Oleh : Didik Nur Ikhsan

IAINUonline – Bergeserlah pandangan kita ke sudut paling belakang, area yang jarang tersentuh sinar matahari langsung. Tempat di mana rumpun Lidah Mertua tumbuh berdampingan dengan beberapa tanaman perdu liar.

Tanaman-tanaman di sudut ini memiliki karakter yang sangat berbeda dengan sang mawar atau si bibit baru. Mereka adalah tipe pekerja keras yang mandiri. Tanpa perlu disiram setiap jam, tanpa perlu merengek minta pupuk mahal, mereka tumbuh tegak, menyerap polusi udara, memperkuat struktur tanah, dan menjalankan fungsi hidupnya dengan sangat lempeng tanpa banyak drama.

Mereka tidak tahu cara merayu sang pemilik kebun, tidak tahu cara meliuk-liuk indah mengikuti arah angin, dan jujur saja, tidak punya waktu untuk berbasa-basi di beranda depan.

Namun, di sinilah letak ironi yang paling menohok. Karena mereka dianggap kuat, mandiri, dan selalu bisa diandalkan, standar ganda yang kejam mulai diberlakukan kepada mereka.

Suatu sore, ketika sang pemilik kebun sedang berkeliling membawa kaca pembesar, matanya tertuju pada satu helai daun lidah mertua yang ujungnya sedikit menguning.

Bukan karena busuk, melainkan karena gesekan alami dengan dinding pagar yang sudah tua. Seketika itu juga, suasana berubah drastis. Sudut pekarangan yang biasanya tenang itu mendadak gaduh.

“Coba lihat ini!” seru sang pemilik kebun dengan nada tinggi, memanggil siapa saja yang lewat di dekat pagar.

“Daunnya menguning! Ini pasti karena dari dulu akarnya malas menyerap zat hara dengan benar. Kamu ini kerjanya apa saja sih? Tanaman lain subur, kenapa punyamu selalu ada saja cacatnya?”

Daun yang menguning itu dibedah, diperbesar masalahnya, dan dihubungkan dengan kesalahan-kesalahan kecil dari tiga musim panen yang lalu. Sang pemilik kebun mendadak menjadi detektif ulung yang sangat teliti dalam mencari-cari remah-remah noda.

Padahal, jika ditarik garis lurus ke belakang, rumpun lidah mertua itu sudah menyelamatkan estetika sudut pekarangan tersebut selama bertahun-tahun tanpa pernah sekalipun menuntut pujian. Tanpa pernah rewel, dan tanpa pernah mendapat satu teguk pun air apresiasi khusus.

Ketika mereka tumbuh sempurna, itu dianggap sebagai hal yang sudah semestinya, tidak perlu ada tepuk tangan, tidak perlu ada ucapan terima kasih. Tapi begitu ada satu saja noda sekecil semut, seluruh hidup mereka seolah didiskreditkan seakan-akan mereka adalah hama yang merugikan.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *