Oleh : Isnawati Nur Afifah Latief
Iduladha bukan hanya perayaan tahunan yang identik dengan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban. Hari besar ini syarat makna spiritual dan sosial. Jka dipahami secara mendalam, makna ini mampu membentuk karakter muslim yang ikhlas, tangguh, dan penuh kasih terhadap sesama.
Iduladha berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Islamil AS, yang menunjukkan kepatuhan dan keikhlasan luar biasa terhadap perintah Allah SWT. Dalam Al Quran, Allah SWT berfirman :
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
(QS. Ash Shaffat: 102)
Kisah ini mengajarkan bahwa pengorbanan tidak selalu bermakna fisik, tetapi juga mengorbankan ego, ambisi, bahkan kenyamanan demi meraih ridha Allah. Di era modern yang penuh kompetisi dan individualisme, semangat ini sangat relevan untuk diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.
Keikhlasan, Inti dari Ibadah
Pengorbanan Nabi Ibrahim AS tidak mungkin terjadi tanpa pondasi keikhlasan yang kokoh. Dalam ibadah kurban pun, Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah, melainkan keikhlasan kita:
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.”
(Al Hajj: 37)
Ini menjadi refleksi bahwa setiap amal, baik itu ibadah maupun kerja social, harus dilandasi dengan keikhlasan dan pengharapan hanya kepada Allah.
Salah satu dimensi penting dalam Iduladha adalah berbagi dengan sesama melalui pembagian daging kurban. Ini bukan hanya bentuk ibadah, tapi juga praktik nyata dari nilai solidaritas social yang diajarkan Islam.
Di tengah ketimpangan ekonomi dan meningkatnya angka kemiskinan, semangat Iduladha hadir sebagai penyegar hati dan penguat ikatan sosial. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga harus dibagikan.
Iduldha sejatinya bukan sekedar ritual tahunan, melainkan momentum muhasabah. Sejauh mana kita telah berkurban dalam hidup ini. Bukan hanya harta, tetapi waktu, tenaga, bahkan perasaan, demi hal-hal yang lebih utama; keluarga, dakwah, ilmu, dan pengabdian?
Melalui ibadah kurban, kita diajak untuk bertanya, apakah kita sudah sepenuhnya tunduk kepada Allah, sebagaimana Nabi Ibrahim dan Ismail? Apakah kita mampu menyingkirkan hal-hal duniawi yang kita cintai melebihi kecintaan kepada Allah?
Iduladha bukan hanya hari raya, tetapi juga cermin nilai luhur dalam Islam: pengorbanan ketundukan, keikhlasan, dan kepeduliah. Menghidupkan semangat ini dalam keseharian adalah tantangan sekaligus peluang bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga kuat secara moral dan sosial.
Semoga hikmah Idul Adha tidak berhenti pada penyembelihan hewan kurban semata, tetapi berlanjut dalam pengorbanan kita untuk hidup yang lebih bermakna, demi meraih ridha Allah SWT.(*)
