IAINUonline – Masyarakat nelayan Desa Palang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, hingga kini masih melestarikan tradisi Sedekah Laut atau yang dalam bahasa lokal dikenal sebagai ‘manganan segoro’. Tradisi ini menjadi momentum penting bagi warga pesisir untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki hasil laut yang melimpah serta keselamatan selama melaut.

Ketua Rukun Nelayan (RN) Desa Palang, Fuad Nafi’uddin, menjelaskan bahwa sedekah laut merupakan tradisi yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir.

“Tradisi ini pada dasarnya adalah ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang melimpah sekaligus doa agar para nelayan selalu diberi keselamatan,” ujarnya.

Berakar dari Tradisi Leluhur

Secara historis, sedekah laut di Desa Palang telah ada sejak zaman leluhur. Pada masa lampau, tradisi ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada roh laut. Namun, seiring masuk dan berkembangnya agama Islam, pelaksanaan sedekah laut mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai keislaman.

“Kini sedekah laut diawali dengan doa bersama, sehingga nuansanya lebih islami dibandingkan masa lalu yang cenderung mistis,” tambah Fuad.

Hal senada disampaikan oleh As’ad, Kepala Desa Palang. Ia menyebutkan bahwa tradisi sedekah laut sudah berlangsung sejak sebelum masa kemerdekaan dan diteruskan oleh lurah pertama Desa Palang. Tradisi ini semakin menguat karena pada masa itu hasil tangkapan ikan masyarakat sangat melimpah.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Sedekah laut Desa Palang dilaksanakan setiap bulan Ruwah, tepatnya pada hari Senin Wage atau Senin Pahing. Menurut Kepala Desa Palang, pelaksanaan tidak dapat dilakukan di luar hari tersebut karena sudah menjadi ketentuan adat yang disepakati secara turun-temurun.

Kegiatan ini dipusatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Palang dan area sekitar pantai. Acara utama berlangsung selama satu hari, namun rangkaian persiapan dan hiburan dapat berlangsung hingga satu minggu.

Prosesi Sedekah Laut

Prosesi sedekah laut diawali dengan persiapan sesaji berupa kepala sapi, tumpeng, dan perlengkapan lainnya yang diletakkan di ancak bambu atau miniatur kapal hias. Setelah itu dilaksanakan doa bersama sebagai permohonan keselamatan dan keberkahan.

Selanjutnya, warga mengikuti kirab larung sesaji yang kemudian dilarungkan ke laut menggunakan miniatur kapal. Setelah prosesi utama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kenduri atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan warga.

Acara sedekah laut juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan rakyat seperti ketoprak, ludruk, wayang kulit, orkes campursari, hingga salawatan, serta ditutup dengan pengajian dan santunan anak yatim.

Makna Simbolik

Setiap tahapan dalam sedekah laut memiliki makna mendalam. Doa bersama menjadi simbol permohonan keselamatan, pelarungan sesaji sebagai ungkapan syukur atas rezeki laut, sementara kenduri mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat Desa Palang.

Kepala sapi yang digunakan sebagai sesaji dimaknai sebagai simbol kekuatan, sedangkan tumpeng melambangkan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan.

Pelestarian Budaya Lokal

Meski mengalami perubahan dari masa ke masa, sedekah laut tetap dipertahankan sebagai warisan budaya leluhur. Perbedaan yang mencolok antara dulu dan sekarang terletak pada nuansa pelaksanaan yang kini lebih religius dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Tujuan utama sedekah laut adalah menjaga tradisi nenek moyang sekaligus mempererat kebersamaan warga Desa Palang,” ujar Kepala Desa Palang.

Tradisi sedekah laut menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat pesisir Desa Palang masih hidup dan relevan, tidak hanya sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat nelayan.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *