CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90
Oleh: Dwi Aminatus Sa’adah, M.Pd.
“One Piece” bukan sekadar kisah petualangan bajak laut. Di balik dunia fantasi dan lautan luas, Eiichiro Oda menghadirkan kisah tentang kebebasan, perlawanan terhadap penindasan, dan pencarian jati diri.
Dalam kerangka ini, Monkey D. Luffy muncul sebagai sosok kapten yang tidak konvensional, namun sangat efektif, dan kini menjadi ancaman serius bagi kekuatan tertinggi di dunia, Gorosei.
Banyak yang dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata dari mahakarya kejeniusan Eiichiro Oda dalam merangkai alur cerita komik dengan penjualan terbanyak di duni
A ini “One Piece”.
Salah satu yang menjadi daya tarik dalam cerita “One Piece” yaitu cerita yang memang menggambarkan gejolak politik bahkan kepemimpinan yang ada di dunia nyata saat ini.
Gorosei, atau Lima Tetua, adalah representasi kekuasaan absolut yang memanipulasi sejarah dan memonopoli kebenaran demi menjaga status quo. Mereka berdiri di puncak Pemerintah Dunia dan telah berperan langsung dalam menutupi sejarah sejati (Abad Kekosongan), serta menghancurkan siapa pun yang dianggap ancaman—termasuk para D dan pembawa kehendak bebas.
Hal ini jika dihubungkan dengan dinamika kekuasaan saat ini sekilas akan terlihat mirip. Dimana kekuasaan saat ini saling melindungi dalam menjaga kekuasaan politik yang absolute. Dan masih banyak situasi politik yang ada di Indonesia ini yang bisa direpresntasikan seperti kekusaan Gorosei di dunia “One Piece”.
Sistem penegakan hukum, situasi lain yang hampir mirip dapat ditemui di dunia “One Piece” dan di dunia nyata. Di dunia “One Piece”, Marine adalah institusi yang secara resmi bertugas menjaga ketertiban dan menegakkan hukum atas nama Pemerintah Dunia.
Tapi seiring berkembangnya cerita, menilai bahwa Marine tidak sesederhana “yang baik melawan yang jahat.” Banyak di antara mereka yang bekerja bukan untuk keadilan sejati, tapi demi melanggengkan sistem yang korup dan menindas.
Perbandingkan Marine dengan institusi kepolisian di Indonesia memang nyaris serupa, terutama dalam hal tantangan profesionalisme, keberpihakan, serta tekanan dari kekuasaan politik. Di Indonesia, institusi kepolisian juga berada dalam tekanan untuk menjaga stabilitas dan mematuhi kekuasaan politik.
Tapi tidak selalu berarti berpihak pada keadilan rakyat. Kasus-kasus penyalahgunaan wewenang, kekerasan berlebihan, kriminalisasi terhadap aktivis atau rakyat kecil, hingga penanganan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah, menjadi masalah nyata.
Institusi kepolisian Indonesia pun ada banyak individu yang baik, berintegritas, dan ingin menegakkan hukum dengan adil, tapi terjebak dalam sistem yang rumit, penuh tekanan politik dan budaya senioritas yang kuat.
Mereka mengalami dilema seperti Garp: ikut sistem dan bertahan di dalam untuk mencoba mengubahnya perlahan, atau keluar dan kehilangan pengaruh. Ini menunjukkan bahwa bukan orangnya yang selalu salah, tapi sistem yang korup bisa membuat orang baik kehilangan arah atau tidak berdaya.
Selanjutnya dalam hal kepemimpinan di Indonesia dan di dunia “One Piece” pelajaran yang dapat dipetik sangat melimpah. Di dunia “One Piece”, gaya kepemimpinan Luffy mencerminkan kepemimpinan humanis menghargai individualitas, memberi ruang berkembang, dan menjadikan hubungan kerja bukan sekadar transaksi, tetapi kolaborasi.
Luffy tidak memperlakukan krunya sebagai bawahan, tetapi sebagai teman seperjuangan. Ia mengenali kekuatan dan keunikan masing-masing anggota, dan memberi mereka kepercayaan penuh. Ini bisa diterapkan di dunia kerja melalui model kepemimpinan kolaboratif, di mana manajer bukan pengontrol mutlak, tetapi fasilitator yang membantu timnya bersinar.
Sebaliknya, Gorosei mencerminkan manajemen lama yang otoriter dan tertutup, yang hanya peduli pada hasil dan stabilitas, tanpa memperhatikan kebebasan berpikir dan transparansi. Ini jenis organisasi yang makin ditinggalkan di era modern.
Luffy sang kapten dalam dunia pertemanan juga tidak kalah bersinar, dunia pertemanan, Luffy mengajarkan pentingnya kejujuran, kesetiaan, dan keberanian untuk jadi diri sendiri. Luffy tidak pernah berpura-pura demi diterima. Ia tidak menyesuaikan diri agar cocok dengan norma sosial. Justru karena keaslian itulah, orang-orang terdekatnya merasa aman dan nyaman bersamanya. Dalam hubungan pertemanan di dunia nyata, beberapa orang sering terjebak dalam kepura-puraan sosial atau “toxic positivity”. Luffy justru memperlihatkan bahwa persahabatan yang sejati dibangun di atas kejujuran dan penerimaan, bukan pencitraan.
Gaya kepemimpinan Luffy bukan hanya cocok untuk dunia bajak laut, tapi juga sangat relevan di dunia nyata. Di tempat kerja, ia mewakili pemimpin yang mendukung dan memberdayakan. Dalam pertemanan, ia adalah sahabat sejati yang jujur dan setia. Dalam masyarakat, ia adalah simbol harapan dan perlawanan terhadap penindasan.
“One Piece” mengajarkan bahwa pemimpin besar bukan mereka yang paling kuat atau paling pintar, tetapi mereka yang paling bisa dipercaya dan paling siap berdiri di sisi yang benar, bahkan saat seluruh dunia menolak mereka.
Monkey D. Luffy bukan hanya tokoh fiksi yang menghibur. Di balik kelucuannya, ada nilai-nilai mendalam yang bisa kita jadikan cermin dan inspirasi dalam kehidupan nyata. Luffy mengajarkan bahwa persahabatan sejati dibangun di atas kejujuran, penerimaan, dan kesetiaan.
Ia tidak berpura-pura menjadi orang lain, dan ia tidak meninggalkan teman dalam kesulitan. Hidup di dunia nyata—dengan tekanan pekerjaan, dinamika sosial, dan sistem yang tidak selalu adil. Sosok Luffy dari seorang yang tidak diprediksi menjadi kekuatan besar di dunia “One Piece” dan menjadi salah satu 4 kekuatan besar di dunianya mengajarkan, kejujuran lebih kuat dari kepura-puraan, kepercayaan lebih berharga daripada kontrol, dan Keberanian lebih bermakna daripada kenyamanan.
“Dalam skala kecil atau besar, kita semua bisa jadi “kapten” dalam hidup kita masing-masing—dengan memimpin diri sendiri, merawat orang di sekitar kita, dan tidak takut berdiri untuk kebaikan”. Salam nakama.(*)
