Oleh : Nurul Ngainin
Perilaku jujur adalah perilaku yang teramat mulia. Namun di zaman sekarang ini, perilaku jujur amat sulit ditemukan. Meski rajin salat dan suka beramal saleh, belum tentu dapat memegang amanah dengan baik.
Saat ini, banyak orang yang penampilannya alim dan mencerminkan ahli ibadah, namun sifat kejujurannya masih sangat memprihatinkan. Didukung lagi dengan adanya argumen jujur itu membuat diri hancur.
Jujur dapat berarti mengungkapkan segala sesuatu, dalam beberapa kasus dapat menyebabkan masalah. Jujur dapat berarti menghadapi kenyataan yang pahit, misalnya kebenaran tentang diri sendiri yang menyebabkan perasaan tidak nyaman atau bahkan “hancur”.
Jujur dapat memiliki konsekuensi yang tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, hubungan yang rusak, atau bahkan ancaman fisik, dalam beberapa kasus dapat menyebabkan “kehancuran”. Dengan begitu, banyak orang yang menyepelekan kejujuran dan lebih memilih untuk berbohong.
Contoh yang sudah ada di negara ini yaitu pengurusan birokrasi yang seringkali dipersulit dengan kedustaan sana-sini, yang ujung-ujungnya bisa mudah jika ada uang pelicin, dan para pedagang banyak bersumpah untuk melariskan barang dagangannya dengan promosi yang penuh kebohongan.
Kebalikan dari kata jujur adalah berbohong/berdusta yang artinya tindakan menyampaikan informasi yang tidak benar, dengan tujuan untuk menipu, memanipulasi, atau mengelabui orang lain.
Dalam Islam, berbohong dianggap sebagai dosa besar dan dapat menyebabkan murka Allah. Rasulullah bersabda: “Berbohong adalah salah satu tanda orang munafik.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tanda orang munafik ada tiga: jika berkata ia dusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanat ia berkhianat. Begitu pula dalam hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu.
Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa. Jujur adalah suatu kebaikan sedangkan dusta (menipu) adalah suatu kejelekan.
Yang namanya kebaikan pasti selalu mendatangkan ketenangan, sebaliknya kejelekan selalu membawa kegelisahan dalam jiwa.
Jika kita tidak ingin menjadi seperti orang munafik dan tidak ingin menjadi orang yang selalu gelisah dalam hidup, maka jangan membiasakan diri untuk berbohong meski dalam hal kecil. Kebohongan kecil akan menggiring kepada kebohongan lainnya. Kalau sudah begitu, berbohong akan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Terkait dengan argumen/pendapat bahwa “jujur itu membuat diri hancur” adalah pandangan yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk budaya, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai yang dianut.
Akan tetapi kita sebagai umat islam, diperintahkan oleh Allah SWT untuk berperilaku jujur. Jujur adalah berkata benar yang bersesuaian antara lisan dan apa yang ada dalam hati. Jujur secara bahasa dapat berarti perkataan yang sesuai dengan realita dan hakikat sebenarnya.
Maka dari itu, jujur adalah kunci menuju surga dan berdusta/berbohong adalah kunci menuju neraka. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga.
Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka.
Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.Kejujuran adalah nilai yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi fondasi dari kepercayaan.
Ketika kita jujur, kita membangun kepercayaan dengan orang lain. Kepercayaan ini dapat membantu kita dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam hubungan, pekerjaan, dan komunitas. Dengan kejujuran, kita juga dapat menghindari konflik dan kesalahpahaman yang dapat menyebabkan kerugian dan kehilangan.
Oleh karena itu, marilah kita mengembangkan kejujuran dengan cara: mengakui kesalahan dan memintak maaf jika kita bersalah, menghindari kebohongan dan tidak berbohong dalam situasi apa pun, dan berkomitmen untuk menjadi jujur dalam kehidupan sehari-hari.(*)
