IAINUonline – Sebelum dikenal dengan nama Bektiharjo, daerah ini dahulu disebut Beti. Nama tersebut berasal dari kisah lama pada masa pemerintahan Bupati pertama Tuban bernama Dandang Wacono. Dikisahkan bahwa pada masa pemerintahannya sekitar tiga tahun setelah dia menjabat membuat sebuah pesanggrahan di kawasan Bektiharjo. Pesanggrahan berarti tempat peristirahatan di siang hari. Dandang Wacono memilih tempat ini karena keindahan dan kesejukannya.
Di tempat itu tumbuh pohon besar yang rindang, udaranya sejuk, dan terdapat dua sumber air alami yang disebut Sendang Lanang dan Sendang Wedok. Kedua sendang ini memiliki makna simbolis melambangkan keseimbangan antara unsur laki-laki dan perempuan, atau yin dan yang. Awalnya, tempat itu menjadi lokasi istirahat sang bupati dan para pengawalnya ketika bepergian. Namun seiring waktu, masyarakat sekitar mulai mengunjungi tempat tersebut karena airnya dipercaya membawa kesejukan dan ketenangan batin.
Suatu ketika, seorang warga “sowan” (berkunjung) ke Bupati dan mengucapkan terima kasih atas sumber air tersebut. Dari kata “sowan” dan “pangapunti” (permohonan izin), muncullah sebutan “Beti”, yang kemudian berkembang menjadi Beti Harjo, dan akhirnya dikenal sebagai Bektiharjo sampai sekarang.
Kesakralan dan Makam Tokoh Spiritual
Selain terkenal karena sumber airnya, kawasan ini juga dikenal sakral. Di dalam area pemandian terdapat beberapa makam tokoh penting yang diyakini memiliki peran besar dalam sejarah spiritual Tuban. Di antaranya adalah makam keturunan Angling Darma dari Bojonegoro, serta makam Syekh Abdul Rohman yang memiliki putra bernama Syekh Abdul Wahab. Walau tidak semua makam terlihat secara fisik, masyarakat percaya bahwa para tokoh tersebut bersemayam di kawasan itu.
Karena itulah, pengunjung dilarang berbicara kasar atau bersikap sombong di area tersebut. Setiap pengunjung dianjurkan mengucap salam dan menjaga kesopanan. Tempat itu dianggap sebagai “tanah bertuah” yang dijaga oleh kekuatan spiritual. Hingga kini, sebelum memasuki area pemandian, beberapa warga masih melakukan ritual kecil berupa doa bersama atau menabur bunga sebagai bentuk penghormatan. Keyakinan semacam ini menjadi bukti bahwa masyarakat masih menjaga warisan budaya dan spiritual para leluhur mereka.
Salah satu tradisi paling penting yang masih dilestarikan hingga sekarang adalah Tradisi Manganan Beti. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas limpahan air dari sumber Bektiharjo yang sangat berguna bagi kehidupan mereka. Air dari sendang ini digunakan untuk mandi, memasak, dan memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Tradisi Manganan dilakukan setiap tahun pada hari Rabu Pon bulan suro atau bulan Maret hingga Mei. Dan acara mangan ini tidak boleh melebebihi bulan suro dan boleh di lakukan sebelumnya. Acara ini di ikuti oleh lima desa, yaitu:
- Desa Bektiharjo,
- Desa Semanding,
- Desa Prunggahan Wetan
- Desa Prunggahan Kulon
- Desa Tegalagung.
Kelimanya melaksanakan Manganan secara bergiliran, tetapi tetap pada hari yang sama, yaitu Rabu Pon. Tradisi ini dilakukan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa hasil bumi, seperti pisang, nasi, dan sayur hasil panen. Semua makanan dikumpulkan di satu tempat dan dinikmati bersama. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana syukur, tetapi juga simbol kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial antarwarga.
Acara dimulai sejak siang hari, biasanya pukul dua belas siang, dan berlangsung hingga malam. Sebagian warga juga melakukan ziarah ke makam para leluhur sebelum makan bersama. Di bawah salah satu pohon besar di area pemandian, dilakukan ritual padupan (membakar dupa) yang kini telah diganti dengan wewangian minyak. Ritual ini menandakan penghormatan terhadap alam dan para penjaga spiritual kawasan area Bektiharjo.
Lukisan-lukisan di Pemandian Bektiharjo
Selain sejarah dan tradisi, hal menarik yang jarang diketahui banyak orang adalah lukisan-lukisan bersejarah yang ada di kawasan Pemandian Bektiharjo. Lukisan-lukisan ini terdapat di beberapa bagian dinding, gerbang, dan bangunan di sekitar pemandian. Lukisan tersebut tidak sekadar dekorasi, tetapi memiliki makna simbolik dan spiritual yang sangat dalam.
- Lukisan Syekh Abdul Rohman
Lukisan ini menampilkan sosok seorang tokoh berjubah putih yang berdiri di tepi sendang, dikelilingi cahaya lembut yang memancarkan ketenangan dan kesucian. Sosok tersebut diyakini sebagai Syekh Abdul Rohman, salah satu tokoh sufi yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat karena peranannya dalam membimbing spiritual dan menjaga keharmonisan lingkungan sekitar.
Setiap detail dalam lukisan ini memiliki makna simbolis. Jubah putih yang dikenakan Syekh Abdul Rohman melambangkan kesucian hati, kebersihan jiwa, dan ketulusan dalam setiap perbuatan. Posisi berdirinya di tepi sendang menunjukkan keterhubungan antara manusia dan alam, sekaligus menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dengan lingkungan sekitar.
Cahaya lembut yang mengelilingi sosok ini dapat diartikan sebagai pancaran energi spiritual dan ketenangan batin yang menenangkan siapa pun yang memandang lukisan tersebut.
Lukisan ini bukan sekadar representasi visual, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan dan pengingat nilai-nilai luhur. Masyarakat yang melihat lukisan ini diingatkan akan pentingnya kesucian hati, pengendalian diri, serta peran spiritual dalam menjaga keseimbangan hidup. Melalui karya ini, warisan budaya dan spiritual yang dibawa oleh Syekh Abdul Rohman tetap hidup, menginspirasi generasi masa kini untuk meneladani kebijaksanaan dan keteladanan tokoh sufi tersebut.
- Lukisan Naga Kembar Penjaga Sendang
Lukisan ini menampilkan dua naga besar yang saling melingkar di sekitar sumber air, menciptakan kesan dinamis sekaligus menjaga harmoni ruang di sekitarnya. Naga-naga tersebut dipercaya sebagai penjaga Sendang Lanang dan Sendang Wedok, dua sendang yang memiliki makna simbolis dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat.
Dalam kepercayaan Jawa, naga bukan sekadar makhluk mitos, tetapi simbol kekuatan alam, pelindung air, dan penjaga keseimbangan dunia bawah. Kehadirannya dalam lukisan ini menegaskan pentingnya menjaga harmonisasi kekuatan alam yang saling melengkapi, antara yang bersifat laki-laki (lanang) dan perempuan (wedok). Sendang Lanang dan Sendang Wedok dianggap memiliki energi yang berbeda, dan keseimbangan keduanya diyakini sangat penting untuk kelangsungan kehidupan serta kesuburan lingkungan sekitar.
- Lukisan Kehidupan Desa
Lukisan yang menggambarkan kehidupan desa menampilkan berbagai aktivitas masyarakat Bektiharjo pada masa lampau, seperti kegiatan bertani di sawah, tradisi berziarah ke tempat-tempat yang dianggap sakral, serta prosesi membawa sesajen sebagai bagian dari ritual adat. Representasi visual tersebut tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai media dokumentasi budaya yang merekam pola kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat desa.
Melalui lukisan-lukisan ini, dapat terlihat bahwa kehidupan masyarakat Bektiharjo sejak dahulu selalu dilandasi oleh nilai-nilai kerja keras dalam memenuhi kebutuhan hidup, semangat kebersamaan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, serta rasa hormat yang mendalam terhadap leluhur dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam interaksi antarmasyarakat yang harmonis dan keterikatan yang kuat antara manusia, alam, dan kepercayaan lokal. Dengan demikian, lukisan kehidupan desa tidak hanya menjadi pengingat akan masa lalu, tetapi juga berperan sebagai sarana edukatif untuk menanamkan kesadaran budaya dan memperkuat identitas lokal bagi generasi masa kini dan mendatang.
- Lukisan Alam dan Air Kehidupan
Beberapa dinding di sekitar sendang dihiasi dengan lukisan yang menggambarkan aliran air yang jernih, pepohonan yang rindang, serta burung-burung yang beterbangan bebas di sekitarnya. Unsur-unsur alam tersebut digambarkan secara harmonis, menciptakan suasana yang menenangkan sekaligus sarat dengan makna simbolik. Lukisan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan visual, tetapi juga sebagai representasi pandangan hidup masyarakat setempat terhadap alam sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.
Aliran air yang digambarkan mengalir terus tanpa henti melambangkan keberlangsungan hidup dan kesucian, serta menjadi simbol kehidupan yang abadi dan tidak terputus. Air dipahami sebagai elemen utama yang menopang kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan, sehingga keberadaannya memiliki nilai spiritual sekaligus ekologis.
Sementara itu, pepohonan dan burung-burung melambangkan kesuburan, keseimbangan ekosistem, serta kebebasan hidup dalam keteraturan alam. Melalui lukisan alam dan air kehidupan ini, masyarakat Bektiharjo menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam agar harmoni kehidupan dapat terus terpelihara dari generasi ke generasi.
Makna Filosofis Lukisan
Lukisan-lukisan yang terdapat di kawasan Pemandian Bektiharjo mengandung nilai-nilai filosofis yang mendalam dan merefleksikan pandangan hidup masyarakat Jawa. Dominasi warna biru dan hijau pada lukisan-lukisan tersebut melambangkan kesuburan, kesejukan, serta keseimbangan hidup antara manusia dan alam. Warna biru merepresentasikan unsur air dan langit sebagai sumber kehidupan, ketenangan, serta kesucian, sedangkan warna hijau mencerminkan kesuburan alam, harapan, dan keberlanjutan kehidupan. Perpaduan kedua warna ini menggambarkan harmoni yang menjadi cita-cita hidup masyarakat setempat.
Selain itu, penggunaan warna merah dan kuning memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kekuatan dan dimensi spiritual manusia. Warna merah melambangkan semangat, keberanian, dan energi kehidupan, sementara warna kuning dimaknai sebagai cahaya, kebijaksanaan, serta kekuatan batin. Kehadiran warna-warna tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara ketenangan jiwa dan dinamika kehidupan dalam menjalani eksistensi manusia.
Bentuk garis melingkar yang muncul dalam beberapa lukisan memiliki makna filosofis yang erat dengan konsep siklus kehidupan. Lingkaran dipahami sebagai simbol perjalanan hidup manusia yang berputar dari kelahiran, pertumbuhan, kedewasaan, hingga akhirnya kembali kepada asalnya, yaitu Sang Pencipta. Simbol ini mengingatkan bahwa kehidupan bersifat sementara dan setiap manusia diharapkan senantiasa menyadari hakikat keberadaannya.
Penempatan lukisan yang menghadap langsung ke arah sendang juga mengandung makna simbolis. Posisi tersebut diyakini sebagai upaya menyatukan pesan moral yang terkandung dalam lukisan dengan energi alam yang berasal dari sumber mata air. Air, sebagai elemen utama pemandian, menjadi medium penyebaran nilai-nilai positif, sehingga lukisan dan alam saling melengkapi dalam membentuk ruang spiritual yang utuh.
Hubungan antara lukisan-lukisan di Pemandian Bektiharjo dengan tradisi Manganan menunjukkan keterkaitan yang erat antara ekspresi visual dan praktik budaya masyarakat. Lukisan berfungsi sebagai media penyampai pesan moral, nilai historis, dan filosofi kehidupan, sedangkan tradisi Manganan merupakan wujud nyata ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keharmonisan hidup.
Dalam pelaksanaan tradisi Manganan, masyarakat kerap meletakkan dupa atau minyak wangi di hadapan beberapa lukisan. Praktik ini tidak dimaknai sebagai bentuk pemujaan, melainkan sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah dan leluhur. Tindakan tersebut mencerminkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya tanpa mengesampingkan ajaran agama Islam yang dianut.
Dengan demikian, lukisan-lukisan dan tradisi Manganan di Pemandian Bektiharjo tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis atau ritual semata, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai luhur. Keduanya merepresentasikan kearifan lokal yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan keimanan, serta menjadi media pendidikan kultural bagi generasi penerus.
Nilai Sosial dan Pelestarian Budaya
Pemandian Bektiharjo telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya dan sejarah yang memiliki nilai strategis bagi Kabupaten Tuban. Keberadaan kawasan ini tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai warisan budaya yang merepresentasikan identitas sejarah, spiritual, dan sosial masyarakat setempat. Dalam upaya menjaga keberlanjutan kawasan tersebut, masyarakat sekitar berperan aktif sebagai pelaku utama pelestarian. Peran tersebut diwujudkan melalui kegiatan menjaga kebersihan sumber mata air, merawat lingkungan sekitar sendang, serta melestarikan tradisi dan seni budaya yang telah melekat secara turun-temurun.
Selain peran masyarakat, Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Kebudayaan juga memberikan perhatian serius terhadap pelestarian Pemandian Bektiharjo dengan menetapkannya sebagai kawasan cagar budaya yang dilindungi. Penetapan ini menjadi dasar hukum bagi berbagai program konservasi yang bertujuan menjaga nilai historis dan kultural kawasan tersebut.
Adapun upaya pelestarian yang telah dilakukan meliputi restorasi lukisan-lukisan bersejarah yang mengalami pelapukan akibat faktor usia dan lingkungan, perawatan area makam serta pepohonan tua yang memiliki nilai historis dan ekologis, penyelenggaraan festival budaya tahunan sebagai sarana promosi dan revitalisasi seni lokal, serta kegiatan edukasi bagi pelajar dan wisatawan mengenai sejarah, nilai budaya, dan makna filosofis Pemandian Bektiharjo.
Melalui sinergi antara masyarakat dan pemerintah, Pemandian Bektiharjo tidak hanya dapat dipertahankan sebagai situs bersejarah, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang edukatif dan kultural yang berkelanjutan. Upaya ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya agar tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Selain peran masyarakat dan pemerintah, keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan budaya di kawasan Pemandian Bektiharjo menjadi faktor penting dalam upaya pelestarian tradisi lokal. Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui partisipasi pelajar dan mahasiswa yang menjadikan Bektiharjo sebagai objek kajian dan penelitian, khususnya dalam bidang seni, sejarah, serta kearifan lokal. Aktivitas ini tidak hanya berkontribusi pada penguatan literasi budaya, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai-nilai tradisional agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Pemandian Bektiharjo pada hakikatnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemandian atau destinasi wisata, melainkan juga sebagai ruang spiritual dan situs sejarah yang hidup bagi masyarakat Tuban. Berbagai narasi historis, mulai dari kisah tokoh Bupati Dandang Wacono hingga pelaksanaan Tradisi Manganan Beti, membentuk satu kesatuan budaya yang mencerminkan kedalaman dan kekayaan tradisi Jawa. Seluruh unsur tersebut berpadu dalam harmoni yang menegaskan hubungan erat antara manusia, alam, dan Tuhan.
Lukisan-lukisan yang menghiasi kawasan pemandian berperan sebagai medium simbolik yang merekam perjalanan panjang masyarakat dalam menjaga keseimbangan tersebut. Setiap warna, bentuk, dan simbol yang ditampilkan mengandung pesan filosofis yang berfungsi sebagai pengingat akan asal-usul manusia serta tanggung jawabnya terhadap lingkungan dan nilai-nilai spiritual.
Melalui kejernihan air sendang, masyarakat merefleksikan makna kehidupan; melalui Tradisi Manganan Beti, mereka memperkuat ikatan sosial dan solidaritas; dan melalui keberadaan lukisan-lukisan bersejarah, nilai-nilai luhur diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Dengan demikian, Pemandian Bektiharjo tidak semata-mata merupakan warisan sejarah, melainkan juga cermin kehidupan yang mengajarkan pentingnya keseimbangan, kesucian, dan rasa syukur yang berkelanjutan. Nilai-nilai tersebut menjadikan Bektiharjo sebagai simbol kearifan lokal yang relevan untuk terus dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Tuban.


