HADIR DI TUBAN : Sekjen LPTNU Dr.rer.pol. M. Faishal Aminuddin, S.S,. M.Si saat hadir di kampus Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban
IAINUonline – Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PBNU berharap ke depan para dosen di Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) semakin berkualitas dan bisa menjadi penemu-penemu atau menciptakan sesuatu.
‘’Mimpi LPTNU itu, dari PTNU nanti muncul dosen-dosen yang menemukan sesuatu, membuat sesuatu, meneliti sesuatu. Ini juga tantangan bagi IAINU ke depan. Didesain yang bagus mau seperti apa ke depan dan lakukan rencana pengembangan yang baik,’’ ujar Sekjen LPTNU Dr.rer.pol. M. Faishal
Aminuddin, S.S,. M.Si saat hadir di kampus Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban, Kamis (16/4/2026).
Fasihal Aminudin hadir di kampus IAINU untuk menjadi narasumber dalam Halalbihalal dan Penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Civitas Akademika IAINU Tuban dengan tema ‘Penguatan Peran Strategis Dosen dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi”. Acara digelar di aula KH. Hasyim Asy’ari IAINU Tuban.
Selain Raktor, acara dihadiri oleh Ketua dan Pengurus BPP IAINU, Senat, PCNU, para Wakil Rektor, Dekan, Kaprodi, Ketua Lembaga dan Unit serta para dosen dan staf.
Faishal Aminudin menjelaskan, tri dharma menjadi salah satu bagian penting bagi perguruan tinggi terkait keberadaannya. Bahkan, di LPTNU ada tambahan, bukan hanya tiga dharma.
‘’Karena menjadi dosen itu panggilan, bagaimana harus berkarya dan berkontribusi untuk membangun dan mencerdaskan masyarakat,’’ tambahnya.
Faishal lalu bercerita tentang perjalanan Imam Bukhari dalam tradisi keilmuannya. Salah satunya adalah pengembaraan Imam Bukhari untuk mendatangi dan menemui serta mewawancarai para perawi hadits dari berbagai negara.
‘’Apakah Imam Bukhari bikin proposal ? Tidak. Karena bagi Imam Bukhari yang dia lakukan adalah panggilan hati untuk melakukan penelitian tentang hadist. Yang dia dapat ditelaah lagi, didalami maknanya. Butuh sekitar 8 tahunan, sebelum kemudian kembali ke Bukhara dan menulis,’’ ungkapnya.
Butuh waktu lama dan tentu biaya yang tidak sedikit dalam tradisi keilmuan itu, namun tidak ada yang membiayai Imam Bukhari. Menurut Faishal, tidak ada jalan pintas untuk pinter.
‘’Dalam sains tidak bisa instan, ilmu pengetahuan itu akumulatif butuh, proses panjang, butuh interaksi, transformasi, inovasi dan lainnya. Maka menjadi dosen adalah manusia yang bermanfaat, dosen punya tanggungjawab yang diatur regulasi. Kalau ingin kaya jangan jadi dosen, karena dosen adalah panggilan hati,’’ sebutnya.
Jika dosen hanya ke kampus dan hanya mengajar, tanpa melakukan pengembangan keilmuan lainnya, maka ketika mahasiswanya keluar tak banyak tahu, karena tak banyak yang didapat. Dosen butuh riset-riset, penelitian dan pengembangan keilmuan lainnya.
‘’Munculkan pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja, karena pertanyaan yang bagus adalah kunci untuk melakukan riset. Lebih baik butuh waktu yang lama untuk menemukan kunci daripada lama menulis. Karena mengubah orang dari tidak tahu menjadi tahu itu bukan pekerjaan mudah,’’ katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, tantangan dosen di era digital makin kompleks. Saat ini sudah bukan waktunya hafalan, karena banyak hal bisa ditanyakan ke kecerdasan buatan atau AI. Sehingga, kalau tidak menyesuaikan akan ketinggalan. AI itu sebagai tool atau alat bantu.
‘’Tantangan lainnya adalah bagaimana membuat eksistensi kita relevan dengan perkembangan yang ada,’’ tuturnya.
Karena tantangan makin kompleks, maka harus mulai dicari ke depan tantangan IAINU itu apa? Kalau pengin jadi universitas dengan pendidikan umum, maka harus menambah ilmu-ilmu baru, atau apakah tetap fokus dengan ilmu-ilmu agama.
‘’Butuh mujtahid-mujtahid yang bisa menjadikan bangsa besar dan bisa berdiri dengan kaki sendiri. Semua bisa dilakukan dengan jalan membangun kesadaran bahwa pengembangan sains atau ilmu pengetahuan itu penting,’’ tandasnya.

Sebelumnya, Rektor IAINU Tuban Prof Dr. M.Syamsul Huda, S.Fil.I dalam sambutan selamat datangnya menyampaikan terimakasih atas kehadiran Sekjen LPTNU PBNU tersebut. Menurutnya, kehadiran Faishal Aminudin merupakan anugerah yang luar biasa bagi IAINU, di tengah kesibukannya Faishal.
‘’Mohon bimbingan untuk membaca strategi, bagaimana IAINU bukan hanya ada tapi bisa eksis. IAINU usianya sudah cukup lama, sudah 37 tahun dan kami rasakan energi untuk terus maju sangat terasa,’’ katanya.
IAINU, lanjutnya, saat ini mulai mengembangkan bukan sekadar teacher learning atau pembelajaran, namun sudah melangkah melakukan sesuatu yang langsung berhubungan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Hasilnya, menurut Prof Syamsul sudah cukup terasa. Misalnya IAINU Tuban naik dari posisi 20 ke 10 di jajaran PTNU. Dan di Tuban dari tidak kelihatan sekarang peringkat satu menurut salah satu survei.
‘’Kami laksanakan setiap hari dosen harus nulis opini, juga kebijakan one semester one artikel, sudah mulai jalan, yang langganan Sinta 2 juga mulai banyak. Harapannya naik level lagi, bukan hanya nasional, tapi lebih tinggi lagi, ke international,’’ harapnya.
Karena itu, IAINU juga concern ke internasional, salah satunya dengan melakukan percepatan tindaklanjut MoU yang sudah dicapai dengan negara lain. Ke depan bakal ada riset kolaboratif atau pertukaran mahasiswa baik dalam akademik maupun pengabdian masyarakat.
‘’Mahasiswa juga mulai berprestasi baik lokal maupun nasional. Ini sesuatu yang harus kita syukuri. Bagian pentingnya adalah bagaimana peran strategis dosen di sana,’’ sebutnya.
Ke depan, lanjutnya, bagaimana membangun masyarakat dengan nilai-nilai agama yang kental, namun juga dikolaborasikan dengan sains atau ilmu pengetahuan.
‘’Harapannya semangat terus tumbuh, kami akan terus mengawal, tahun ini mulai melaksanakan penguatan-penguatan masyarakat secara langsung bukan sekadar teori,’’ tandasnya.
Sedang Ketua BPP IAINU Tuban KH.Miftahul Asror berpesan melalui salah satu ayat Al-Quran yang dibacanya. Yang salah satu kalimatnya mengandung pesan janganlah seseorang mengikuti sesuatu yang tak punya pengetahuan tentang hal yang diikuti itu, atau jangan mengatakan sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentangnya.
‘’Maka dosen hukumnya wajib selangkah lebih maju dibanding yang lain dalam mengetahui sesuatu. Dalam Al-Quran dinyatakan dengan jalan mendengarkan, membaca atau mengamati untuk bisa meraih ilmu. Maka karya ilmiah dan kajian-kajian bagi dosen tak boleh ditawar. Kami berharap capaian yang sudah dilakukan bersama-sama bisa terus dirawat dan dijaga,’’ pesannya.
