Oleh : Irfa’i Alfian Mubaidilla

IAINUonline

Ada alasan, mengapa banyak orang rela menghentikan langkah hanya untuk menatap senja. Langit yang perlahan berubah warna,

Matahari yang tenggelam tanpa suara,

Semburat jingga yang memeluk cakrawala,

Menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Senja tidak pernah memilih siapa yang boleh menikmatinya,

Ia hadir untuk semua orang,

Untuk mereka yang sedang bahagia,

Yang sedang lelah,

Yang sedang jatuh cinta, bahkan yang sedang berusaha mengikhlaskan sesuatu.

Senja diciptakan Tuhan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dinikmati.

Namun, keindahan senja sesungguhnya bukan terletak pada warna langit semata. Keindahan itu lahir dari cara setiap orang memandangnya. Ada yang melihatnya sebagai akhir dari hari yang melelahkan.

Ada pula yang melihatnya sebagai pertanda bahwa esok masih ada harapan baru. Langit yang sama, pemandangan yang sama, tetapi makna yang berbeda.

Begitulah hidup mengajarkan kita tentang sudut pandang. Menjadi guru pun demikian.

Banyak orang melihat profesi guru dari luar. Mereka melihat tumpukan administrasi, perangkat pembelajaran yang harus disiapkan, rapat yang seolah tidak pernah selesai, tugas yang terus berdatangan, hingga tanggung jawab besar membentuk karakter generasi masa depan. Tidak sedikit yang berkata, “Menjadi guru pasti melelahkan.” Dan mereka tidak sepenuhnya salah.

Menjadi guru memang melelahkan,

Ada hari ketika tubuh terasa letih,

Suara mulai serak karena mengajar sejak pagi,

Pikiran dipenuhi berbagai target pembelajaran,

Bahkan hati terkadang diuji oleh berbagai karakter peserta didik.

Tetapi, jika semua itu adalah langitnya, maka senyum murid adalah senjanya.

Setiap pagi, sebelum bel pertama berbunyi, selalu ada wajah-wajah kecil yang datang membawa cerita baru. Ada yang berlari sambil tersenyum, ada yang melambaikan tangan dari kejauhan, ada yang dengan polos berkata, “Pak, Bu, saya kangen belajar hari ini.”

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun bagi seorang guru, itulah energi yang sulit dicari penggantinya. Karena sejatinya, guru tidak hanya datang untuk mengajar. Guru datang untuk bertemu.

Bertemu dengan harapan-harapan kecil yang sedang tumbuh.

Bertemu dengan impian yang masih belajar mengeja masa depan.

Bertemu dengan hati-hati yang sedang mencari arah kehidupan.

Setiap murid membawa warna yang berbeda, sebagaimana senja yang tidak pernah menghadirkan langit yang sama setiap hari. Ada murid yang aktif dan penuh rasa ingin tahu.

Ada yang pendiam, tetapi diam-diam menyimpan potensi luar biasa. Ada yang sering membuat kelas riuh, tetapi sebenarnya hanya sedang mencari perhatian. Ada pula yang datang dengan membawa luka yang tidak pernah mereka ceritakan.

Tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan belajar melihat keindahan dari setiap warna itu.

Sebab tidak semua bunga mekar pada musim yang sama.

Tidak semua anak belajar dengan kecepatan yang sama.

Dan tidak semua senja memancarkan warna yang serupa.

Di situlah guru belajar menikmati proses, bukan sekadar mengejar hasil.

Sering kali kita mengira kebahagiaan seorang guru datang ketika muridnya memperoleh nilai sempurna atau memenangkan perlombaan. Padahal kebahagiaan itu justru sering hadir dari hal-hal yang tampak sederhana.

Ketika murid yang dahulu pemalu akhirnya berani mengangkat tangan.

Ketika anak yang sebelumnya tidak bisa membaca akhirnya mampu mengeja satu kalimat.

Ketika murid yang pernah melakukan kesalahan datang meminta maaf dengan tulus.

Ketika mereka menyapa kita di luar sekolah dengan senyum yang sama hangatnya.

Momen-momen kecil itu mungkin tidak pernah masuk dalam laporan penilaian. Tidak tercetak dalam rapor. Tidak menjadi data statistik pendidikan. Tetapi justru di sanalah letak keindahan profesi seorang guru. Seperti menikmati senja, tidak ada yang bisa mengukur keindahan itu dengan angka. Kadang saya berpikir, mungkin Tuhan sengaja mempertemukan guru dengan murid setiap hari agar kami tidak pernah kehilangan alasan untuk percaya bahwa dunia selalu memiliki harapan.

Sebab setiap senyum murid adalah pengingat bahwa pendidikan masih memiliki masa depan.

Setiap sapaan mereka adalah doa yang tidak terucapkan.

Setiap tawa mereka adalah obat bagi lelah yang sering kali tidak terlihat.

Dan setiap pertemuan di ruang kelas adalah kesempatan baru untuk menjadi manusia yang lebih baik bukan hanya bagi murid, tetapi juga bagi gurunya. Guru sering dianggap sebagai sosok yang memberi. Padahal dalam kenyataannya, guru juga banyak menerima.

Kami menerima pelajaran tentang kesabaran dari murid yang sulit diatur.

Kami menerima pelajaran tentang keikhlasan dari anak-anak yang tetap berusaha meski memiliki keterbatasan.

Kami menerima pelajaran tentang semangat dari mereka yang datang ke sekolah dengan wajah ceria meskipun hidupnya tidak selalu mudah.

Mereka mungkin tidak menyadarinya, tetapi setiap hari murid juga sedang mendidik gurunya. Maka, jika suatu hari ada yang bertanya mengapa banyak guru tetap bertahan meski tantangan pendidikan semakin besar, mungkin jawabannya sesederhana ini. Karena setiap pagi selalu ada senja yang menunggu, bukan di langit, melainkan di dalam ruang kelas.

Senja memang sebuah pemandangan. Namun, keindahan sesungguhnya adalah mereka yang membuat kita ingin terus menatapnya. Bagi seorang guru, keindahan itu bukan hanya terletak pada indahnya matahari yang tenggelam di ufuk barat.

Keindahan itu hadir dalam langkah-langkah kecil menuju kelas.

Dalam suara riuh yang memenuhi ruang belajar.

Dalam tawa yang pecah saat proses belajar berlangsung.

Dalam mata-mata yang berbinar ketika akhirnya memahami sebuah pelajaran.

Dan terutama, dalam senyum tulus murid-murid yang selalu berhasil menghadirkan energi baru, bahkan ketika dunia terasa begitu melelahkan.

Karena pada akhirnya, senja hanyalah pemandangan. Sedangkan kalian, murid-muridku, adalah keindahan yang membuat setiap hari layak untuk diperjuangkan.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *