Oleh : Irfa’I Alfian Mubaidilla
IAINUonline – Bulan Ramadan selalu dinantikan kedatangannya, setiap Ramadan selalu ada notifikasi di setiap ruangnya. Suara samar terdengar, suara lirih berbisik, “Puasa dan ngajar hari ini lemas atau semangat?” jawabannya tergantung pada sudut pandang masing-masing kita.
Puasa dianggap sebagai penghalang produktifitas karena lapar, ngantuk dan dahaga yang berkepanjangan. Namun, puasa justru menjadi waktu relekfsi yang pas, evauasi diri dan penguatan makna dalam mengajar.
Menarik untuk kita bahas bersama, puasa bukan hanya sebagai ritual tahunan umat, namun sebagai pendidikan karakter dan penguatan diri dari dalam. Sebagai contoh dalam konteks pembelajaran, puasa dapat menjadi “space time” waktu jeda untuk menata Kembali niat, semangat dan tujuan dalam mengajar.
Puasa sebagai Pengendali Diri
Pandangan dari Albert Bandura yang menjelaskan bahwa manusia belajar dari kontrol diri, refleksi dan pengalaman sadar. Guru mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah marah, lebih sabar dan reflektif akan menciptakan iklim belajar yang sehat. Bulan puasa bisa kita jadikan ruang praktek untuk meraih hal tersebut.
Puasa melatih pengendalian diri, berbicara mengenai teori psikologi ada yang Namanya kemampuan untuk mengendalikan dorongan, emosi dan seangat yang berkaitan dengan keberhasilan belajar dan kinerja profesional. Puasa mengajarkan kita untuk menunda kepuasan, menjadi konsep penting dalam pembelajran berdampak jangka panjang.
Lapar Fisik namun Tumbuh dalam Kesadaran
Banyak dari kita yang sering bilang energi habis, konsentrasi menurun saat puasa, dan hal itu wajar dirasakan. Namun, kita sering lupa jika fisik lemah, maka kesadaran dan focus lebih kuat.
Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan dari Abraham Maslow. Kebutuhan dasar memang penting, namun manusia tidak berhenti di sana. Pada level tertinggi, manusia perlu adanya maksna, pribadi yang nyata dan ada peran dalam lingkungan sekitar.
Puasa, secara fisik terlihat mengurangi, namun dalam kebermaknaan lebih jauh bertambah. Guru dalam mengajar dengan kondisi puasa, selain menjadikan mengajar sebagai rutinitas, tapi juga sebagai pengabdian.
Puasa dan Motivasi Mengajar
Teori self Detemination menjelaskan bahwa motivasi tumbuh ketika seseorang merasa memiliki tujuan dan makna dalam aktifitasnya. Puasa merubah motivas guru dari kewajiban menjadi amal ibadah sosial.
Seringkali kita mendengar, mengajar dalam puasa memang lebih capek, namun terasa lebih nyaman dan ikhlas. Ikhlas dalam bentuk waktu dan kesan semangat yang dirasakan. Mengajar dalam puasa, tidak hanya menjelaskan materi untuk mencapai target, namun membentuk karakter dan harapan ke depan siswa siswi kita.
Pembelajaran Melambat tapi Mendalam
Puasa memberikan pesan penting dalam pembelajaran, tidak semua hal harus didapatkan dalam kecepatan. Dalam era modern semua serba cepat, ada target kilat dan evaluasi capaian. Bulan puasa mengajarkan tahapan pembelajaran atau slow learning. Pembelajaran tidak hanya cepat dan banyak, tapi juga bermakna.
“Ilmu yang bermanfaat adalah yang merubah perilaku” – Filosof Islam al Ghazali
Beberapa studi membahas dengan tema serupa menjelaskan bahwa ada pengaruh antara well being spiritual dengan proses pembelajaran. Dalam artikel menjelaskan bahwa guru dengan keseimbangan emosi spiritual dan kerja sangat berpengaruh pada kualitas pembelajaran di kelas.
Mengajar dalam bulan puasa, pastinya banyak mengalami tantangan. Mulai dari jadwal padat, kelengkapan administasi dan target untuk semester ke depan. Penting adanya kebijakan yang mengatur mengenai seremonial-seremonial yang belum diperlukan. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan ruang pembelajaran nyata, menghargai proses bukan terpaku pada hasil.
Puasa mengajarkan kita dalam mengajar bukan hanya terpaku pada pikiran, tapi juga pada sikap karakter siswa. Lapar dan haus kita jadikan sebagai pengingat, untuk belajar sabar, empati sesama dan memberikan makna setiap langkahnya.
Puasa datang satu tahun sekali, namun nilai yang kita dapatkan mulai dari belajar kesabaran, pengendalian diri, keihklasan harus dibawa dan ditingkatkan di setiap tahunnya, di setiap pembelajaran di ruang kelas, hari ini, besok dan masa depan.
