Oleh : Nur Wachidatul Jannah (2442017)

IAINUonline – Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, termasuk dalam memahami kesehatan mental. TikTok dan Instagram kini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai istilah psikologis, seperti depresi, anxiety, trauma, ADHD, hingga gangguan kepribadian.

Berbagai informasi tersebut disampaikan melalui video pendek, unggahan carousel, infografis, maupun cerita pengalaman pribadi. Tidak sedikit pengguna media sosial yang merasa menemukan penjelasan atas pengalaman emosional yang selama ini sulit mereka pahami.

Seseorang yang sering merasa cemas mulai menghubungkan dirinya dengan gangguan kecemasan. Individu yang sulit berkonsentrasi merasa memiliki ADHD. Bahkan, seseorang yang pernah mengalami pengalaman menyakitkan mulai menyebut dirinya mengalami trauma psikologis setelah membaca beberapa unggahan di Instagram.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan hiburan, tetapi juga mulai mengambil peran dalam membentuk cara individu memahami kondisi psikologisnya.

Di satu sisi, kemudahan memperoleh informasi dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental. Namun, di sisi lain, muncul berbagai persoalan ketika informasi tersebut digunakan untuk menetapkan diagnosis terhadap diri sendiri tanpa melalui pemeriksaan profesional.

Media Sosial dan Munculnya Kebiasaan Self-Diagnosis

Self-diagnosis merupakan tindakan ketika seseorang menyimpulkan bahwa dirinya mengalami gangguan atau kondisi tertentu berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri tanpa melalui penilaian tenaga profesional.(Firmansyah, 2026)

Fenomena ini semakin mudah ditemukan melalui konten kesehatan mental di media sosial. Misalnya, sebuah unggahan Instagram menampilkan lima tanda seseorang mengalami depresi.

Setelah membaca seluruh penjelasan, seseorang merasa bahwa beberapa tanda tersebut sesuai dengan pengalaman pribadinya. Kemudian, ia menyimpulkan bahwa dirinya mengalami depresi.

Padahal, pengalaman emosional manusia tidak sesederhana daftar gejala yang ditampilkan dalam sebuah unggahan. Perasaan sedih, cemas, sulit tidur, kehilangan semangat, dan kesulitan berkonsentrasi dapat muncul karena berbagai kondisi. Gejala tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya gangguan mental tertentu.

Penelitian (Amrah et al., 2024) mengenai gambaran self-diagnosis pada dewasa awal pengguna media sosial menemukan bahwa perilaku tersebut dapat bermula ketika individu merasakan masalah dalam dirinya, kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan informasi mengenai gangguan mental di media sosial.

Penelitian itu juga menemukan adanya dampak berupa kecemasan dan perilaku maladaptif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa informasi kesehatan mental yang tidak dipahami secara utuh dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Penelitian (Jurnal et al., 2024) juga membahas fenomena self-diagnosis terhadap konten kesehatan mental di TikTok. Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana informasi kesehatan mental yang beredar di media sosial dapat memengaruhi asumsi masyarakat dalam memahami kondisi psikologis dirinya.

Ketika Informasi yang Terlihat Cocok Belum Tentu Benar

Salah satu hal yang menarik untuk dipahami dari fenomena self-diagnosis adalah kecenderungan manusia mencari informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dikenal sebagai confirmation bias. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk lebih memperhatikan dan menerima informasi yang mendukung keyakinan awalnya.

Sebagai contoh, seseorang yang sejak awal merasa dirinya mengalami gangguan kecemasan akan lebih tertarik membaca konten yang membahas gejala anxiety. Ketika menemukan informasi yang sesuai dengan pengalamannya, ia semakin yakin terhadap kesimpulan tersebut. Sebaliknya, informasi yang menunjukkan kemungkinan penjelasan lain bisa saja diabaikan.

Situasi ini dapat membuat seseorang terjebak dalam pencarian informasi yang berulang. Ia terus membuka konten kesehatan mental, membandingkan gejala, dan mencari pembenaran atas kesimpulannya sendiri.

(Corzine & Roy, 2024), dalam artikel Inside the Black Mirror: Current Perspectives on the Role of Social Media in Mental Illness Self-Diagnosis, menjelaskan bahwa media sosial dapat memberikan ruang dukungan dan meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental.

Namun, platform tersebut juga memiliki risiko dapat menyebarkan informasi yang kurang tepat dan mendorong perilaku diagnosis mandiri. Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada penggunaan media sosial semata, melainkan pada bagaimana individu menerima, memahami, dan menggunakan informasi yang diperolehnya.

Memahami Self-Diagnosis melalui Perspektif Psikoterapi

Dalam konteks psikoterapi, memahami kondisi psikologis seseorang membutuhkan proses yang lebih mendalam daripada sekadar mencocokkan pengalaman pribadi dengan informasi di internet.

Psikoterapi merupakan proses bantuan profesional yang bertujuan membantu individu memahami permasalahan psikologis, mengelola emosi, serta mengembangkan pola pikir dan perilaku yang lebih adaptif.

Salah satu pendekatan yang relevan untuk memahami persoalan ini adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif.

Pendekatan CBT menjelaskan bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku saling berhubungan. Cara seseorang menafsirkan suatu pengalaman dapat memengaruhi perasaan dan tindakan yang muncul setelahnya.

Dalam kasus self-diagnosis, seseorang mungkin memiliki pemikiran, “Saya pasti mengalami depresi karena saya sering merasa sedih dan kehilangan semangat.” Pemikiran tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran yang semakin besar apabila terus diyakini tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain.

Melalui CBT, individu dapat dibantu untuk mengenali pemikiran otomatis, memeriksa bukti yang mendukung atau tidak mendukung pemikirannya, serta mengembangkan cara pandang yang lebih realistis.

Selain itu, pendekatan humanistik yang dikembangkan Carl Rogers juga memberikan perspektif penting. Pendekatan ini menekankan empati, penerimaan tanpa menghakimi (unconditional positive regard), dan pemahaman terhadap pengalaman subjektif individu.

Artinya, seseorang tidak seharusnya langsung diberi label berdasarkan cerita atau gejala yang disampaikan. Ia perlu memperoleh ruang yang aman untuk menceritakan pengalaman, memahami perasaannya, dan mengeksplorasi permasalahan yang sedang dihadapi.

Psikoterapi bukan sekadar memberikan nama pada gangguan yang dialami seseorang. Lebih dari itu, psikoterapi membantu individu memahami dirinya secara lebih utuh dan menemukan cara menghadapi permasalahan secara tepat.

Antara Edukasi dan Literasi Kesehatan Mental

Meningkatnya konten kesehatan mental di media sosial sebenarnya tidak selalu membawa dampak negatif. Kehadiran konten edukasi dapat membantu masyarakat mengenali berbagai permasalahan psikologis yang sebelumnya kurang bisa dipahami.

Banyak orang mulai menyadari pentingnya kesehatan mental setelah memperoleh informasi dari internet.

Hal ini sejalan dengan kajian (Ahmed et al., 2024) yang meneliti hubungan penggunaan media sosial, kesehatan mental, dan kualitas tidur melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis. Kajian tersebut memberikan gambaran bahwa penggunaan media sosial dan kesejahteraan psikologis perlu dipahami secara menyeluruh.

Namun, kesadaran tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi. Tidak semua konten yang menggunakan istilah psikologi disusun berdasarkan sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bahkan, pengalaman pribadi seseorang yang dibagikan melalui media sosial belum tentu dapat dijadikan gambaran umum mengenai suatu gangguan mental.

Oleh karena itu, diperlukan literasi kesehatan mental yang baik. Individu perlu memahami bahwa informasi dari TikTok, Instagram, dan platform lainnya sebaiknya digunakan sebagai pengetahuan awal, bukan sebagai dasar untuk menetapkan diagnosis.

Apabila seseorang merasakan perubahan emosi, pikiran, atau perilaku yang terus berlangsung hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Melalui asesmen dan pemeriksaan yang sesuai, kondisi individu dapat dipahami secara lebih menyeluruh.

Di sinilah pentingnya membangun kesadaran bahwa mencari bantuan profesional bukan berarti seseorang lemah atau tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebaliknya, keputusan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri.

Memahami Diri Tanpa Terburu-buru Memberikan Label

Fenomena self-diagnosis mengingatkan kita bahwa semakin mudah informasi diperoleh, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijaksana. Media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kesehatan mental, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya tempat untuk menentukan kondisi psikologis seseorang.

Dalam perspektif psikoterapi, setiap individu memiliki pengalaman, latar belakang, dan permasalahan yang berbeda. Dua orang yang menunjukkan gejala serupa belum tentu memiliki kondisi psikologis yang sama. Karena itu, pemahaman terhadap individu membutuhkan proses yang memperhatikan keseluruhan aspek kehidupannya.

Pada akhirnya, mengenali diri sendiri merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan mental. Namun, mengenali bukan berarti mendiagnosis. Memahami bukan berarti memberikan label. Ada proses yang perlu dilalui agar seseorang dapat memperoleh pemahaman dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Jangan sampai keinginan untuk memahami kesehatan mental justru membuat kita semakin mudah menghakimi kondisi diri sendiri. Gunakan media sosial untuk belajar, bukan untuk menetapkan diagnosis. Sebab, setiap individu berhak dipahami secara utuh, bukan sekadar dinilai melalui beberapa gejala yang ditemukan di layar.

 

Sumber :  Ahmed, O., Walsh, E. I., Dawel, A., Alateeq, K., Andrea, D., Oyarce, E., & Cherbuin, N. (2024). Social media use , mental health and sleep : A systematic review with. Journal of Affective Disorders, 367(August), 701–712. https://doi.org/10.1016/j.jad.2024.08.193

Amrah, N., Murdiana, S., & Ismail, I. (2024). Gambaran Self Diagnose Mental Disorder pada Dewasa Awal Pengguna Media Sosial. 4(1), 35–47.

Corzine, A., & Roy, A. (2024). Inside the black mirror : current perspectives on the role of social media in mental illness self ‑ diagnosis. Discover Psychology. https://doi.org/10.1007/s44202-024-00152-3

Firmansyah, F. (2026). Pengaruh literasi kesehatan mental terhadap.

Jurnal, J., Sosial, S., Wijaya, R., Ramdan, A. R., Asariningrum, D., & Syantifa, R. A. (2024). Fenomena Self Diagnose terhadap Konten Kesehatan Mental di Media Sosial Tiktok : Analisis Wacana Multimodal terhadap Asumsi Masyarakat di Kolom Komentar Self Diagnose Phenomenon of Mental Health Content on Tiktok Social Media : A Multimodal Discourse Analysis of Public Assumptions in Comment Columns. 8(2), 125–134. https://doi.org/10.30595/jssh.v8i2.23784

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *