IAINUonline – Menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak tidak cukup hanya dengan memiliki kecerdasan akademik. Sebagai khalifah di bumi, manusia memiliki amanah untuk menjaga, merawat, dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.

Semangat inilah yang menjadi landasan hadirnya Program ECO Pesantren melalui penguatan Khalifah Green Behavior. ECO Pesantren dirancang sebagai sebuah program pendidikan lingkungan yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.

Program ini tidak berhenti pada kegiatan kebersihan atau penghijauan semata, tetapi dirancang melalui kurikulum dan modul pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kesadaran ekologis, perubahan perilaku, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan.

“Eco Pesantren ini sebagai amanah yang tidak bisa ditolak karena dalam rangka mengimpelemntasikan hadits annadhafatu minnal iman,’’ ujar DR. KH. M. Hasib Wahab Chasbullah Majlis Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Sementara pengasuh lainnya, KH. Abdurrozaq Sholeh menegaskan santri diharapkan mampu memahami, bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari menjalankan amanah sebagai khalifah fil ardh. Kesadaran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari.

‘’Seperti mengurangi sampah, memilah dan mengelola sampah, menghemat air dan energi, menjaga kebersihan, serta menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab,” tambahnya.

Sedang Dewan Pakar Eco Pesantren, Evi Fatimatur Rusydiyah menambahkan, melalui kurikulum dan modul ECO Pesantren, santri akan mendapatkan pengalaman belajar yang mendorong mereka memahami hubungan antara manusia, alam, dan keberlanjutan.

‘’Pendidikan lingkungan diarahkan tidak hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi membangun kesadaran ekologis (ecological awareness) yang kemudian diwujudkan dalam perilaku nyata,’’ katanya.

Dengan pendekatan Khalifah Green Behavior, perubahan yang diharapkan bukan sekadar “tahu tentang lingkungan”, tetapi mau, mampu, dan terbiasa melakukan tindakan yang ramah lingkungan, begitu tambahnya.

Salah satu kekuatan program ECO Pesantren adalah memberikan ruang kepada santri untuk mengembangkan perilaku ekonomi kreatif melalui pemanfaatan sampah.

Santri tidak hanya diajak untuk melihat sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih memiliki nilai dan potensi untuk diolah.

Melalui kegiatan kreatif dan produktif, santri dapat belajar mengidentifikasi, memilah, mengolah, menciptakan produk, hingga memahami nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

‘’Pendekatan ini diharapkan membangun dua kesadaran sekaligus, yakani kesadaran ekologis dan kesadaran kewirausahaan,’’ ucap Nur Fitriyatin Yamin ai Dewan Pakar Eco Pesantren lainnya.

Sedang Mochammad Syafii, M.B.A salah satu tim ahli Dewan Pakar EcoPesantren menjelaskan, bahwa keberhasilan aspek ekonomi kreatif tersebut juga akan diukur secara terencana, sehingga program dapat melihat sejauh mana santri mampu mengembangkan produk atau aktivitas bernilai ekonomi dari pemanfaatan sampah.

‘’Pengukuran ini menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa ECO Pesantren menghasilkan perubahan yang nyata dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan,’’ jelasnya.

Untuk memastikan program berjalan secara sistematis, ECO Pesantren dikembangkan melalui perangkat pembelajaran yang mencakup kurikulum, modul, aktivitas pembelajaran, praktik lapangan, serta instrumen pengukuran keberhasilan.

Dr. Arif Mansyuri, S.Pd.I, M.Pd yang juga dewan pakar menambahkan, pengukuran tidak hanya melihat aspek pengetahuan santri, tetapi juga perkembangan kesadaran ekologis, perubahan perilaku, keterampilan pengelolaan lingkungan, kreativitas, serta kemampuan menghasilkan nilai ekonomi dari pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

‘’Dengan pendekatan tersebut, ECO Pesantren diarahkan menjadi sebuah model pendidikan lingkungan berbasis pesantren yang dapat dipantau perkembangannya, dievaluasi, dan terus disempurnakan,’’ tandasnya.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *