IAINUonline – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan biasanya. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pola iklim tahun ini menunjukkan adanya anomali yang dapat memperburuk kondisi kekeringan. Berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau diperkirakan mulai April dan berlangsung hingga September 2026.

“Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal, sehingga curah hujan berada pada kategori rendah. Artinya, kondisi tahun ini akan lebih kering dibandingkan normal,” ujarnya dalam Rakornas Pengendalian Karhutla di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Meski saat ini fenomena ENSO masih berada pada fase netral, BMKG memperkirakan adanya pergeseran menuju El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026, dengan peluang mencapai 50–80 persen. Kondisi tersebut berpotensi memperparah kekeringan apabila terjadi bersamaan dengan musim kemarau.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Namun jika terjadi bersamaan, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” jelasnya.

Data BMKG juga menunjukkan peningkatan jumlah titik panas (hotspot) sejak awal tahun. Hingga awal April 2026, tercatat 1.601 titik panas di Indonesia ini menunjukkan indikasi awal meningkatnya potensi kebakaran.

Faisal memaparkan, potensi kebakaran diperkirakan mulai meningkat di Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan. Memasuki Juli hingga Agustus, risiko bergeser ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Ancaman karhutla pada 2026 semakin relevan jika melihat tren tiga tahun terakhir yang fluktuatif, bahkan sempat melonjak tajam. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2023 luas karhutla mencapai sekitar 1,16 juta hektare, menjadi salah satu yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Kemudian pada 2024 turun  menjadi sekitar 376 ribu hektare dan 2025 luasan karhutla kembali turun menjadi sekitar 213 ribu hektare.

Sedangkan dari sisi kejadian bencana, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pada 2024 terdapat sekitar 629 kejadian karhutla di berbagai daerah. Sedang pada 2025 jumlah meningkat menjadi 1.329 kejadian, menjadikan karhutla sebagai salah satu bencana terbanyak setelah banjir.

Sementara itu, sistem pemantauan hotspot nasional (SiPongi KLHK) juga menunjukkan aktivitas titik panas tetap muncul setiap tahun, bahkan mencapai puluhan ribu titik pada periode puncak musim kemarau .

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa dinamika iklim global, khususnya ENSO, menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut. Pemanasan di wilayah Niño 3.4 berpotensi menekan pembentukan awan hujan di Indonesia.

Ia menambahkan, periode kritis karhutla diperkirakan terjadi mulai Mei hingga September, dengan puncak pada Agustus hingga September.

“Dalam sepekan ke depan masih terdapat potensi hujan di beberapa wilayah rawan. Ini menjadi window of opportunity untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sebelum kondisi semakin kering,” ujarnya.

Dengan tren kebakaran yang masih tinggi dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan masyarakat diimbau tidak lengah. Kesiapsiagaan sejak dini, pengelolaan sumber air, serta pencegahan pembakaran lahan menjadi kunci menghadapi kemarau 2026 yang diprediksi lebih ekstrem.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *