Cropped image of unrecognizable woman holding mala beads for prayer or meditation to keep track while chanting or repeating mantra, sitting on floor. People, religion and tradition concept


Oleh : Isniyatin Faizah

IAINUonline – Hidup di era modern sering kali terasa seperti berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus bertambah. Dua puluh empat jam sehari kerap terasa tidak cukup.

Tuntutan pekerjaan, tenggat waktu, urusan keluarga, hingga hiruk-pikuk dunia, baik bisingnya suara di kota besar maupun ramainya notifikasi di gawai menjadi santapan sehari-hari yang seakan menyedot seluruh energi fisik dan mental kita.

Di penghujung hari, kita sering merasa “kosong”: fisik lelah, pikiran ruwet, dan hati hampa. Ironisnya, kita kerap menganggap bahwa beristirahat cukup dengan tidur atau sekadar scrolling media sosial. Padahal, yang sebenarnya membutuhkan penyegaran bukan hanya tubuh, melainkan juga jiwa.

Kekeruhan dunia bersumber dari keinginan yang tidak terbatas dan kebiasaan membandingkan diri yang seolah tidak ada habisnya. Kita merasa tidak cukup jika tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain, atau merasa tidak berharga jika tidak mendapatkan pengakuan.

Pikiran menjadi keruh karena terlalu sering memikirkan hal-hal di luar kendali kita. Akhirnya, hati pun menggelap karena cemas terhadap masa depan atau menyesali masa lalu.

Mengapa Zikir?

Zikir bukan sekadar menggerakkan lisan atau ritual setelah shalat. Zikir adalah sarana untuk menenangkan hati, menurunkan tingkat stres, dan membantu mengurangi kadar hormon kortisol yang meningkat akibat tekanan pekerjaan. Dalam konteks kesibukan modern, zikir berperan layaknya meditasi yang menghubungkan kembali seorang hamba dengan penciptanya. Sehingga melahirkan ketenteraman yang tidak selalu didapatkan dari sekadar beristirahat secara fisik.

Secara psikologis, zikir dapat dipahami sebagai terapi batin. Ia membantu mengosongkan pikiran dari berbagai permasalahan duniawi yang membebani, lalu mengalihkannya pada pengagungan nama-Nya.

Ketika kita mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, atau Allahu Akbar, kita sedang menanamkan kesadaran bahwa dunia ini terbatas, sementara Allah Maha Besar.

Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenteraman hati hanya dapat diraih dengan mengingat Allah (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). Dalam ayat lain, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk memperbanyak dzikir pada berbagai waktu sebagai bentuk kedekatan kepada-Nya (QS. Al-Ahzab [33]: 41–42).

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya dzikir dalam kehidupan seorang Muslim dengan mengibaratkan orang yang senantiasa berdzikir sebagai orang yang hidup, sedangkan mereka yang lalai dari dzikir seperti orang mati (HR. Bukhari dan Muslim).

Momen 1–2 Jam yang Berdampak Besar

Bayangkan, dari 24 jam yang kita miliki, kita menyisihkan 1–2 jam sebelum tidur, selepas Asar, atau di sepertiga malam untuk duduk tenang membaca istighfar, tasbih, tahmid, dan tahlil. Waktu ini sejatinya adalah sebuah investasi, bukan pemborosan.

Zikir membantu menyegarkan pikiran yang kusut, menyucikan hati dari kegelisahan, dan menciptakan ketenangan batin yang berdampak langsung pada kondisi fisik.

Menjadikan Dzikir sebagai Kebutuhan

Sering kali kita merasa tidak memiliki waktu. Namun, jika berjam-jam dapat kita habiskan untuk bekerja dan urusan dunia, mengapa satu jam untuk merawat diri terasa berat? Dengan zikir yang dilakukan secara rutin, hati menjadi lebih tenteram dan beban hidup terasa lebih ringan.

Tantangan terbesar memang terletak pada konsistensi. Namun, zikir tidak harus selalu dilakukan dalam keadaan duduk diam. Zikir dapat dilakukan sambil berjalan, berkendara, atau di sela-sela aktivitas. Membiasakan lisan dan hati untuk senantiasa mengingat Allah akan membentuk perisai batin dari kepanikan dan keputusasaan.

Di tengah dunia yang penuh kegaduhan, ketenangan sejati tidak ditemukan dengan menambah kecepatan langkah, melainkan dengan berani berhenti sejenak dan kembali mengingat Sang Pencipta. Zikir adalah kunci ketenangan itu. Hiruk-pikuk dunia boleh tetap terdengar, tetapi hati kita tetap terjaga.

Mari kita ubah pola pikir. Jangan menunggu waktu luang untuk berdzikir, tetapi luangkanlah waktu. Mengambil satu atau dua jam untuk berzikir adalah bentuk detoksifikasi mental dan spiritual yang paling sederhana, murah, dan bermakna. Dari hati yang tenang, akan lahir energi positif untuk menjalani hari esok dengan lebih kuat dan penuh harapan.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *