Oleh : Ahmad Ainun Najib, S.Sos, M.A.
IAINUonline – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas hari ini. Siswa kini dapat menyelesaikan tugas, merangkum materi, bahkan menjawab soal esai hanya dalam hitungan detik melalui bantuan AI.
Di satu sisi, teknologi ini dipuji sebagai terobosan besar dalam pembelajaran. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran serius: apakah AI benar-benar membantu daya pikir siswa, atau justru melemahkannya secara perlahan?
AI sebagai Alat Bantu Belajar
Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa teknologi digital—termasuk AI—dapat meningkatkan kualitas pembelajaran jika digunakan secara tepat. Laporan OECD (2021) menegaskan bahwa AI berpotensi menjadi personalized learning tool yang mampu menyesuaikan materi dengan kebutuhan individual siswa.
Pendekatan ini dinilai efektif dalam membantu siswa dengan kesenjangan kemampuan akademik. Penelitian oleh Holmes et al. (2019) dalam jurnal Computers and Education (Scopus Q1) juga menunjukkan bahwa AI tutor dapat meningkatkan pemahaman konseptual siswa ketika berfungsi sebagai pendamping belajar, bukan pemberi jawaban instan. Dalam konteks ini, AI berperan sebagai cognitive support system yang memperkaya proses berpikir.
Dampak terhadap Regulasi Diri dan Motivasi Belajar
Aspek lain yang patut diperhatikan adalah self-regulated learning. Studi Azevedo. (2018) dalam Review of Educational Research menunjukkan bahwa siswa yang terlalu bergantung pada sistem otomatis cenderung memiliki kontrol diri belajar yang lebih rendah. Mereka kurang mampu merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan motivasi intrinsik. Siswa belajar bukan karena ingin memahami, melainkan karena ingin menyelesaikan tugas secepat mungkin. Jika dibiarkan, pendidikan berisiko menghasilkan siswa yang mahir menggunakan teknologi, tetapi rapuh secara mental dan kognitif.
Peran Guru dan Sekolah di Era AI
Di sinilah peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai materi, tetapi harus menjadi arsitek pengalaman belajar. Penelitian Luckin et al. (2016) menekankan pentingnya human-centered AI in education, yaitu AI yang dikendalikan oleh tujuan pedagogis, bukan sebaliknya.
Sekolah perlu mengajarkan AI literacy: bagaimana menggunakan AI secara kritis, etis, dan reflektif. Tugas pembelajaran juga perlu didesain ulang—menekankan refleksi personal, diskusi, dan pemecahan masalah kontekstual yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI.
Membantu atau Melemahkan Daya Pikir Siswa?
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa AI tidak bersifat netral dalam pendidikan—ia bisa menjadi alat yang memperkuat atau justru melemahkan daya pikir siswa, tergantung pada pola penggunaannya. Studi Holmes, Bialik, dan Fadel (2019) dalam Computers & Education menegaskan bahwa AI dapat meningkatkan higher-order thinking skills jika digunakan sebagai alat pendukung refleksi, analisis, dan eksplorasi konsep. Dalam kondisi ini, AI berfungsi sebagai scaffolding cognitive tool yang membantu siswa membangun pemahaman secara bertahap. Namun, penelitian lain menunjukkan sisi gelap dari penggunaan AI yang tidak terkontrol.
Peneliti Zhai (2023) dalam Educational Psychology Review menemukan bahwa penggunaan AI yang berorientasi pada hasil instan berkorelasi dengan penurunan keterlibatan kognitif mendalam (deep cognitive engagement).
Siswa menjadi lebih fokus pada kecepatan penyelesaian tugas dibandingkan pemahaman konsep, sehingga proses berpikir kritis tidak terlatih secara optimal.
Temuan ini sejalan dengan Cognitive Load Theory yang dikemukakan oleh Sweller (2011). Ketika beban kognitif utama dialihkan sepenuhnya kepada sistem AI, siswa kehilangan kesempatan untuk mengaktifkan memori kerja dan proses elaborasi pengetahuan.
Akibatnya, pembelajaran menjadi dangkal (surface learning), bukan pembelajaran bermakna (meaningful learning).
Dengan demikian, AI sejatinya bukan ancaman utama bagi daya pikir siswa. Ancaman sesungguhnya muncul ketika AI digunakan tanpa kerangka pedagogis yang jelas. AI membantu daya pikir siswa ketika ia menantang siswa untuk berpikir, tetapi melemahkan daya pikir ketika ia menggantikan proses berpikir itu sendiri.
Tantangan pendidikan masa kini bukan memilih antara manusia atau mesin, melainkan memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali tujuan psikologis dan pendidikan manusia.
