IAINUonline – Seni thak-thak’an merupakan salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah pesisir Kabupaten Tuban, khususnya Kecamatan Tambakboyo. Kesenian ini tidak hanya hadir sebagai tontonan rakyat, tetapi juga memuat nilai spiritual, sosial, dan filosofi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Sejarah thak-thak’an di Tambakboyo tidak dapat dilepaskan dari sosok almarhum Mbah Timbang, tokoh seni asal Desa Klutuk. Ia dikenal sebagai pelaku seni yang aktif menghidupkan thak-thak’an di kawasan Sendang Klutuk yang dikenal dengan nama Sendang Budhaya. Menurut penuturan Mbah Timbang semasa hidupnya, kesenian ini mulai ia tekuni sekitar tahun 1960-an.
Namun demikian, Mbah Timbang juga menyampaikan bahwa bentuk kesenian serupa telah ada jauh sebelum masa tersebut. Ia menyebut Desa Kenanthi sebagai salah satu wilayah yang lebih dahulu mengenal seni thak-thak’an.
Hal ini menunjukkan bahwa seni rakyat seperti thak-thak’an sulit ditentukan secara pasti waktu kelahirannya karena tumbuh secara alami di tengah kehidupan masyarakat.
“Seni kerakyatan itu memang susah diidentifikasi kapan lahirnya, kapan mulainya, karena sudah ada sejak dulu dan diwariskan dari mulut ke mulut,” demikian penuturan Mbah Timbang yang kemudian diteruskan oleh para pelaku seni di Tambakboyo.
Seiring perkembangannya, seni thak-thak’an tidak hanya hidup di Desa Tambakboyo, tetapi juga menyebar ke berbagai desa lain dengan sebutan dan ciri khas yang berbeda-beda. Setiap daerah memiliki nama paguyuban, bentuk topeng, properti, serta susunan pemain yang beragam.
Di wilayah Kecamatan Tambakboyo sendiri, tercatat sekitar 20 kelompok thak-thak’an yang telah terdata sejak tahun 2009 dan dilegalisasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban.
Beberapa di antaranya adalah Kredyo Yakso (Sobontoro), Dewa Naga (Tambakboyo), Bonaga Bumi dan Sendang Budhaya (Klutuk), Bluduk Kenanthi (Kenanthi), hingga Singo Jagad (Socorejo, Jenu). Selain itu, masih banyak kelompok thak-thak’an yang tumbuh sebagai kelompok bermain anak-anak desa dan belum terdata secara resmi sebagai paguyuban.
Berbeda dengan barongan di daerah lain, masyarakat Tambakboyo lebih akrab menyebut kesenian ini sebagai thak-thak’an. Istilah tersebut diambil dari bunyi “thak-thak” yang muncul dari pertemuan gigi atas dan bawah pada mulut topeng tokoh utama ketika dimainkan.
“Bunyi itulah yang jadi ciri khas. Jadi bukan barongan, tapi thak-thakan,” ujar Pak Polisi, salah satu pengrajin dan pelaku seni thak-thak’an di Desa Sobontoro.
Dalam pertunjukannya, thak-thak’an dimainkan oleh minimal enam orang. Tiga orang memerankan tokoh utama thak-thak’an yang melambangkan penguasa atau pemilik rumah, biasanya berbentuk kepala macan, singa, atau naga. Sementara tokoh kirik kikik berfungsi sebagai penjaga atau pelapor, dan tokoh wewe gombel serta gendruwonan melambangkan makhluk tak kasat mata.
“Zaman dulu kan di depan rumah orang biasanya ada anjing. Gunanya buat laporan kalau ada tamu atau bahaya. Nah, itu yang disimbolkan lewat kirik kikik,” jelas Pak Polisi.
Secara spiritual, seni thak-thak’an dipercaya memiliki fungsi tolak bala. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, energi negatif atau sukerto diyakini dapat dinetralisasi melalui simbol-simbol yang juga dianggap memiliki kekuatan serupa. Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang tampak menyeramkan justru dihadirkan sebagai media penyeimbang.
“Kita hidup berdampingan dengan yang tidak kelihatan. Thak-thakan itu bentuk pagupan, permisi, doa pembuka ketika masuk ke wilayah yang bukan milik kita,” ungkap Pak Polisi.
Salah satu paguyuban termuda yang kini berkembang di Tambakboyo adalah Kridya Yaksa dari Desa Sobontoro. Paguyuban ini digagas oleh Pak Buntas dan secara simbolis dilahirkan pada 21 September 2024 di kawasan Sumur Gede Sobontoro, sebuah tempat yang diyakini masyarakat memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat.
Nama Kridya Yaksa memiliki makna filosofis. Kridya berarti laku atau gerak, sementara yaksa artinya roh alam dalam mitologi India (Hindu, Buddha, Jain).
“Nama itu menggambarkan perilaku dan gerak makhluk gaib yang hidup dalam kepercayaan masyarakat,” jelas Pak Polisi.
Menurut penuturannya, beberapa karakter dalam Kridya Yaksa terinspirasi dari pengalaman spiritual langsung para penggagasnya di kawasan Sumur Gede.
“Waktu itu siang hari, kami melihat sosok di sekitar pohon waru. Dari situ muncul ide karakter wewe gombel dan gendruwo,” ungkapnya.
Kridya Yaksa menghadirkan inovasi dalam material dan bentuk topeng. Selain kayu waru yang mudah didapat dan ringan, mereka juga menggunakan spons EVA untuk karakter baru seperti Bambu Runyang dan Dadung Awuk.
“Kalau pakai kayu terlalu berat. Akhirnya disarankan senior pakai spons,” kata Pak Polisi.
Beberapa karakter dilengkapi teknologi sederhana berupa lampu di mata dan mulut yang menggunakan baterai. Meski begitu, unsur tradisi tetap dijaga melalui penggunaan bulu kambing, bulu domba, ekor sapi, ekor kuda dari Temanggung, kain bludru, dan rambut sintetis.
“Kayu waru itu awet dan ringan. Kalau kayu jati berat dan gampang pecah kalau benturan,” tambahnya.
Seni thak-thak’an juga memadukan berbagai cabang seni, seperti seni tari, seni musik, dan seni ukir. Iringan musik terdiri dari kendang, bonang, kenong, gambangan, dan gong suwukan yang menciptakan suasana sakral sekaligus atraktif. Sementara seni ukir tampak pada detail topeng yang menonjolkan ekspresi dan karakter masing-masing tokoh.
Hingga kini, seni thak-thak’an masih rutin dipentaskan dalam kirab karnaval HUT Kemerdekaan RI, Festival Pesisiran Kabupaten Tuban, serta berbagai agenda budaya lainnya. Bahkan, Kridya Yaksa sempat tampil dalam Night Carnival Tuban dan mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak.
“Terakhir ikut Night Carnival Tuban, alhamdulillah dapat apresiasi dari atasan,” ujar Pak Polisi.
Keberadaan seni thak-thak’an di Tambakboyo menjadi bukti bahwa warisan budaya leluhur tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Melalui kreativitas, kesadaran budaya, dan peran generasi muda, thak-thak’an terus hidup sebagai identitas lokal yang menyatukan tradisi, spiritualitas, dan seni pertunjukan rakyat.
Penulis : Ima Yuni Astika, Kinanti Tasya, Mir Atul Ilmiyah, Siti Darmiati Rosita

