Oleh : Agus Ali Sururi, S.T.
Gumpalan awan kumulus siang itu dalam panasnya musim kemarau, tampak seperti wajah Doraemon. Karena kacamata yang dipakai Budi, membuat bentuk awan terlihat berbeda. Wajah Doraemon seolah muncul di langit dan bahkan seperti berbicara denganya, persis saat Doraemon menegur Nobita, “Nobita! Biar hanya permainan sederhana, kamu tidak boleh curang!”
***
SEKARANG Budi sudah hampir 60 tahun. Sejak satu dekade lalu sudah mulai bisa memakai kacamata secara benar. Ukuran lensa tidak terlalu tinggi dan terlalu rendah, mengganti lensa secara berkala saat minus bertambah, dan menggunakan kacamata sesuai anjuran dokter. Penggunaan kaca mata yang tidak sesuai lama-kelamaan bisa memperparah hypermetropia yang dideritanya.
”O, begitu, Dokter?” Budi manggut-manggut ke Mutia, dokter mata yang bertugas di RSUD di kotanya, selain bertugas di RSUD dia juga membuka praktek di rumah dinasnya.
”Iya, Pak. Bapak jangan terlalu merasa bersalah. Tapi kebiasaan memang sangat susah diubah, Pak. Yang namanya kebiasaan itu, kan memang sesuatu yang tidak kita sadari, Pak. Hingga usia 50 tahun, Bapak tidak sadar akan kebiasaan itu. Bagaimana kita akan mengubah sesuatu yang tidak kita sadari, coba?”
Mutia terus menyampaikan nasihat-nasihatnya ke Budi. Sayangnya, Budi ini kurang bisa menangkap apa persisnya nasihat-nasihat yang disampaikan Mutia tentang pentingnya menjaga Kesehatan mata. Pikirannya lebih sibuk membayangkan apa saja kebiasaan-kebiasaan keliru lembaga tempat dia mengabdi yang tidak disadari. Namanya juga kebiasaan. Lantas, bagaimana kekeliruan-kekeliruan tersebut akan diperbaiki?
***
Suatu pagi, perbincangan Budi dan Rani, rekan kerja satu divisi, berawal dari teguran Rani agar Budi tidak menerima pengisian KRS mahasiswa setelah batas pengisian KRS habis. ”Itu kebiasaan keliru,” Rani merujuk flyer yang sudah disebar via akun Instagram kampus.
”Mahasiswa wajib mengisi KRS setiap awal semester. Mahasiswa mengisi KRS sesuai deadline waktu yang ditetapkan. Itu bagus.”
Ketika Rani tiba-tiba diminta untuk menyiapkan tempat untuk kegiatan pihak luar saat surat permohonan belum disetujui, giliran Budi menasihati Rani bahwa “Itu kebiasaan keliru”. ”Dalam poster penggunaan fasilitas yang tertempel pada dinding aula, tempat bisa digunakan setelah mendapatkan izin tertulis. Itu bagus.” katanya.
Di ruang praktik dokter mata Mutia, pikiran Budi diselimuti oleh kenangan-kenangan itu. Lalu, adakah kebiasaan-kebiasaan yang keliru lembaga ini menyangkut hubungan yayasan-pimpinan-dosen-tenaga kependidikan, yang sebaiknya diubah tapi tak bisa diubah gegara kita tidak menyadari kekeliruan tersebut?
Dokter Mutia tampak terus berkomat-kamit. Budi tak bisa menangkap dengan jelas apa saja konten omongannya. Pikiran Budi, itu tadi, masih sibuk menelusuri kebiasaan keliru lembaga ini. Apa lagi, ya?
Ketemu! Tapi masih bukan soal yang besar-besar seperti rencana pengembangan lembaga ke depan menjadi rujukan keilmuan di daerah tersebut atau memaksimalkan kantung-kantung organisasi untuk menambah peminat PMB.
Ketemunya masih seputar yang kecil-kecil. Misalnya lantai yang masih kotor padahal sudah dibersihkan dan keluhan mahasiswa tidak bisa menyambungkan laptop ke Smart TV saat akan presentasi meskipun anggota sudah mendapatkan tutorial penggunaan Smart TV.
***
Kebiasaan menyingkat kata dalam percakapan WhatsApp dan media lain kini mulai terbawa ke kehidupan sehari-hari. Banyak orang akhirnya ingin segala sesuatu serba ringkas, cepat dan fleksibel. Seandainya proses membesarkan lembaga bisa dipersingkat, maka mereka pasti memilih jalan singkat itu.
Bahkan dalam hal pemberian nama pun tren itu terlihat. Ada keluarga yang memberi nama anak-anaknya sangat sederhana bukan hanya satu kata, tetapi hanya satu huruf: anak pertama diberi nama X, yang kedua Y, dan yang ketiga Z.
X, Y, dan Z tak lagi jadi nama kategori-kategori suatu generasi atau variable dalam mata kuliah kalkulus. Dalam keluarga itu, tiga kategori tersebut sudah menjadi nama pribadi.
Dalam perjalanan pulang dari dokter mata Budi terus kepikiran hasil diskusi kecil dengan Rani tentang memilih makanan cepat saji yang sering ia konsumsi dapat menjadi salah satu penyebab rusaknya pembuluh darah mata.
Budi teringat akan kebiasaan memilih jalan pintas, bukan karena tidak tahu aturan, tetapi karena rasa sungkan dengan pihak luar yang menjadi mitra lembaga. Meskipun sebenarnya kita sedang merusak fondasi lembaga itu sendiri. Aturan bukan dibuat untuk membatasi kehormatan, melainkan untuk menjaga keadilan dan kesehatan organisasi.
Saat Budi sedang fokus memikirkan itu, perhatian Budi teralihkan oleh jalanan depan macet total karena perbaikan Jalan Lingkar Selatan yang menyisakan 500 meter tapi melawan arus. Tanpa pikir panjang Budi langsung memacu kendaraan di jalur tersebut. Ketika jalan pintas dibiarkan menjadi kebiasaan, lembaga kehilangan arah. Keputusan tidak lagi diukur dengan standar objektif, tetapi dengan sudut pandang individu. Akibatnya, integritas perlahan terkikis, dan orang-orang yang berusaha taat aturan justru merasa terpinggirkan.
Ini bukan untuk mencari siapa yang bertanggung jawab, tetapi lebih sebagai ajakan untuk memperbaiki cara pandang kita. Selama keputusan masih didasari kepentingan pribadi atau kelompok, lembaga akan sulit berjalan lurus. Yang perlu dikedepankan adalah sudut pandang lembaga, bahwa setiap aturan yang telah disepakati bersama dibuat untuk menjaga ketertiban, keadilan, dan keberlanjutan.
Ketika kita melepaskan kepentingan sempit dan kembali pada aturan lembaga, di situlah kita benar-benar menunjukkan komitmen terhadap profesionalitas dan masa depan bersama.
Secara mengejutkan Nobita turun dari balik awan kumulus memberi saran kepada Budi yang sedang bingung, untuk berteman saja dengan Doraemon agar semua keinginan dapat dikabulkan.
Semua, semua, semua
Dapat dikabulkan
dapat dikabulkan dengan kantong ajaib
