KERJASAMA : IAINU Tuban dan Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan Tanda Tangan Kesepakatan Kerjasama


IAINUonline – Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban melalui Lembaga Pusat Studi Qur’an dan Turots serta Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) menggelar Diklat Guru TPQ Metode An Nahdliyah. Acara ini digelar di aula KH.Hasyim Asy’ari kampus IAINU Tuban. Diklat bekerjasama dengan Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan.

Mewakili Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan, Ustadz Ahmad Ulul Hikam mengatakan bahwa banyak lembaga dan guru TPQ yang suda mempratekkan metode An Nahdliyah saat mengajar anak-anak mengaji. Metode ini adalah metode mengajar Al-Quran yang muncul dan dikembangkan Nahdlatul Ulama (NU).

‘’Karena kita adalah kader NU, maka mari kita kembangkan dan ajari anak-anak agar bisa membaca  Al-Quran menggunakan metode An Nahdliyah,’’ ujarnya.

Ustadz Ahmad Ulul Hikam juga menceritakan sejarah metode ini berawa. Diceritakan, metode An Nahdliyah adalah metode membaca Al-Qur’an yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, yang semula dikembangkan oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Tulungagung dengan tokoh KH. Munawwir Kholid.

Tujuannya, agar santri dapat membaca Al-Qur’an dengan tepat dan teratur menggunakan ketukan atau titian murotal. Metode ini merupakan pengembangan dari metode lain seperti Baghdadiyah tetapi lebih menekankan pada mekanisme pelaksanaan melalui ketukan. Yakni santri membaca Al-Qur’an dengan cepat, teratur, dan tepat intonasi panjang pendeknya melalui ketukan.

Ciri khas metode ini adalah menekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan menggunakan ketukan atau titian murotal. Biasanya guru menggunakan alat bantu seperti tongkat untuk membantu menjaga kesesuaian dan keteraturan bacaan.

Sementara, Rektor IAINU Tuban Prof Dr. M.Syamsul Huda dalam sabutannya saat membuka diklat mengatakan, membaca sangat penting. Terlebih membaca Al-Quran dan memahami maknanya. Ketika jaman jahiliyah di masa Rasulullah yang diajarkan pertama kali pada Rasulullah setelah diangkat sebagai nabi adalah membaca.

Menurut Prof Syamsul, meyitir salah satu pidato Menteri Agama Nasarudin Umar, bahwa membaca tidak sekadar membaca apa yang ada di dalam teks. Namun selain tekas ada isyarah dan apa yang dibaca itu diamalkan dan menjadi pedagangan dalam kehidupan.

Selain diklat, juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara  IAINU Tuban yang diwakili Lembaga Pusat Studi Qur’an dan Turots dengan Yayasan Mabin An Anadliyah Langitan. Tanda tangan dilakukan oleh Ketua Lembaga Pusat Studi Qur’an dan Turots  IAINU Tuban Ana Achoita dan Ketua Yayasan Mabin An Anadliyah Langitan Ahmad Ulul Hikam.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *