Oleh : Agus Ali Sururi

IAINUonline – Layaknya masyarakat Indonesia pada umumnya, tadi malam aku nonton pertandingan Indonesia vs Thailand U-23 sambil sekilas mencari jalan keluar agar internet di kampus berjalan stabil bisa diakses di semua tempat.

Mestinya ini bukan permasalahan baru, masih dilema antara fokus pada kualitas jaringan atau menambah bandwidth. Antara nonton dan rasa bersalah, aku tak tahu siapa yang lebih dulu menyerang.

Skornya imbang 1-1. Tapi bukan angka itu yang mengguncang aku. Yang membuatku tercenung adalah bagaimana pemain muda Indonesia di lapangan itu berjuang habis-habisan dari menit pertama sampai adu penalti.

Mereka tahu posisi mereka dan menjaga posisi tersebut dengan konsisten. Mereka sadar peran mereka, dan yang paling patut kita ajungi jempol mereka tidak main-main dengan tugas yang diemban.

Aku terdiam saat Yotsakon Burapha, pemain Thailand, berhasil mencetak gol dari memanfaatkan kelengahan satu bek kita, Alfeandra Dewangga. Seketika aku tersadar “Bukankah aku juga sering begitu? Lengah. Merasa tugasku kecil. Aku tidak mempunyai peran besar, menunda tugas rutinku, karena menganggap selama ini tidak ada yang complain berarti aku baik-baik saja.

Dan bahkan dengan pedenya aku berpikir akan ada orang lain yang akan menutup kelalaianku dalam melaksanakan tugas.”  Aku sering menghibur diri: “Ah, ini kan cuma pekerjaan teknis tidak akan berpengaruh besar pada kampus ini.”

Ketika Shirapop Wandee, pemain Thailand, memanfaatkan kesalahan kecil dari Dominikus Dion dan melepaskan tendangan keras ke arah gawang Indonesia. Seketika, semua bisa berakhir, tapi Muhammad Adriansyah, sang penjaga gawang, berdiri tenang dia membaca arah bola, melompat, dan menepis tendangan itu dengan refleks dan keyakinan penuh.

Momen itu hanya beberapa detik. Tapi pelajaran yang saya ambil bertahan jauh lebih lama. Saya bangga dengan capaian tim, senang dengan kemajuan lembaga, dan merasa nyaman saat semuanya tampak “baik-baik saja”.

Tapi, dalam kesibukan kolektif itu, kadang ada kesalahan kecil dalam laporan, tanggapan yang terlambat, abai terhadap instruksi atau pesan penting saat rapat koordinasi, atau sekadar menyepelekan hasil koordinasi antarbagian.

Menit terus berjalan, serangan demi serangan dilancarkan, bergantian dari sisi kanan dan kiri namun gawang Thailand masih seperti tembok kokoh yang sulit ditembus skor masih tertinggal.

Lalu datanglah satu momen yang tak disangka akan menjadi titik balik, sepakan pojok dari M. Rayhan Hannan melambung ke jantung pertahanan Thailand, di sanalah Jens Raven berdiri, berhasil menyundul bola itu dengan tepat—dan gol!

Seketika Indonesia menyamakan kedudukan.

Bukankah hidup dan pekerjaan kita juga seperti pertandingan itu? Sering saya bekerja keras, memberi usaha terbaik, tapi hasil belum juga datang bahkan bukan pujian yang saya dapatkan tapi gerutuan. Sering saya merasa apa yang saya lakukan seperti menyerang ke kiri dan ke kanan—tapi tetap belum gol.

Namun, yang tidak terlihat adalah bagaimana semua usaha kecil itu ternyata dapat mengurai masalah sedikit demi sedikit. Seperti serangan yang terus dilancarkan oleh timnas—yang akhirnya membuka ruang bagi satu peluang emas di menit penting.

Dan ketika peluang itu datang, yang dibutuhkan bukan sekadar niat, tapi kesigapan untuk mengeksekusinya. Jens Raven tidak hanya berdiri di tempat yang tepat, tapi ia hadir dengan kesiapan dan kesadaran penuh.

Bukan sekedar menonton bola tapi malam ini, Garuda Muda seperti menamparku. Karena mereka tahu, tugas sekecil apa pun—bahkan hanya menjaga sisi kanan lapangan—bisa jadi penentu kemenangan atau kekalahan.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri:

Apakah aku bekerja karena sadar? Atau sekadar menggugurkan kewajiban?

Apakah aku datang setiap hari ke kampus dengan semangat, atau cuma mengisi absen?

Apakah aku berinisiatif? Atau sekadar menunggu instruksi?

Seringkali kita ramai bicara soal pelayanan prima, tapi tak punya keberanian memulai dari diri sendiri. Kita ingin kampus hebat, tapi tidak pernah sungguh-sungguh menjalankan peran kecil kita dengan sepenuh hati.

Lalu saat ada kesalahan, kita angkat bahu dan bilang, “Itu bukan bagianku.”

Padahal, bukankah semua kesalahan besar bermula dari kesadaran kecil yang kita abaikan?

Malam itu, Indonesia menang 7-6 lewat adu penalti.

Seluruh stadion bersorak. Tapi aku tidak ikut bersorak.

Karena yang kalah malam itu adalah aku—yang belum bisa bekerja sebaik pemain muda itu bertanding.

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *