MINI RESEACH : Mahasiswa IAINU Tuban Mini Riset tentang Kesenian Thak-thakan di Tuban
IAINUonline – Keberagaman bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh keberagaman suku bangsa yang memiliki ciri khas serta karakter masing-masing. Baik dalam aspek sosial maupun budaya. Berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, didapatkan hasil bahwa terdapat 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa di Indonesia dengan keragaman bahasa, budaya, dan kearifan lokal masing-masing.
Keberagaman bangsa Indonesia ini mengharuskan adanya konsep multikulturalisme yang tidak hanya sekadar retorika belaka. Namun juga harus diperjuangkan dan ditegakkan sebagai sebuah landasan tumbuh dan tegaknya proses demokrasi, pengakuan hak asasi manusia yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Di semester tujuh ini, mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAINU Tuban menempuh salah satu mata kuliah wajib yaitu Pendidikan Multikultural dengan tugas akhir berupa mini research terkait keragaman budaya Indonesia, khususnya di daerah Tuban Bumi Wali.
Setelah melalui tahap diskusi, mahasiswa kelompok 4 mata kuliah Pendidikan Multikultural (Kelas A Angkatan 2020) ini sepakat memilih Desa Klutuk, Kecamatan Tambakboyo sebagai objek utama dengan fokus penelitian kesenian Thak-Thakan yang memang hanya terdapat di kecamatan ini.
Pada Selasa (26/12/2023), lima mahasiswa dari kampus Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban yang juga dikenal sebagai kampus hijau ini melakukan mini research dengan sumber data primer yang didapatkan dari hasil wawancara bersama sesepuh dan wakil ketua Paguyuban Seni Thak-Thakan Naga Bumi terkait telisik sejarah kesenian Thak-Thakan di Desa Klutuk.
Dalam wawancaranya, Mbah Ciput selaku sesepuh paguyuban menuturkan bahwa seni Thak-Thakan ini merupakan kesenian yang menjadi ciri khas Desa Klutuk dan memiliki beberapa fungsi, yaitu: tolak bala’, ruwatan, hiburan, dan pengiring manten maupun khitan.
“Thak-Thakan niku kesenian ingkang dados ciri khas dari suatu desa, khususipun teng Desa Klutuk. Geh saget tolak balak, saget ngeruwat kados wayang, saget dados hiburan, saget damel ngarak nganten, ngarak sunat (Thak-Thakan merupakan sebuah kesenian yang menjadi ciri khas dari suatu desa, khususnya di Desa Klutuk. Bisa berfungsi sebagai tolak bala’, ruwatan (red: menetralisir kekuatan ghaib), hiburan, pengiring pengantin dan anak yang khitan,” tuturnya dengan logat Jawa yang khas.

Lebih lanjut, Mbah Ciput juga menuturkan bahwa seni Thak-Thakan ini sudah ada sebelum tahun 1965. Namun sempat mengalami masa vakum atau punah karena tidak ada generasi yang melestarikannya, kemudian pada tahun 1990 kembali beliau hidupkan dengan bentuk yang sama seperti buatan nenek moyang terdahulu.
“Sakderenge tahun 65 niku sampun wonten kesenian Thak-Thakan niki, tapi tahun 65 niku sampun punah mergi mboten wonten generasine ingkang ngelanjutake. Akhire Kulo jiplak niki, mulai tahun 1990 generasi kedua kados ingkang damelanipun poro nenek moyang riyen (sebelum tahun 65 itu sudah ada kesenian Thak-Thakan, hanya saja pada tahun 65 itu sudah punah karena tidak ada generasi yang melanjutkan. Akhirnya saya tiru dan hidupkan kembali mulai tahun 1990 -pada generasi kedua- sama persis dengan buatan para nenek moyang),” ujarnya.
Jessy, selaku wakil ketua paguyuban juga menyebutkan bahwa penamaan seni Thak-Thakan ini diambil langsung dari bunyi Thak-Thak yang timbul dari kayu-kayu atribut saat dimainkan.
“Yen ringkese, kengeng nopo kok dijenakne seni Thak-Thakan niku mergi yen kayu ketemu kayu kan otomatis bunyine thak-thak, la damel gampilke omongan tiyang Jawi niku akhire dijenakne seni Thak-Thakan (kalau ringkasnya, alasan penamaan seni Thak-Thakan ini karena jika kayu bertemu kayu maka akan otomatis mengeluarkan bunyi thak-thak, lalu guna memudahkan orang Jawa maka kesenian ini dinamakan dengan seni Thak-Thakan),” jelasnya.
Di akhir wawancara, Mbah Ciput juga menegaskan bahwa seni Thak-Thakan Naga Bumi dari Desa Klutuk ini masih original tanpa sedikitpun merubah bentuk dari para sesepuh.
“Pokoke seni Thak-Thakan ingkang tasih nyel kuno niku geh mriki (Klutuk), desa lintu sak kecamatan niku sampun sami modern lan katah ingkang sami ngerubah saking bentuk aslinipun (pokoknya seni Thak-Thakan yang masih murni kuno ya di desa ini (Klutuk), desa lain se-kecamatan sudah sama modern dan banyak yang merubah dari bentuk aslinya),” pungkasnya.
Seni Thak-Thakan Naga Bumi ini merupakan kekayaan Bangsa Indonesia yang patut kita jaga dan banggakan, mengingat kesenian ini juga sudah tercatat sebagai salah satu inventaris kekayaan intelektual komunal ekspresi budaya tradisional yang diakui oleh negara. Bahkan telah mendapatkan sertifikat yang diterbitkan langsung oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam rangka perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
Penulis : Nafaisal Ulumi (PAI Semester 7-A)
