IAINUonline – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) Tuban sukses menggelar Seminar Nasional dalam rangka peringatan Dies Maulidiyah ke-8. Acara bergengsi ini diselenggarakan pada Sabtu (03/10/2026), bertempat di Aula Lantai 2 Gedung Hasyim Asy’ari, Kampus UNUMA Tuban.
Seminar nasional kali ini mengangkat tema besar “Berakar pada Nilai, Bertumbuh dalam Dedikasi, Melangkah Menuju Transformasi”. Tema ini sengaja dipilih sebagai respons kritis dan kontemplatif dalam menghadapi era perubahan global yang bergerak sangat cepat.
Forum akademik ini menghadirkan dua pakar pendidikan Islam terkemuka sebagai narasumber utama. Pemateri pertama adalah Dosen Pascasarjana Program Studi S2 PAI UNUMA Tuban, Dr. Sholikah, M.Pd.I.. Beliau didampingi oleh pemateri kedua, Dr. Fahmi Khumaini, M.Pd., yang merupakan akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro.
Turut hadir memberikan dukungan penuh dalam kegiatan tersebut adalah Kepala Program Studi (Kaprodi) PAI UNUMA Tuban, Isnawati Nur Afifah Latif, M.Pd.I., beserta jajaran dosen prodi lainnya. Kehadiran ratusan mahasiswa dan civitas akademika kampus membuat suasana diskusi mengenai arah masa depan pendidikan agama Islam berlangsung sangat antusias dan dinamis.
Dalam sesi pemaparan materi, sorotan utama diarahkan pada masifnya disrupsi teknologi, khususnya kehadiran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Penggunaan AI dinilai telah mendisrupsi dan mengubah pembagian kerja berpikir (cognitive division of labor) antara sistem komputasi dan manusia secara fundamental.
Kendati teknologi kecerdasan buatan mampu mempercepat pencarian informasi dan memperluas eksplorasi ruang kognitif, penerapannya memunculkan tantangan pedagogis baru. Narasumber menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, ia tidak akan pernah bisa menggantikan kesadaran etis, hikmah, serta kapasitas pertimbangan praktis (practical judgment) manusia.
“Di tengah era pergeseran kognitif dan melimpahnya informasi ini, pertempuran utama pendidikan bukan lagi berpusat pada sekadar menghafal data,” tegas narasumber di hadapan ratusan peserta. Melainkan pada bagaimana civitas akademika dapat berakar teguh pada nilai-nilai Islam, bertumbuh melalui dedikasi yang konsisten, serta berani melakukan transformasi.
Untuk menjawab tantangan kompleks di era digital tersebut, materi seminar membedah tiga fondasi atau pilar utama pembangunan karakter bagi generasi muda PAI. Pilar pertama adalah “Berakar pada Nilai” (Rooted in Values), di mana orientasi nilai-nilai keislaman diposisikan sebagai pedoman arah kehidupan.
Nilai-nilai luhur seperti iman, takwa, ihsan, akhlak mulia, dan kepedulian sosial merupakan fondasi yang tak tergantikan. Nilai-nilai inilah yang bertindak sebagai akar kuat agar mahasiswa tidak mudah goyah atau kehilangan arah saat diterjang derasnya arus perubahan zaman.
Dalam praktiknya, kehidupan mahasiswa dipenuhi oleh pluralitas tuntutan yang sama-sama bernilai penting, seperti akademik, keluarga, dan komitmen keagamaan. Oleh karena itu, mahasiswa memerlukan kemampuan practical judgment untuk menimbang relevansi, proporsi, serta batasan kontekstual agar mampu mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pilar kedua yang ditanamkan kepada peserta adalah “Bertumbuh dalam Dedikasi” (Growing in Dedication). Dedikasi dalam kerangka ini tidak dimaknai sebagai upaya instan, melainkan sebagai kualitas keterlibatan yang berkelanjutan (sustained engagement) melalui perhatian, waktu, energi, dan komitmen.
Bertahan dalam sebuah proses dedikasi membutuhkan alasan yang kuat, ketahanan mental (grit), kedisiplinan, motivasi intrinsik dari dalam diri (Self-Determination Theory), serta pembentukan kebiasaan yang baik. Proses ini diakui tidak selalu mudah, tetapi setiap fase pembelajarannya diyakini akan mematangkan kualitas dan membentuk karakter pendidik.
Selanjutnya, pilar ketiga berfokus pada “Melangkah menuju Transformasi” (Stepping towards Transformation). Transformasi didefinisikan sebagai perubahan konfiguratif bermakna yang mengubah cara pandang, kapasitas, relasi, hingga praktik seseorang dari waktu ke waktu.
Guna membangkitkan semangat peserta, narasumber mengajak mahasiswa meneladani kisah inspiratif tokoh-tokoh besar. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali, yang berhasil bertransformasi dari sekadar pencari ilmu menjadi seorang pembaharu pemikiran Islam (mujaddid), serta figur Nadiem Makarim yang berani berinovasi di dunia pendidikan.
Melalui seminar komprehensif ini, mahasiswa PAI UNUMA Tuban tengah dipersiapkan untuk memikul enam peran strategis di tengah masyarakat. Peran tersebut mencakup posisi sebagai pendidik yang mencerahkan, dai yang menyejukkan, inovator yang kreatif, pemimpin yang amanah, kolaborator yang menguatkan, hingga menjadi solusioner.
Agar siap mengemban amanah besar dan menghadapi zaman, para calon pendidik ini dibekali dengan lima instrumen utama, yakni penguasaan ilmu yang mendalam, akhlak yang kokoh, keterampilan abad ke-21, jaringan yang luas, serta diakhiri dengan doa dan tawakkal. Ilmu dan akhlak ditegaskan harus senantiasa berjalan beriringan agar membawa keselamatan.
Memasuki penghujung acara, para peserta diajak melakukan sesi refleksi diri secara interaktif dan mendalam. Mahasiswa diminta membayangkan dan menuliskan proyeksi diri mereka dalam kurun waktu lima tahun ke depan, serta didorong menetapkan satu langkah nyata yang akan segera dimulai pada minggu ini.
Seminar nasional yang penuh dengan gagasan pembaruan ini ditutup dengan komitmen kuat dan doa bersama. “Berakar pada nilai membuat kita menjadi kuat, bertumbuh dalam dedikasi membuat kita menjadi unggul, dan melangkah menuju transformasi membuat kehadiran kita bermanfaat bagi peradaban,” pungkas narasumber menutup rangkaian kegiatan dengan penuh semangat.
