Oleh : Ihda Shofiyatun Nisa’

IAINUonline – Saya datang ke Surabaya untuk sebuah konferensi ilmiah. Namun, sebelum masuk ke ruang konferensi, sebuah bus justru memberiku pelajaran tentang kemiskinan, perempuan dan anak-anak.

September pertamaku dimulai dengan perjalanan menuju Surabaya. Setelah cukup lama tidak menggunakan kendaraan umum, kali ini aku kembali naik bus. Kupikir perjalanan ini akan biasa saja. Ternyata, ada pemandangan yang membuatku berpikir panjang.

Di beberapa bus yang kutumpangi, aku bertemu pengamen. Yang berbeda dari pengalamanku dulu, kali ini aku lebih banyak melihat perempuan dewasa dan anak-anak. Mereka berpakaian cukup rapi, Sebagian berdandan, dan menyanyikan lagu-lagu Jawa yang sedang populer. Ada yang suaranya biasa aja, ada pula yang cukup merdu.

Sampai seorang perempuan menyanyikan lagu Terima Kasih Ibu. Aku terdiam. Bukan karena suaranya luar biasa, tetapi karena penghayatannya. Aku bertanya dalam hati : “Apakah dia sekadar bernyanyi, atau sedang menceritakan sebagian dari kehidupannya?”.

Aku tidak tahu siapa perempuan itu. Tidak tahu bagaimana kehidupannya. Tidak tahu apakah mengamen adalah pilihannya atau karena keadaan memaksanya.

Tetapi pertemuan singkat itu meninggalkan sebuah pertanyaan: “Mengapa perempuan dan anak-anak harus mencari penghasilan di dalam bus?”.

Pertanyaan sederhana itu kemudian membawaku pada persoalan yang lebih besar. Hari ini pemerintah sebenarnya tidak kekurangan program. Pengentasan kemiskinan, pendidikan, perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, dan pembangunan responsif gender telah menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.

Pemerintah juga terus mendorong pengarusutamaan gender dan pembangunan inklusif agar kelompok rentan memperoleh akses dan manfaat pembangunan secara lebih adil.

Semua itu patut diapresiasi. Tetapi pengalaman di dalam bus mengingatkan kita pada satu hal penting : “Kebijakan yang baik tidak boleh berhenti di atas kertas”.

Ia harus sampai kepada manusia yang membutuhkannya.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa banyak program yang sudah dibuat?” tetapi  “Siapa yang belum terjangkau?”

Ketika melihat perempuan mengamen, kita sering berkata, “Yang penting dia mau bekerja.” Benar. Bekerja adalah hal baik. Tetapi kita juga perlu bertanya “Apakah ia bekerja karena memilih, atau karena tidak memiliki pilihan lain?”.

Kesetaraan gender bukan sekadar memastikan perempuan boleh bekerja. Kesetaraan berarti perempuan memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak, kesempatan untuk mandiri secara ekonomi, perlindungan, dan pilihan hidup yang bermartabat.

Jika seorang perempuan bekerja karena pilihan, itu adalah haknya. Tetapi jika ia bekerja karena keadaan memaksanya, ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar pilihan individu.

Ada persoalan tentang kesempatan. Ada persoalan tentang perlindungan sosial.

Dan ada persoalan tentang bagaimana pembangunan membuka ruang ekonomi bagi perempuan yang berada dalam kondisi rentan.

Persoalan menjadi lebih serius ketika yang bekerja adalah anak-anak. Anak yang bernyanyi, tersenyum, dan terlihat percaya diri tetaplah anak. Ia berhak belajar, bermain, tumbuh, dan mendapatkan perlindungan. Jangan sampai kemiskinan membuat anak kehilangan masa kecil sekaligus mempertaruhkan masa depanya.

Dalam perspektif Islam, membantu orang yang membutuhkan adalah kebaikan. Sedekah tentu mulia. tetapi keadilan menuntut kita memikirkan jalan keluar. Memberikan uang mungkin membantu hari ini. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana agar besok mereka tidak perlu mengamen lagi?

Negara perlu memastikan program pengentasan kemiskinan benar-benar menjangkau keluarga yang rentan. Perempuan perlu memiliki akses terhadap kesempatan ekonomi yang lebih layak. Anak-anak harus tetap berada di sekolah dan mendapatkan perlindungan.

Masyarakat juga memiliki peran. Kita tidak cukup hanya melihat mereka sebagai pengamen. Di balik suara yang kita dengar, ada manusia dengan cerita, kebutuhan, dan martabat.

Aku datang ke Surabaya untuk sebuah konferensi ilmiah. Namun, sebelum masuk ke ruang konferensi, sebuah bus justru memberiku pelajaran. Bahwa ilmu tidak cukup hanya dibicarakan di ruang seminar. Ilmu harus mampu melihat kehidupan nyata.

Seorang akademisi tidak cukup hanya berbicara tentang kemiskinan, gender, pendidikan, dan perlindungan anak di ruang konferensi. Kita juga harus berani melihat bagaimana persoalan itu hadir dalam kehidupan masyarakat.

Sebab terkadang, realitas di jalan justru mengajukan pertanyaan yang tidak muncul dalam buku, jurnal, maupun forum ilmiah. Mungkin, inilah tugas ilmu yang sebenarnya, bukan hanya menjelaskan kenyataan, tetapi ikut mencari jalan untuk memperbaikinya.

Semoga suatu hari ketika kita kembali naik bus, kita tidak lagi melihat anak-anak membawa gitar untuk mencari uang. Kita ingin melihat mereka membawa tas sekolah, buku, dan cita-cita.

Sebab ukuran pembangunan bukan hanya seberapa banyak program diluncurkan, tetapi seberapa banyak manusia yang sebelumnya tertinggal akhirnya ikut tumbuh.

Karena pada akhirnya, pembangunan yang adil bukan sekadar tentang angka dan program, melainkan tentang hadirnya pilihan bagi perempuan, perlindungan bagi anak-anak, serta kesempatan bagi setiap keluarga untuk hidup layak dan bermartabat.

 

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *