Oleh : Akhmad Aji Pradana, M.Pd.
IAINUonline – Hari ini, kita bisa memantau segala hal lewat pergelangan tangan. Dari jumlah langkah kaki hingga kualitas tidur, semuanya berubah jadi angka. Inovasi teknologi menjanjikan kita hidup lebih lama dan lebih sehat. Namun, ada ironi yang nyata: saat gadget kita makin “pintar”, kenapa tubuh kita justru terasa makin sering bermasalah?
Inilah dilema kesehatan di era digital – sebuah kondisi di mana teknologi membantu sekaligus menghambat kita secara perlahan.
- Jebakan “Mager” di Balik Kemudahan
Dahulu, teknologi diciptakan untuk membantu pekerjaan berat. Sekarang, teknologi membuat kita hampir tidak perlu bergerak sama sekali. Kita punya aplikasi untuk memesan makan, belanja, hingga bekerja tanpa harus beranjak dari kursi.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 1 dari 4 orang dewasa di dunia kurang gerak. Padahal, kurang aktivitas fisik ini adalah “pembunuh diam-diam” yang memicu penyakit gula (diabetes) dan gangguan jantung.
Kita terjebak dalam paradoks: kita membeli jam tangan mahal untuk menghitung langkah, tapi lingkungan digital kita justru mendesain kita untuk tetap duduk diam selama berjam-jam.
- Musuh Tersembunyi di Balik Layar: Cahaya Biru
Banyak dari kita yang merasa sudah tidur cukup, tapi bangun tetap merasa lelah. Masalahnya sering kali bukan pada durasi, tapi pada apa yang kita lihat sebelum memejamkan mata. Penelitian dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa cahaya biru dari layar HP atau laptop bisa mengacaukan “jam dalam tubuh” kita.
Cahaya ini menghambat munculnya rasa kantuk alami, sehingga otak kita merasa ini masih siang padahal sudah tengah malam. Akibatnya, kualitas istirahat menurun, konsentrasi buyar, dan dalam jangka panjang bisa merusak metabolisme tubuh yang memicu kegemukan.
- Stres Karena Angka (Obsesi Data)
Pernahkah Anda merasa cemas karena belum mencapai target “10.000 langkah” atau merasa gagal karena aplikasi tidur bilang istirahat Anda “buruk”? Para ahli kini mengenal istilah Orthosomnia, yaitu kondisi di mana seseorang justru jadi stres karena terlalu terobsesi mengejar angka sempurna di aplikasi kesehatannya.
Alih-alih mendengarkan alarm alami dari tubuh (seperti rasa pegal atau lelah), kita lebih percaya pada notifikasi di layar. Ketika kesehatan hanya dianggap sebagai angka di aplikasi, kita kehilangan hubungan alami dengan tubuh kita sendiri. Kita jadi terlalu bergantung pada mesin untuk tahu apakah kita sehat atau tidak.
- Mengembalikan Teknologi sebagai Pembantu, Bukan Majikan
Kesehatan jangka panjang bukan soal seberapa canggih alat yang kita pakai, tapi soal bagaimana kita menjaga keseimbangan. Teknologi seharusnya mempermudah hidup, bukan justru membuat kita lupa cara bergerak atau cara tidur dengan tenang.
“Teknologi adalah alat yang hebat untuk mengukur hidup, tapi ia bukan penentu kebahagiaan fisik kita.”
Masa depan kesehatan yang ideal adalah ketika kita bisa memanfaatkan data dari gadget tanpa harus menjadi “robot” yang dikendalikan oleh algoritma. Kita butuh jeda—waktu di mana kita meletakkan ponsel dan kembali bergerak secara alami.
Tubuh yang sehat dan inovasi teknologi, keduanya sama-sama anugerah asalkan kita punya kendali. Tentu saja, pilihan bijak kembali pada tangan kita masing-masing. Jangan sampai demi mengejar hidup yang serba efisien, kita justru kehilangan kekuatan fisik alami yang sudah diberikan alam kepada kita.
