TAWARKAN KRUKULUM BARU : Mendikbud Nadiem Makarim Menawarkan Kurikulum Baru


IAINUonline – Pada Puncak Perayaan Hari Guru Nasional 2021 lau, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengatakan bahwa pemerintah akan mulai menawarkan kurikulum baru pada tahun 2022.

Ia menyatakan bahwa kurikulum yang saat ini tengah diujicobakan di sejumlah sekolah penggerak ini lebih merdeka dan fleksibel bagi guru dan murid.

Terkait dengan kebijakan ini Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kemendikbud Ristek, Anindito Aditomo menjelaskan bahwa kurikulum tahun 2022 tersebut akan lebih berfokus pada materi yang esensial dan tidak terlalu padat materi.

Kurikulum baru tersebut juga fokus pada materi esensial penting agar guru memiliki waktu untuk pengembangan karakter dan kompetensi.

“Jadi bukan sekadar kejar tayang materi yang ada di buku teks,” ujarnya kala itu.

Ia menyebut bahwa kurikulum prototipe ini sedang diterapkan secara terbatas di 2500-an sekolah di seluruh Indonesia melalui Program Sekolah Penggerak.

Sekolah-sekolah peserta program ini ungkapnya, merupakan sekolah yang mencerminkan keragaman dan sebagian besar adalah sekolah yang ia sebut  “biasa” saja.

“Bukan sekolah yang biasa dianggap favorit atau unggul. Bukan sekolah yang punya fasilitas yang berlebih. Banyak yang justru kekurangan secara sarana-prasarana. Sebagian juga berada di daerah tertinggal,” ungkapnya.

Penerapan kurikulum baru secara terbatas ini menurutnya adalah tahap penting dalam pengembangan kurikulum. Uji coba di sekolah yang beragam memastikan bahwa kurikulum yang sedang dikembangkan memang bisa diterapkan di beragam kondisi. Tidak hanya di sekolah-sekolah di kota besar yang punya fasilitas lengkap.

Kurikulum baru ini santer disebut sebagai Kurikulum Paradigma Baru. Kurikulum pengganti Kurikulum 2013 (K-13),  yang tengah diujicobakan di 2.500 sekolah penggerak ini diklaim lebih fokus pada materi yang esensial dan tidak terlalu padat materi sehingga guru memiliki waktu untuk pengembangan karakter dan kompetensi.

Dikutip dari laman Kemendikbud, Kurikulum Paradigma Baru memiliki struktur kurikulum di antaranya Profil Pelajar Pancasila (PPP) yang akan mendasari Standar Isi Pendidikan, Standar Proses Pendidikan, dan Standar Penilaian Pendidikan.

Ini akan menjadi acuan dalam menetapkan Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), Prinsip Pembelajaran, dan Assesmen. Struktur Kurikulum yang ditetapkan pemerintah ini masih dalam bentuk minimum sehingga untuk kurikulum operasionalnya, sekolah menetapkan dan mengembangkannya sendiri sesuai dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia.

Ada dua bagian penting dalam Kurikulum Paradigma Baru yakni kegiatan intrakurikuler berupa tatap muka dalam kelas dan kegiatan proyek yang dilakukan untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila. 20- 30 persen dari jam pelajaran yang tersedia pada Kurikulum Paradigma Baru dialokasikan untuk kegiatan proyek. Kurikulum Paradigma Baru juga tidak menetapkan jam pelajaran perminggu seperti yang selama ini berlaku di K-13.

Jam Pelajaran pada Kurikulum Paradigma Baru ditetapkan pertahun.   Baca juga: Pemerintah Tawarkan Kurikulum Baru Tahun 2022 Dengan pembagian jam ini, satuan pendidikan diberi keleluasaan dalam mengatur waktu pelaksanaan pelajaran.

Bisa saja, satu mata pelajaran tidak diajarkan pada satu semester, tetapi diajarkan pada semester berikutnya atau sebaliknya. Dibenarkan semisal, mata pelajaran IPA di kelas VII diajarkan pada semester ganjil dan tidak diajarkan lagi pada semester genap, selama jam pelajaran pertahunnya dipenuhi.

Dalam Kurikulum Paradigma Baru, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial pada Sekolah Dasar Kelas tinggi (IV, V, VI) diajarkan secara bersamaan dengan nama Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS). Hal ini ini ditujukan untuk membekali peserta didik sebelum mengikuti pelajaran IPA dan IPS secara terpisah pada jenjang SMP nantinya.

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) yang pada K-13 sempat dihilangkan, pada Kurikulum Paradigma Baru dimuat kembali. Pelajaran yang akan diajarkan pada jenjang SMP, SMA/SMK ini boleh diajarkan oleh guru yang tidak berlatar belakang TIK dengan memenuhi persyaratan tertentu.

Akan ada buku panduan guru sebagai acuan guru pemula di bidang TIK untuk mengajarkan kepada siswa. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, satuan pendidikan tidak terbatas pada satu pendekatan saja seperti K-13 yang hanya menggunakan pendekatan saintifik.

Satuan pendidikan dapat menggunakan pendekatan berbasis mata pelajaran, tematik, inkuiri, kolaborasi mata pelajaran ataupun paduannya sesuai dengan peraturan menteri.   Terdapat pula penggunaan istilah-istilah baru dalam Kurikulum Paradigma Baru seperti Capaian Pembelajaran (CP) untuk menggantikan istilah Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pada K-13.

Dalam implementasi kurikulum ini, pemerintah akan menyediakan buku guru, modul ajar, ragam asesmen formatif, dan contoh pengembangan kurikulum satuan pendidikan untuk membantu dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.

Anindito Aditomo menyebut bahwa kurikulum ini dievaluasi oleh aktor paling penting dalam perbaikan kualitas pembelajaran yakni para guru. Para guru mengevaluasi dalam konteks nyata. Langkah ini melengkapi model uji publik yang biasanya didominasi oleh akademisi dan pengamat yang hanya melihat dokumen kurikulum saja.

“Paradigma merdeka belajar, sekolah perlu diberi keleluasaan termasuk dalam memilih kurikulum yang paling relevan, paling cocok bagi kebutuhan dan konteks sekolah masing-masing,” katanya.(*)

 

Sumber : laman kemendikbud

Editor : Sri Wiyono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.