IAINUonline – Melalui gelaran mahasiswa Prodi Psikologi Islam Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban, “Sorai Anak Negeri 2025” kembali hadir. Event ini sebagai ruang yang menyatukan tawa, menghidupkan budaya, dan merawat nilai-nilai kebersamaan.
Acra digelar di Pantai Panduri, Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Gelombang laut menjadi saksi bagaimana HIMA Psikologi Islam IAINU Tuban dan ILMPI Wilayah V menghadirkan program yang tidak hanya meriah tetapi juga penuh makna, arah, dan ruh pengabdian.
Di bawah tema “Bersorai di Nusantara: Menyatukan Tawa, Merawat Budaya,” kegiatan ini menjadi simbol harmoni: harmoni antara generasi muda dengan tradisinya. Antara ilmu psikologi dengan kearifan lokal, dan antara organisasi mahasiswa dengan masyarakat yang mereka layani.
Sorai: Lebih dari Sekadar Acara
Sorai bukan hanya nama program. Sorai adalah gerak bersama, tempat tawa menjadi bahasa pemersatu, dan permainan tradisional menjadi media pembelajaran yang menyentuh hati. Sorai mengajak anak-anak dan peserta untuk kembali mengenal akar Nusantara, bukan lewat ceramah, tetapi lewat pengalaman yang hidup dan penuh interaksi.
HIMA Psikologi Islam IAINU Tuban: Menyalakan Cahaya Pengabdian
Dalam kegiatan ini, HIMA Psikologi IAINU Tuban tampil sebagai penyala semangat. Bukan hanya sebagai pelaksana, mereka hadir sebagai pendamping yang memahami anak-anak membimbing dengan ilmu, menghangatkan suasana dengan empati, dan menciptakan ruang aman di mana setiap tawa memiliki arti.
Mereka menghadirkan nilai psikologi dalam setiap permainan: mengenalkan regulasi emosi, kerja sama, empati, hingga keberanian mencoba. Sentuhan HIMA membuat Sorai bukan sekadar aksi budaya, tetapi proses pendidikan yang halus dan manusiawi.
ILMPI Wilayah V: Jembatan Nusantara
ILMPI hadir sebagai jembatan besar yang menghubungkan mahasiswa psikologi dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dalam Sorai, mereka menunjukkan bahwa organisasi bukan sekadar struktur tetapi ruang persaudaraan. ILMPI menegaskan bahwa psikologi bisa bergerak bersama budaya untuk membangun masyarakat yang lebih berdaya.
Selama dua hari, 29-30 November 2025 peserta diajak menelusuri jejak permainan dari tiga wilayah budaya. Jawa dengan Cublak-Cublak Suweng dan Gobak Sodor yang penuh strategi dan kelincahan.
Kemudian Bali dengan Curik-Curikan serta Meong-Meongan yang sarat imajinasi. Dan Nusa Tenggara dengan Kideng serta Rangku Alu yang menguji irama dan koordinasi. Setiap permainan menjadi cerita. Setiap gerak menjadi pembelajaran. Setiap tawa menjadi pengikat.
Sorai, HIMA, dan ILMPI: Tiga Nama, Satu Nafas
Di Pantai Panduri, tiga nama ini berpadu menjadi satu nafas: nafas pengabdian, nafas kebudayaan, dan nafas kemanusiaan. Mereka bergerak bukan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, tetapi untuk menunjukkan apa yang bisa dihadirkan ketika organisasi dan budaya berjalan seiring.
Sorai Anak Negeri 2025 membuktikan bahwa budaya tidak akan hilang selama ada generasi yang mau merawatnya, dan hari itu, di bawah langit Tuban, budaya justru bersorai hidup kembali dalam tangan-tangan muda yang penuh harapan.
Penulis : Nabila Fatma Sakina

