog tanpa menghakimi. Kedua edukasi anggota tubuh. Bentuknya mengajarkan anak bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain sejak usia RA/KB. Lalu ketiga waspada gadget. Orang tua mengawasi tontonan anak yang berpotensi mengandung unsur kekerasan atau konten dewasa.

“Anak-anak di Tlogowaru ini adalah permata masa depan. Kita harus mengajarkan mereka untuk berani berkata tidak  pada sentuhan yang tidak pantas. Tugas kita adalah mendekap mereka dengan kasih sayang, baik saat kita di rumah maupun saat bapak/ibu sedang beraktivitas di sawah atau pasar,” tambah Dosen IAINU Tuban tersebut.

Kehadiran guru-guru RA/KB dalam workshop ini memperkuat sinergi antara sekolah dan rumah. Guru diharapkan menjadi mitra orang tua dalam mengawasi perubahan perilaku anak yang bisa menjadi indikasi adanya tindak perundungan atau kekerasan. Kepala Sekolah KB/RA Tlogowaru menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif IAINU Tuban ini.

Menurutnya, materi yang disampaikan Dr. Sholikah sangat membuka wawasan warga bahwa kewaspadaan terhadap kekerasan seksual harus dimulai dari pemahaman orang tua, bukan sekadar rasa takut. Melalui kegiatan ini, Satgas PPPKS IAINU Tuban berharap dapat memutus mata rantai kekerasan sejak dini dan memastikan anak-anak di pelosok Merakurak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, harmonis, dan terlindungi secara hukum maupun psikologis.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *