Oleh : Lathif Abdul Razaq

IAINUonline – Beberapa orang memiliki kecenderungan menyembunyikan hal terberat dalam hidupnya sendiri. Tidak pernah diungkapkan kepada siapa pun. Terlepas dari karakter mereka yang “katanya” ekstrovert, yang sangat mudah terbuka dan bercerita, atau si introvert yang memang lebih suka menutup diri, kecenderungan untuk menyimpan suatu beban berat itu mungkin tetap ada.

Mungkin bukan karena mereka tidak ingin bercerita. Mungkin mereka hanya belum menemukan orang yang tepat untuk mendengarkan.

Ketika seseorang mulai bercerita bahwa hidupnya sedang terasa berat, mengapa respons awal yang sering muncul bukan lagi, “Cerita dulu deh, sampai selesai,” melainkan, “Oh, kalau aku…”, “Nggak begitu, harusnya gini,” atau bahkan, “Kalau segitu doang mah, masih berat bebanku.”

Respons-respons tersebut terkadang muncul bahkan sebelum orang yang sedang bercerita menyelesaikan ceritanya. Akhirnya, cerita yang belum selesai itu kembali menjadi sesuatu yang dipendam.

Mungkin karena kita terlalu terbiasa memberikan respons, sampai lupa bahwa tidak semua cerita membutuhkan jawaban. Kadang seseorang hanya ingin didengarkan.

Kalau kita tarik sedikit ke belakang, kita mengenal keterampilan dasar berbahasa yang secara umum diklasifikasikan menjadi dua, yaitu keterampilan aktif dan pasif. Keterampilan aktif antara lain berbicara dan menulis, sedangkan keterampilan pasif meliputi membaca dan mendengarkan.

Anehnya, dari beberapa keterampilan tersebut, mendengarkan dengan baik justru terasa semakin langka di era sekarang.

Kita semakin mudah berbicara. Semakin mudah menulis. Semakin mudah memberikan komentar. Tetapi apakah kita masih benar-benar mampu mendengarkan?

Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, terlebih dengan hadirnya AI, kecenderungan kita untuk melakukan interaksi sosial secara langsung juga perlahan berubah. Tidak perlu dipungkiri, beberapa dari kita bahkan mulai memanfaatkan AI sebagai teman bercerita.

Mungkin karena AI terasa lebih aman. Tidak menghakimi. Tidak memotong pembicaraan. Tidak membandingkan cerita kita dengan ceritanya sendiri. Kita bisa mengatakan apa saja tanpa harus khawatir lawan bicara akan berpikir, “Ah, masalahmu sebenarnya tidak seberapa.”

Di media sosial pun demikian. Sudah begitu banyak konten kreator yang memiliki niche seputar mental issues, mental health, self-improvement, dan nasihat-nasihat kehidupan. Konten-konten tersebut membuat kita semakin akrab dengan istilah healing, burnout, overthinking, insecure, dan berbagai istilah lain yang sebelumnya mungkin tidak terlalu kita kenal.

Tetapi ada satu pertanyaan sederhana:

Apakah kita benar-benar merasa didengarkan?

Atau kita hanya merasa relate, kemudian menekan tombol like, menyimpan kontennya, lalu kembali menjalani kehidupan masing-masing?

Jawabannya tentu kembali kepada diri kita sendiri.

Namun, ada satu hal yang menarik. Dengan semakin banyaknya konten yang membahas persoalan mental dan kehidupanmasyarakat mungkin memang semakin pandai memberikan solusi. Tetapi belum tentu semakin pandai mendengarkan.

Padahal, dalam beberapa situasi, yang dibutuhkan seseorang untuk bertahan bukanlah solusi. Bukan pula kalimat motivasi. Bukan perbandingan dengan orang lain yang dianggap memiliki masalah lebih berat. Mungkin mereka hanya membutuhkan sebuah tempat yang aman untuk bercerita.

Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami hal seperti ini. Setiap hari libur, kita pergi ke sebuah kafe sendirian. Membawa laptop, handphone, dan buku. Kemudian memilih tempat paling sepi, yang hampir tidak ada orang di sekeliling kita.

Kita membuka laptop—tanpa benar-benar menyalakannya—hanya supaya terlihat sibuk di mata orang lain. Kita membuka buku, entah halaman berapa, entah membahas apa, karena buku itu hanya menjadi alasan agar tidak ada orang yang mengajak berbicara.

Kita memainkan handphone seolah-olah sedang menunggu panggilan penting. Bukan karena benar-benar ada sesuatu yang harus dikerjakan. Mungkin kita hanya sedang berusaha menghindari tatapan orang lain. Tetapi ketika sedang “kosong”, kita justru mulai memperhatikan sekitar.

Lalu muncul berbagai asumsi kecil di kepala:

“Ah, enak juga ya seperti orang yang duduk di dekat barista itu. Bisa ngobrol panjang tentang hal-hal random.”

“Kayaknya ngopi bareng teman juga asyik, ya, kalau bisa saling cerita seperti orang itu.”

Dan asumsi-asumsi lainnya.

Padahal, apakah yang sebenarnya kita inginkan? Apakah kita benar-benar menginginkan kehidupan orang lain yang terlihat dari sudut pandang kita? Atau sebenarnya kita hanya menginginkan sebuah tempat untuk bercerita?

Sebuah tempat di mana kita tidak harus terlihat baik-baik saja. Sebuah tempat di mana cerita kita tidak dibandingkan. Sebuah tempat di mana kita boleh menyelesaikan cerita tanpa dipotong dengan kalimat, “Kalau aku…”

Mungkin di sinilah persoalannya. Kita hidup di zaman ketika semua orang memiliki ruang untuk berbicara, tetapi tidak semua orang memiliki ruang untuk didengarkan. Kita bisa mengunggah cerita dalam hitungan detik.

Bisa mendapatkan ratusan komentar. Bisa menemukan ribuan orang yang merasa relate. Bahkan bisa berbicara dengan AI kapan pun kita mau. Tetapi tetap saja, ada perbedaan antara didengar oleh sistem dan didengarkan oleh manusia.

Ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh respons otomatis, algoritma, atau kalimat motivasi. Yaitu kehadiran.

Kehadiran seseorang yang cukup sabar untuk berkata, “Cerita saja. Aku dengarkan.”

Tanpa buru-buru memberikan solusi. Tanpa menghakimi. Tanpa membandingkan. Tanpa merasa harus menjadi orang paling tahu tentang apa yang sedang kita rasakan. Karena mungkin tidak semua cerita memang membutuhkan solusi. “Some stories just need to be listened.”

Lalu mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

“Sudahkah kita mendengarkan cerita orang lain sampai selesai tanpa buru-buru menjustifikasinya?”

“Pernahkah kita meminta tolong kepada seseorang tanpa mengetahui hidden piece di balik kehidupan orang tersebut?”

Dan yang paling penting, “seberapa sering kita meminta maaf kepada diri sendiri karena terlalu lama memendam cerita tentang beratnya hidup yang sedang kita jalani?”

Barangkali, sebelum meminta orang lain untuk lebih peduli kepada kita, kita juga perlu belajar menjadi seseorang yang mau mendengarkan. Karena bisa jadi, di sekitar kita ada seseorang yang terlihat baik-baik saja.

Tetap bekerja.

Tetap kuliah.

Tetap bercanda.

Tetap mengunggah foto.

Tetap mengatakan, “Aku baik-baik saja.

Padahal mungkin mereka hanya sedang menunggu satu orang yang mau duduk sebentar dan berkata:

“Cerita saja. Aku di sini”

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *