Oleh Isnawati Nur Afifah Latif

IAINUonline – Perkembangan sebuah kota adalah keniscayaan. Kehadiran pusat perbelanjaan baru di Kabupaten Tuban menandai dinamika ekonomi yang terus bergerak. Mall modern hadir dengan berbagai fasilitas, ruang hiburan, dan pusat gaya hidup yang sebelumnya hanya bisa ditemukan di kota-kota besar.

Belum lagi, semakin menjamurnya gerai makanan maupun gerai ritel modern dengan konsep kafe yang menawarkan ruang nongkrong instan dan budaya konsumsi cepat saji. Semua ini adalah tanda perubahan zaman.

Namun, di tengah geliat modernitas tersebut, ada satu hal yang tidak boleh ikut bergeser, yaitu integritas akademik dan moral dosen, khususnya dosen di Institut Agama Islam Nahdlatul (IAINU) Tuban.

Sebagai perguruan tinggi Islam, IAINU Tuban bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi juga pusat pembentukan karakter, penjaga nilai, dan representasi moral masyarakat. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, melainkan juga sebagai teladan sosial.

Ketika pusat perbelanjaan berdiri megah dan budaya konsumsi semakin menggoda, integritas dosen diuji bukan pada pilihan belanjanya, tetapi pada cara ia memaknai dan menyikapi perubahan tersebut.

Profesionalisme dan Godaan Gaya Hidup

Mall baru membawa simbol modernitas, kenyamanan, prestise, dan gaya hidup urban. Tidak salah jika dosen berbelanja atau memanfaatkan fasilitas umum tersebut. Namun yang menjadi refleksi adalah bagaimana dosen menjaga kesederhanaan, tidak terjebak dalam euforia konsumtif, serta tetap menunjukkan identitas sebagai insan akademik yang menjunjung nilai moderasi dan keseimbangan.

Integritas tercermin dari konsistensi antara nilai yang diajarkan di kelas dan perilaku dalam kehidupan nyata. Dosen yang mengajarkan zuhud, kesederhanaan, dan etika ekonomi Islam tentu diharapkan mampu mempraktikkan nilai tersebut secara proporsional dalam kesehariannya.

Konsep kafe menghadirkan budaya baru: diskusi santai di ruang ritel modern. Bagi dosen, ruang seperti ini sebenarnya bisa menjadi tempat produktif seperti menyusun artikel, berdiskusi akademik, atau membimbing mahasiswa secara informal.

Masalahnya bukan pada tempatnya, tetapi pada orientasinya. Apakah ruang itu menjadi sarana produktivitas atau sekadar konsumsi gaya hidup? Integritas diuji ketika dosen mampu memanfaatkan ruang modern tanpa kehilangan jati diri akademiknya.

Menjadi Teladan di Tengah Perubahan

Perubahan sosial tidak bisa dihindari. Tuban sedang bergerak menuju wajah kota yang lebih modern. Namun modernitas tidak identik dengan hilangnya nilai. Dosen IAINU Tuban memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan kekuatan spiritual dan etika Islam.

Integritas bukan soal menolak mall, bukan soal menghindari gerai makanan atau kopi modern. Integritas adalah kemampuan menjaga konsistensi nilai di tengah perubahan zaman.

Jika dosen mampu berdiri teguh dengan profesional dalam bekerja, sederhana dalam gaya hidup, dan kuat dalam spiritualitas. maka kehadiran mall dan kafe bukanlah ancaman, melainkan ruang ujian yang justru menguatkan karakter akademisi muslim.

Dan mungkin, justru di situlah marwah perguruan tinggi Islam diuji dan dimuliakan.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *