IAINUonline – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban menggapi potensi ekonomi lokal di Desa Pakis. Salah satunya dengan menyambangi pabrik tahu di desa setempat. Ini dilakukan untuk mengenal potensi usaha lokal sekaligus memahami proses produksi dan tantangan yang dihadapi pelaku UMKM.

Rudi pemilik pabrik yang didatangi mahasiswa menjelaskan, usaha tahu tersebut mulai dirintis pada tahun 2011. Awalnya, kapasitas produksi mampu mencapai 3–4 kuintal kedelai per hari. Namun, sejak pandemi Covid-19, permintaan pasar mengalami penurunan sehingga produksi hanya berkisar 1 kuintal per hari.

‘’Pada masa tersebut, usaha bahkan sempat mengalami kerugian hingga sekitar Rp200 ribu per hari,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa bahan baku yang digunakan merupakan kedelai impor dari Amerika Serikat yang diperoleh melalui pengepul di Kecamataan Rengel. Menurutnya, penggunaan kedelai impor dipilih untuk menjaga kualitas produk.

‘’Kedelai lokal menghasilkan tahu dengan tekstur kulit yang lebih alot ketika digoreng, sedangkan kedelai impor menghasilkan tahu yang lebih lembut, tahan lama, dan memiliki kualitas yang lebih konsisten,’’ terangnya.

Selain pemilihan bahan baku, lanjut di, kebersihan selama proses produksi menjadi faktor penting dalam menjaga mutu tahu. Dalam aspek pemasaran, Rudi menjelaskan ada enam penjual keliling yang memasarkan tahu secara langsung kepada masyarakat, serta empat pedagang yang datang ke pabrik untuk mengambil produk.

‘’Selain itu, hasil produksi juga disetorkan setiap hari ke beberapa pasar, yaitu Pasar Klotok, Prambon, dan Rengel,” ujarnya.

Mengenai proses pembuatan tahu, Ia menerangkan bahwa kedelai terlebih dahulu direndam hingga mengembang, kemudian dicuci bersih sebelum digiling hingga menjadi bubur. Selanjutnya bubur kedelai direbus, disaring untuk diambil sari tahunya, lalu ditambahkan cuka tahu sebagai bahan penggumpal hingga terbentuk tahu siap cetak.

Rudi menjelaskan bahwa limbah produksi berupa ampas tahu tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sehingga memberikan nilai manfaat bagi masyarakat sekitar sekaligus mengurangi limbah.

Saat ini pabrik memiliki tujuh orang karyawan, terdiri atas empat pekerja aktif dan tiga pekerja cadangan. Jam kerja dimulai sekitar pukul 07.30 hingga 13.00 WIB. Upah pekerja berkisar Rp90.000 per hari ketika produksi menurun, dan dapat mencapai Rp100.000 atau lebih apabila permintaan sedang meningkat.

Dalam menjalankan usaha, biaya produksi juga menjadi perhatian. Pemilik menyampaikan bahwa kebutuhan kayu bakar untuk proses perebusan menghabiskan biaya sekitar Rp150.000 per hari, sedangkan penggunaan solar sekitar lima liter per hari, bahkan lebih banyak ketika volume produksi meningkat.

Selain itu, Rudi mengungkapkan bahwa salah satu kendala yang masih sering dihadapi adalah kualitas kedelai yang diterima terkadang tidak sesuai dengan pesanan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi hasil produksi sehingga diperlukan ketelitian dalam memilih dan memeriksa bahan baku.

Sebelum memulai usahanya, ia belajar membuat tahu dari keluarga istrinya di Kediri, yang telah lebih dahulu mengembangkan usaha produksi tahu kuning. Berbekal pengalaman dan ilmu yang diperoleh, usaha tersebut kemudian dirintis di Desa Pakis. Pembangunan pabrik dilakukan secara bertahap dan baru selesai sepenuhnya setelah sekitar enam tahun.

Dari wawancara ini, mahasiswa KKN IAINU Tuban memperoleh wawasan mengenai perjalanan usaha, proses produksi, strategi menjaga kualitas, hingga berbagai tantangan yang dihadapi pelaku industri tahu. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus mendorong kepedulian mahasiswa terhadap pengembangan UMKM sebagai salah satu potensi ekonomi di Desa Pakis.

‘’Pengembangan ekonomi masyarakat sangat penting, salah satunya denan mengembangkan UMKM dan potensi ekonomi lokal lainnya, ‘’ kata mahasiswa.

 

Penulis : Efa Lutfi Udma

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *