IAINUonline – Tulisan ini berdasar dari kegelisahan saya sebagai orang Jawa dan Islam. Saya melihat ke dalam diri saya sendiri sebagai seorang muslim Jawa yang terseret oleh kebudayaan Arab dan meninggalkan nilai-nilai keJawaan itu sendiri.

Sementara itu, saya menyadari bahwa saya ditakdirkan Tuhan menjadi orang Jawa yang sekaligus Islam. Dimana mestinya saya berIslam tanpa harus meninggalkan ciri khas saya sebagai orang Jawa.

Kegelisahan saya bertambah dengan belakangan ini marak pemuka Islam baru yang masuk Indonesia khususnya di Jawa, merasa Islamnya paling murni. Sehingga membid’ah-bid’ahkan tradisi kebudayaan Islam di Jawa yang sudah lama menjadi identitas Islam Jawa itu sendiri. Padahal jika benar nilai-nilai tauhid dan ketaatan kepada syariat itu diterapkan. Mestilah berwujud kecintaan kepada manusia lain, bukan malah berbentuk benci, mengutuk dan menyalah-nyalahkan.

Sinkretisasi Jawa dan Islam

Perlu diketahui, Islam dan Jawa bukanlah suatu entitas yang tidak dapat berbagi ruang. Namun keduannya berpadu dalam tujuan yang sama secara sinkretis. Islam di Jawa dibangun dengan konsep Man Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu (Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya).

Dari konsep tersebut Islam disebarkan oleh Wali Songo melalui pembauran dengan budaya Jawa, yang kemudian mengakar dan menjadi lelaku. Sehingga membawa manusia Jawa mengenal Tuhannyamelalui keJawaannya itu sendiri tanpa menghilangkan identitas normatif Islam.

Menjadi Islam tanpa Menjadi Arab

Islam bukanlah Arab, meskipun kita semua tahu, Islam berasal dari Arab, Nabi Muhammad orang Arab, Al-Qur’an berbahasa Arab. Namun, Islam diperuntukkan kepada semua umat manusia, baik Arab maupunyang berada diluar Arab (Ajam).

Tidak perlu menjadi Arab untuk menjadi Islam. Mengutip perkataan Gus Dur, Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya.

Kita hormati bangsa Arab tanpa harus menjadi orang Arab. Kita lestarikan budaya kita, tradisi-tradisi keagamaan kita, sebagai jati diri Islam Jawa yang khas, yang tidak dimiliki oleh Islam di suatu bangsa manapun.(*)

 

Penulis : Dian Efendi, Mahasiswa IAINU Tuban.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *