IAINUonline – Malam itu, suasana terasa sejuk ketika langkah kaki mengarah ke rumah Kepala Dusun yang akrab disapa Pak Wo. Kunjungan yang lebih terasa sebagai ajang silaturahmi daripada pertemuan resmi tersebut menjadi kesempatan untuk berbincang santai sekaligus menggali informasi mengenai kehidupan sosial dan potensi ekonomi masyarakat di dusun setempat.
Pak Wo menyambut dengan hangat di teras rumahnya. Setelah berbincang ringan mengenai kabar dan kondisi dusun, obrolan pun mengalir pada salah satu kebanggaan warga, yaitu keberadaan PWP atau Perkumpulan Warga Pangklangan.
“PWP ini sudah lama berjalan, dan alhamdulillah masih solid sampai sekarang,” ujar Pak Wo.
Menurut penuturannya, PWP merupakan wadah kebersamaan warga Pangklangan yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi penggerak semangat gotong royong di lingkungan dusun. Posko atau tempat berkumpul perkumpulan tersebut berada tepat di depan masjid dusun karena lokasinya yang strategis dan mudah dijangkau oleh seluruh warga.
Kegiatan rutin PWP dilaksanakan setiap Senin Legi, mengikuti penanggalan Jawa yang hingga kini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Pada hari tersebut, warga berkumpul untuk membahas berbagai hal, mulai dari kegiatan sosial, keamanan lingkungan, hingga rencana program dusun ke depan.
Salah satu program unggulan yang dikelola PWP adalah jimpitan, yakni tradisi mengumpulkan iuran kecil dari warga secara berkala. Pak Wo menjelaskan bahwa dana jimpitan yang terkumpul saat ini telah mencapai sekitar Rp40 juta. “Dana sebesar itu tidak kami diamkan begitu saja. Semuanya kami alokasikan untuk membantu warga yang tertimpa musibah, terutama sebagai santunan bagi keluarga yang mengalami kedukaan,” jelasnya.
Dana tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian sosial antarwarga. Ketika ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, PWP hadir memberikan bantuan sebagai wujud solidaritas untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan sekaligus mempererat rasa persaudaraan di lingkungan Masyarakat.
Perbincangan kemudian beralih ke wilayah Mandirejo, salah satu bagian dusun yang memiliki potensi ekonomi cukup besar. Pak Wo menceritakan bahwa banyak warga Mandirejo menggantungkan mata pencahariannya pada usaha rumahan.
“Di Mandirejo banyak warga yang menjadi perajin batik. Selain itu, produksi tahu dan tempe juga menjadi salah satu usaha andalan masyarakat,” tuturnya. Menurut Pak Wo, usaha batik di Mandirejo telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas tersendiri bagi masyarakat setempat. Berbagai motif batik yang dihasilkan para perajin tidak hanya dipasarkan di sekitar wilayah desa, tetapi juga telah menjangkau daerah lain. Di sisi lain, usaha produksi tahu dan tempe menjadi sumber penghasilan yang terus menopang perekonomian banyak keluarga.
Kombinasi antara kekompakan sosial melalui PWP dan berkembangnya usaha mikro di Mandirejo menjadi gambaran nyata bahwa semangat gotong royong mampu berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pak Wo berharap nilai-nilai kebersamaan tersebut dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Yang penting itu kekompakan. Selama warga masih mau guyub, insyaallah dusun ini akan tetap hidup dan berkembang,” pungkas Pak Wo.
Kunjungan malam itu menjadi bukti bahwa di balik kesederhanaan sebuah dusun tersimpan semangat gotong royong, kepedulian sosial, serta kemandirian ekonomi yang terus dijaga oleh masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting bagi kemajuan dusun di masa mendatang.
Penulis : Fadillah Nursita
