Oleh : Irfa’i Alfian Mubaidilla
IAINUonline – Ada sesuatu yang aneh tentang waktu ketika kita berada di dalam kelas. Sembilan puluh menit yang di tempat lain terasa panjang, di ruang kelas justru seperti embun yang jatuh sebentar di ujung daun, ada tetapi lekas menghilang.
Baru saja membuka percakapan,
Baru saja menemukan tawa,
Baru saja mendengar suara-suara mereka,
Tiba-tiba jam sudah mengingatkan waktunya selesai.
Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, “mengapa 90 menit terasa begitu singkat?”
Mungkin karena waktu memang memiliki cara sendiri, ketika kita melewatinya bersama orang-orang yang kita sayangi.
Di depan kelas, saya tidak hanya bertemu mereka para siswa. Saya bertemu wajah-wajah yang membawa cerita. Ada yang datang dengan mata penuh harapan, ada yang menyembunyikan lelah di balik senyum, ada yang diam-diam sedang berjuang dengan kehidupannya sendiri dan saya datang dengan cerita saya sendiri.
Tidak semua hari saat datang ke kelas dalam keadaan baik-baik saja. Ada persoalan yang tertinggal di rumah. Ada pekerjaan yang belum selesai. Ada kegelisahan yang belum menemukan jawaban. Ada lelah yang bahkan tidak sempat diceritakan.
Namun begitu pintu kelas dibuka, semuanya seperti harus disimpan sebentar. Sebab di hadapan mereka, kita belajar untuk kembali tersenyum. Bukan karena kita tidak punya luka, tetapi karena ada energi yang harus kita bagi. Ada semangat yang harus kita nyalakan.
Ada harapan yang mungkin sedang menunggu untuk dititipkan melalui sebuah kalimat sederhana dan sering kali tanpa kita sadari merekalah yang justru mengembalikan semangat itu kepada kita.
Barangkali inilah rahasia kecil dari mengajar,
Kita datang untuk memberi, tetapi sering kali justru pulang dengan membawa lebih banyak.
Kita membawa pulang tawa dari kelas.
Membawa pulang pertanyaan yang belum selesai kita jawab.
Membawa pulang cerita-cerita kecil tentang mereka.
Terkadang, membawa pulang alasan untuk tetap percaya bahwa pekerjaan ini bukan sekadar pekerjaan.
Ada hari ketika tubuh ingin segera pulang, tetapi hati justru ingin tinggal sedikit lebih lama.
Bukan karena materi belum selesai.
Bukan karena tugas masih banyak.
Tetapi karena ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat mereka tumbuh di depan mata.
Hari ini mereka mungkin masih bertanya dengan polos.
Besok mereka mungkin sudah berdiri di depan kelas.
Hari ini mereka mungkin masih mencari arah.
Kelak mereka mungkin menjadi seseorang yang menunjukkan arah kepada orang lain.
Dan kita pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan itu.
Mungkin suatu hari nanti mereka tidak lagi mengingat apa yang kita tuliskan di papan tulis. Mereka mungkin lupa teori apa yang pernah kita jelaskan, tugas apa yang pernah kita berikan, bahkan mungkin lupa berapa kali kita mengingatkan mereka untuk mengumpulkan tugas.
Tetapi semoga mereka tidak lupa pada suasana yang pernah kita ciptakan. Bahwa pernah ada ruang kelas yang membuat mereka merasa didengar. Pernah ada seorang yang tidak hanya datang membawa materi, tetapi juga membawa semangat. Pernah ada seseorang yang meski diam-diam sedang lelah, tetap memilih menghadirkan keceriaan di hadapan mereka.
Sebab mungkin pendidikan tidak selalu tentang apa yang kita ajarkan. Kadang pendidikan adalah tentang apa yang mereka rasakan ketika bersama kita.
Mungkin itulah mengapa 90 menit terasa terlalu singkat.
Karena kita sedang menghabiskan waktu bersama orang-orang yang menjadi bagian dari perjalanan kita. Mereka mungkin menyebut kita guru. Tetapi tanpa mereka sadari, kadang mereka adalah penyemangat bagi kita untuk terus datang, terus berbicara, terus belajar, dan terus percaya bahwa apa yang dilakukan hari ini akan menemukan maknanya suatu hari nanti.
Maka ketika bel berbunyi dan kelas harus berakhir, ada perasaan yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Kita menutup laptop.
Merapikan buku.
Menghapus papan tulis.
Lalu berjalan keluar kelas.
Namun di dalam hati, ada sesuatu yang masih tertinggal.
Senyum mereka.
Suara mereka.
Tawa mereka.
Dan percakapan yang rasanya baru saja dimulai.
Ternyata 90 menit telah berlalu.
Begitu cepat.
Mungkin kelak ruang kelas itu akan berganti.
Wajah-wajah itu akan berubah.
Mereka akan lulus dan berjalan menuju kehidupan masing-masing.
Dan kita akan tetap mengajar, bertemu wajah-wajah baru, mendengar cerita-cerita baru.
Tetapi setiap kali jam menunjukkan sembilan puluh menit dan waktu terasa kembali terlalu singkat, barangkali kita akan tahu, bukan waktunya yang berjalan terlalu cepat. Kitalah yang sedang berada di tempat yang tepat membuat waktu tak terasa berlalu.
Di antara orang-orang yang kita sayangi.
Di antara mereka yang menjadi penyemangat.
Di antara mereka yang sedang tumbuh menjadi manusia seutuhnya.
Dan di sanalah kita sadar, ternyata menjadi pendidik bukan hanya tentang menghabiskan waktu untuk mereka, tetapi menemukan kembali alasan untuk terus berjalan bersama mereka.
Sebab ada pertemuan yang selesai ketika jam berbunyi.
Tetapi ada pertemuan yang tetap tinggal, jauh setelah kelas berakhir.
