Oleh: Irfa’i A. Mubaidilla
Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, tantangan guru tidak hanya terletak pada penguasaan materi, tetapi juga pada bagaimana mereka menyampaikannya secara menarik dan bermakna.
Di tengah gempuran teknologi dan media digital, imajinasi kreatif menjadi kunci utama agar pembelajaran tidak kehilangan nyawa. Guru harus berani menjadi pendongeng, pemimpin pertunjukan, sekaligus arsitek pengalaman belajar yang menyentuh hati siswa.
Salah satu contoh konkret pentingnya imajinasi kreatif dapat kita lihat dalam pemanfaatan media pembelajaran berbasis cerita rakyat/ kearifan lokal. Ambillah kisah legenda dari Jawa Timur yang sarat nilai dan imajinasi: Legenda Roro Jonggrang. Cerita ini bukan hanya tentang cinta yang gagal, tetapi juga tentang kecerdikan, tipu daya, dan kekuatan tekad.
Di tangan guru yang kreatif, kisah ini bisa menjadi media pembelajaran lintas mata pelajaran, mulai dari bahasa Indonesia, sejarah, seni budaya, hingga pendidikan karakter.
Bayangkan, seorang guru yang tidak hanya meminta siswanya membaca teks legenda, tetapi mengubah kelas menjadi sebuah panggung mini untuk pentas drama Roro Jonggrang. Anak-anak diberi peran, mendesain kostum dari bahan daur ulang, bahkan membuat miniatur Candi Prambanan dari kardus bekas.
Di sini, guru tidak sekadar menyampaikan, melainkan merancang pengalaman. Imajinasi sang guru menjadi jembatan antara masa lalu yang legendaris dan masa kini yang serba digital.
Dalam konteks teknologi, media pembelajaran tidak harus selalu mahal. Dengan bantuan aplikasi sederhana seperti Canva, PowerPoint, atau bahkan TikTok edukatif, guru dapat menciptakan konten visual yang menarik, misalnya video pendek tentang adegan Roro Jonggrang yang membohongi Bandung Bondowoso agar gagal membangun 1.000 candi.
Visualisasi ini memberi ruang bagi siswa untuk memahami makna cerita sekaligus belajar aspek teknis seperti narasi visual, intonasi, dan ekspresi.
Namun, imajinasi kreatif bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ia tumbuh dari keberanian untuk mencoba, kepekaan terhadap karakter siswa, dan semangat untuk terus belajar. Dalam banyak kasus, guru yang berhasil memaksimalkan media pembelajaran adalah mereka yang mampu melihat potensi dari hal-hal sederhana.
Mereka bisa menjadikan kertas bekas sebagai alat peraga, menjadikan halaman sekolah sebagai ruang teater terbuka, dan menjadikan cerita rakyat sebagai pelita nilai-nilai luhur bangsa.
Legenda Roro Jonggrang juga dapat dijadikan pelajaran tentang bagaimana guru sebaiknya tidak sekadar mengikuti sistem secara mekanis. Bandung Bondowoso yang terlalu fokus pada target jumlah candi akhirnya tertipu oleh siasat Roro Jonggrang.
Ini mengingatkan kita bahwa pembelajaran yang berorientasi pada angka tanpa menghidupkan imajinasi siswa, akan mudah kehilangan arah. Guru perlu berperan sebagai penyeimbang antara target kurikulum dan kehidupan nyata siswa.
Jawa Timur, dengan kekayaan ceritanya, menawarkan ladang subur bagi tumbuhnya pembelajaran kontekstual. Selain Roro Jonggrang, ada legenda Jaka Tingkir, Ande-Ande Lumut, hingga kisah Reog Ponorogo yang penuh simbol dan makna.
Di tangan guru yang kreatif, kisah-kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi tugas menulis narasi, proyek multimedia, hingga karya sastra lokal yang modern.
Akhirnya, tugas guru adalah menjadi penjaga api imajinasi. Dalam kelas yang menyenangkan dan bermakna. Media pembelajaran bukan sekadar alat, melainkan jendela menuju dunia baru yang penuh petualangan, nilai, dan harapan. Imajinasi kreatif bukan pelengkap, melainkan fondasi bagi pembelajaran yang mengakar dan berdaya ubah.(*)
