*Cerita Studi Tiru IAINU Tuban ke UII Yogyakarta

IAINUonline – ‘’Kami mempunyai 200 tenaga untuk mengelola IT, belum lagi mahasiswa yang kami beri akses untuk membantu kerja kami,’’ ujar Mukhamad Andri Setiawan Direktur Badan Sistem Informasi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Belum hilang kekagetan,  ditambah dengan pernyataan Cahyo Nugroho Direktur Sarana dan Prasana;

‘’Kami tidak perlu mendatangi langsung lokasi untuk mengecek fasilitas yang rusak, karena kami punya sistem khusus yang memungkinkan adanya laporan setiap ada kerusakan. Sistem itu juga memungkinkan kami untuk mengontrol seluruh sarana. Meski awalnya tidak mudah, dan butuh bertahun-tahun untuk membangun, dan mahal,’’.

Dua pernyaan itu tak hanya menampar, namun seolah palu godam menghantam kepala rombongan IAINU Tuban yang sedang melakukan studi tiru ke UII. Lalu, di ruangan multi media yang sejuk dan representatif tempat rombongan IAINU Tuban diterima itu, bertubi-tubi pernyataan dan paparan dari pihak UII seolah peluru yang terus memborbardir pertahanan rombongan IAINU Tuban.

‘’Justru inilah yang kami harapkan. Kami berharap dihancurleburkan oleh kenyataan, hingga kemudian menyentuh dan membangkitkan kesadaran kami, bahwa tak mudah mencapai titik yang ditandai melalui mimpi,’’ ujar Agus Ali Sururi Kepala Biro IAINU Tuban. Pria yang disapa Aris ini menjadi bagian dari rombongan studi tiru tersebut.

Apakah semua paparan itu begitu megah, hingga rombongan IAINU Tuban yang mewakili lembaga merasa kerdil posisi lembaga yang diwakilinya saat berada di hadapan UII ? Meski 99 % jawabannya iya, namun 1 % nya berisi harapan. Seperti yang disampaikan Ir. Wiryoni Raharjo Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan.

‘’Saat mulai membuka jurusan aksitektur hanya punya modal 1 mesin ketik, itupun sering rusak. Banyak dibully oleh yang lain, ruang kuliah dan fasilitas seadanya, bahkan sempat menyewa ruang untuk kuliah,’’ ujarnya.

Lalu suntikan semangat itu masih ditambah dengan tips ‘’Kami punya kredo harus berani menebar mimpi, dan kita memang harus berani bermimpi. Maka sekarang UII adalah salah satu kampus dengan jurusan arsitektur terbaik di Indonesia,’’ tambah dosen senior di perguruan tinggi yang didirikan pada Juli 1945 tersebut.

Ya, jika pada serial Kera Sakti sang tokoh Biksu Tong melakukan perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci yang disebutkan di antaranya berisi tentang ajaran kebijaksanaan, welas asih dan dharma (pengabdian), maka pada Kamis (15/1/2026) itu Institut Agama Islam  Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban melakukan kunjungan studi tiru ke  Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, yang kebetulan juga berada di arah barat Kabupaten Tuban.

Rombongan diterima di Ruang Multi Media Gedung Prabuningrat UII. Sejumlah pejabat UII yang menerima kunjungan itu adala : Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. Wakil Rektor Bidang Kemitraan & Kewirausahaan, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si.  Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik & Riset serta Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si.  Wakil Rektor Bidang Sumber Daya & Pengembangan Karier.

Kemudian Mukhammad Andri Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D.  Kepala Badan Sistem Informasi, Dr. R.M. Sisdarmanto Adinandra, S.T., M.Sc. Direktur Pengembangan Akademik, Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psi. Direktur Sumber Daya Manusia, Cahyo Nugroho, A.Md. Direktur Sarana & Prasarana,  dan Dr.rer.nat. Dian Sari Utami, S.Psi., M.A. Direktur Kemitraan/Kantor Urusan Internasional.

Lalu Bambang Suratno, S.T., M.T., Ph.D. Kepala Divisi Kemitraan Dalam Negeri, Siti Khodijah, S.E. Kepala Divisi Anggaran, Allan Fatchan Gani Wardhana, S.H., M.H. Direktur Pengembangan Karier & Alumni,Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A.  Direktur Pemasaran serta  Neneng Asaniyah, S.I.Pust. Kepala Divisi Pelayanan Pemustaka.

Rombongan dari IAINU Tuban dipimpin Supriyanto, M. Pd. Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr.Nurhaningtyas Agustin, M.Pd. Wakil Rektor II Bidang Administrasi Keuangan dan Pengembangan SDM dan Jamal Ghofir, S.Sos.I., M.A. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.

Selain itu ada Agus Ali Sururi, ST.  Kepala Biro, Syamsul Arifin, S.Pd.I. Ketua Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), Hamna Al Adzkiya, S.lip. Kepala UPT Perpustakaan, Ummi Latifatul Ni’Mah, S.Pd, M.A. Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK).

Kemudian Mahmudho Nuranisa, S.Ak.Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP), A. Fahmi Zakariya, S.Sos. Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK). Juga Rangga Akhir Aprian, S.Tr.Kom. Kepala Sub Bagian Humas serta staf di masing-masing bagian dan biro.

Supriyanto di awal diskusi menyampaikan banyak yang ingin ditimba dari UII untuk mengembangkan IAINU. Supriyanto menyatakan  bermimpi bisa berkembang seperti UII. Yang ingin digarap lebih dulu adalah pelayanan prima pada tamu yang datang, mahasiswa dan masyarakat.

’’Saat kami tiba di sini tadi, Satpam sudah tahu kami adalah rombongan tamu dari Tuban dan sudah tahu dan ke mana harus mengarahkan. Ini kan salah satu bentuk pelayanan yang luar biasa,’’ ucapnya.

Lalu diskusipun mengalir, hingga kemudian muncul ungkapan-ungkapan penting yang bisa menjadi cambuk untuk penyemangat rombongan IAINU Tuban agar bekerja lebih keras untuk memajukan kampusnya.

Saat diskusi dengan Badan Sistem Informasi yang mengelola sistem informasi termasuk pengelolaan aplikasi dan pembagiannya pada tiap bidang termasuk mahasiswa dijelaskan, masing-masing bidang mendapat aplikasi sendiri sesuai dengan bidang tugas dan tanggungjawabnya seperti yang disampainan Direktur Pemasaran UII.

Lalu Prof Jaka menyampaikan layanan prima memang terus diupayakan dan tidak  hanya administratif. Tapi apa saja yang  dibutuhkan oleh stakeholder UII dilayani.

‘’Layanan itu vital di dunia pendidikan karena  kita lebih dekat ke jasa. Maka yang dikembangkan adalah bagaimana mendekatkan diri pada masyarakat dan mahasiswa,’’ terangnya.

Terkait dengan layanan prima di UII ada pelatihan-pelatihan bagaimana bersikap, tatacara dan pelatihan banyak hal lainnya. Misalnya pada layanan akademik yang berhubungan langsung dengan mahasiswa dan orangtua mahasiswa juga digarap serius.

‘’Bagaimana menghadapi jika ada komplain dan lainnya itu penting. Orang Jawa bilang ibaratnya harus jembar dadane dan dowo ususe,’’ ungkapnya.

Kemudian strategi bagaimana mengembangkan sistem penerimaan mahasiswa baru, ini dilakukan untuk mengembangkan populasi atau jumlah mahasiswa baru  yang masuk. UII punya data sebaran asal mahasiswa, sehingga bisa mitigasi dan menyiapkan program termasuk mahasiswa dari luar negeri.

Ditambahkan Ike Agustina, soal kualitas layanan prima, di UII tidak sekadar senyum dan layanan ramah, tapi bagaimana yang diinginkan atau ekspektasi pihak yang dilayani itu tercapai. Maka layanan melibatkan semua pihak, misal badan penjaminan mutu untuk mengukur bagaimana kualitas layanan yang diberikan.

‘’Dari sana ada evaluasi dan perbaikan, meski ramah dan senyum misalnya tapi SOP tidak  ada ya sama saja. Stakeholder akan marah misal hanya  dijanjikan namun realisasinya lama, meski janji itu disampaikan dengan senyum,’’ jelasnya.

Soal sarana prasarana dan pemeliharaan serta pengawasannya, UII pakai aplikasi. Untuk  perawatan misalnya proyektor, untuk kelas, ruang rapat dipatenkan proyektornya sehingga tidak dipindah-pindah. Juga disediakan satu unit untuk cadangan, untuk antisipasi kalau ada yang rusak mendadak.

Perpustakaan UII menyebut, 80 persen angggarannya digunakan untuk nambah koleksi. Tambahan koleksi itu bisa melalui request pemustaka, dosen, atau mahasiswa. Juga melakukan digitalisasi dengan sistem keamanan yang ketat, hinmgga  tidak bisa diakses pihak luar yang tentu untuk membangunnya tidak murah.

Maka, ada banyak ilmu yang didapat, sekaligus juga mimpi-mimpi besar yang entah kapan dan pada tahun ke berapa nanti terwujud.

‘’Kita bisa membangun kayak gedung ini, lahan kita masih cukup,’’ celetuk salah satu rombongan IAINU Tuban sambil menunjuk gedung KH. A.Wahid Hasyim milik UII yang memang megah sedikit bercanda. Karena sebagai gambaran saja, UII punya lahan seluas 40 hektare sedang IAINU Tuban baru punya lahan 6 hektare.

Harapan itu langsung muncul saat Mas Aris Sang Kabiro tetiba mengirim tulisan panjang di rup staf. Jam 04.00 subuh tulisan itu dishare saat rombongan masih di atas bus yang membawa rombongan pulang, saat sebagian besar anggota rombongan masih pulas dalam tidurnya di atas ‘hotel berjalan’ itu.

Begini tulisannya :

‘’Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi atas terselenggaranya kegiatan studi banding tenaga kependidikan IAINU Tuban ke Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dengan lancar dan penuh makna.

Secara objektif harus kita akui, kondisi dan tata kelola antara IAINU Tuban dan UII saat ini dapat diibaratkan bak bumi dan langit, baik dari sisi sistem, budaya kerja, maupun kematangan institusi. Namun justru dari perbedaan itulah kita memperoleh pelajaran yang sangat berharga.

Bagi kami, UII bukan sekadar tujuan studi banding, melainkan cermin masa depan IAINU Tuban—apakah dalam 1 tahun, 2 tahun, atau bahkan 10 tahun ke depan—semuanya sangat ditentukan oleh apa yang kita pikirkan, rencanakan, dan kerjakan mulai hari ini. Semoga pengalaman ini menjadi pemantik semangat, penyadar arah, dan penguat komitmen bersama untuk terus berbenah dan bertumbuh.

Di awal perjalanan, langkah kita diiringi lagu Sabar dari Sadewok:

Ngapuntene saestu, yen dereng saget nuruti opo karepmu.

Tapi ojo sumelang, ono dino liyane bakal tak upayake mbuh kepie corone.”

Lirik itu menyadarkan kita bahwa tidak semua yang kita kerjakan—meski terasa baik menurut kita—selalu sejalan dengan arah dan tujuan besar kampus. Namun selama ada kejujuran untuk mengakui, kesabaran untuk berproses, dan ikhtiar untuk terus mengupayakan jalan terbaik, maka setiap langkah hari ini tetap bernilai sebagai bagian dari perjalanan menuju cita-cita bersama.

Di akhir perjalanan, lirih terdengar lagu Sinarengan dari Denny Caknan:

Saya dewasa ra ngenteni badai terang, nanging sinau nari ning tengah udan.”

Sepenggal lirik itu seolah menasihati kita bahwa kita tidak perlu menunggu waktu yang sempurna untuk melangkah. Justru di tengah keterbatasan dan persoalanlah kita belajar berjalan, menari, dan bertumbuh—menjadikan setiap masalah sebagai pelecut untuk mengembangkan diri dan institusi.

Terakhir, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila selama kegiatan studi banding ini terdapat keterbatasan waktu, tempat, maupun hal-hal teknis lainnya yang dirasa kurang berkenan. Semoga segala kekurangan tersebut tidak mengurangi makna kebersamaan, pembelajaran, dan semangat persahabatan yang telah terjalin di antara kita.

 

Penulis : Sri Wiyono/Agus Ali Sururi

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *