Oleh : Sri Wiyono

IAINUonline – Kemajuan teknologi, khususnya media sosial (medsos) sepertinya bisa banyak mereduksi amal saleh kita. Atau, bahkan jangan-jangan justru menjadikan kita menabung dosa, karena tak sengaja menyinggung orang lain. Gegara hobi upload atau mengunggah beragai hal di media sosial.

Seolah kita wajib ‘melaporkan’ apa yang sedang kita kerjakan, kita ada di mana, bersama siapa dan bahkan apa yang kita makan pada dunia maya, barangkali tanpa berfikir agak panjang mengenai dampak atas ‘laporan’ tersebut. Sekadar iseng, sekadar seru-seruan.

Ketika tetiba ada pihak yang tersakiti dengan unggahan-unggahan kita di media sosial, apa kita tidak mintai pertanggungjawaban di akhirat kelak? Wong unggahan saya di media sosial saja langsung dimintai pertanggungjawaban di dunia kok.

Ceritanya begini : pada Ramadan ke-15, saya diundang buka puasa bersama bareng kawan-kawan yang lain. Bukan sekadar buka puasa, karena sebelumnya ada sedikit rangkaian acara. Sambil menunggu bedug Magrib, saya iseng posting gambar ‘es podeng’ di WA story saya.

Penampakan es podeng itu memang sangat menarik. Menggiurkan. Apalagi bagi yang sudah menahan lapar dan haus seharian. Komposisi warna dalam foto es podeng itu memang menggoda.

Potongan puding dua warna berbentuk itu terlihat elegan berenang di dalam kuah berwarna merah cerah. Hijau kolang-kaling, kuning keemasan nanas dan putih agak keruh nata decoco bertengger manis di atas piring kemarik putih bersih. Secara visual menarik hehehe….dan, tidak salah ketika ada yang membayangkan kesegerannya.

Tapi, sungguh kala itu saya tidak berniat pamer, niatnya untuk membantu istri saya, karena es podeng itu adalah salah satu produk tangan terampil istri saya di bulan Ramadan ini. Kebetulan es podeng itu banyak disukai pelanggan. Ya, istri saya menjual es podeng itu, bahkan banyak yang memesan secara online.

’Segere Mas,’’ salah satu pesan WA masuk. Maka bertubi-tubi kemudian pesan WA masuk handphone saya membahas gambar es podeng itu. Rerata bertanya, ada yang menyindir  postingan itu. Yang kemudian bertanya dan pesan di mana juga ada.

Bahkan, ada yang telat komentar,  besok paginya baru membahas es podeng unggahan saya semalam.

‘’Jam segini kok sudah membahas podeng,’’ balas saya pada kawan yang komentar soal es podeng itu keesokan harinya.

‘’Lha baru lihat storynya kok, kok terlihat seger es podengnya,’’ balas kawan saya itu tak kalah. Lalu, hanya emoticon ngakak balasan saya ke dia.

Postingan itu langsung mendapat balasan instan. Lalu, kalau misalnya postingan itu tidak sengaja menyinggung orang lain bagaimana? Jika ada pihak yang menganggap saya pamer, dan bahkan menganggap saya (mohon maaf) menertawakan nasibnya yang kesulitan memenuhi buka puasanya misalnya, karena memang tidak ada yang harus dimakan untuk buka puasa, apa tidak dosa saya ini. Ah, begitu mudahnya menabung dosa dengan langkah kecil di medsos ternyata.

Padahal, kita selama ini sangat hobi posting di media sosial atas banyak kegiatan yang dilakukan. Bahkan beribadah saja sering diunggah. Juga  berbuat baik lainnya. Jalan-jalan, healing, belanja, rekreasi, atau makan-makan bahkan seoran wajib ‘dilaporkan’ke pemirsa.

Ketika di warung misalnya, saat pesanan datang, sebelum mulai makan, kita keluarkan handphone, memotret menu pesanan kita dari berbagai angel, lalu memosting di media sosial.

Dan, ini jamak dilakukan. Kalau misalnya postingan itu menyakiti orang lain yang kebetulan belum makan, atau belum berbuka puasa karena memang tidak ada yang harus dimakan, apa nggak dosa kita.

Saat ini, dengan massifnya media sosial, batas antara peduli dengan pamer atau riya, kayaknya hanya sekulit ari, sangat tipis. Setiap aktivitas kita seolah harus diunggah di media sosial. Harus diketahui orang, harus dikomentari orang lain. Harus divalidasi dan sebagainya.

Pada momen Ramadan kayak ini misalnya, bertebaran postingan di media sosial berbagai kegiatan membagikan takjil. Tentu saja lengkap dengan foto dan video keseruan kegiatan yang dilakukan.

Semoga saja niatnya tidak untuk pamer, tapi benar-benar membantu. Dan, unggahan di media sosial diniatkan untuk menggugah pihak lain agar melakukan kegiatan yang sama, sehingga semakin banyak yang mendapat manfaat.

Media sosial dan teknologi sering menjebak kita pada sikap asosial, atau tidak peka. Kelakuan yang kita anggap lumrah, tapi belum tentu bagi orang lain. Tak jarang marah menyinggung halus.

Saya jadi teringat kisah adik tingkat saya ketika kuliah dulu. Bahwa sejak punya kulkas di rumahnya, dia merasa keluarganya makin pelit. Sedangkan di lingkungannya, keluarga kawan saya ini dikenal baik dan dermawan.

Rumahnya di kampung, jauh dari pusat kota. Lingkungan di rumahnya sejuk karena masih banyak pepohonan dan hamparan sawah serta kebun. Suatu saat, kawan-kawan kuliah diajak ke kampungnya. Di iming-imingi jeruk petik langsung di kebunnya.

Saya bersama beberapa kawan pun datang ke kampungnya. Karena mau kedatangan tamu, dia menyiapkan berbagai makanan. Bahkan, kami serombongan tak sanggup menghabiskan makanan yang disediakan itu.

‘’Gak apa-apa simpan di kulkas saja,’’ ujar salah satu kawan saya.

Dan, kawan pemilik rumah itu menjawab;

‘’Iya, sejak punya kulkas sendiri rasanya kok saya makin pelit ya,’’ katanya.

‘’Kenapa begitu?’’ tanya saya ikut terlibat obrolan.

’Iya, karena sekarang kalau ada makanan yang tidak habis bisa disimpan di kulkas. Kalau dulu sebelum punya kulkas, kalau kira-kira kami tidak akan bisa menghabiskan makanan itu sendiri, maka akan dibagi-bagikan ke tetangga,’’ jawabnya.

Saya seketika tertegun kala itu. Keluarga teman saya ini yang di kampungnya sudah dikenal dermawan, dan dia masih punya pemikiran seperti itu. Kisah ini membekas di benak saya. Dan, kisah itu sudah terjadi lebih 20 tahun lalu, dan saya masih mengingatnya.

Barangkali kawan saya itu sudah lupa, dan kalaupun masih ingat, dan kebetulan membaca tulisan ini, mungkin dia akan senyum-senyum sendiri.

Poinnya, setiap situasi dan kondisi bisa mengubah cara berfikir kita, cara kita bersikap dan cara kita memperlakukan orang lain. Termasuk fasilitas yang kita miliki juga ada potensi untuk mengubah cara kita memandang orang lain.

Semoga kita selalu dijauhkan pada sikap yang tak peduli orang lain. Terlebih selama Ramadan, karena bukan hanya harus menjaga hubungan dengan Allah, namun ada kesalehan sosial yang harus terus dipupuk dan dijaga. Wallahu a’lam.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *