IAINUonline – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Nahdlatul (IAINU) Tuban menggelar pembekalan kuliah kerja nyata (KKN). Sebanyak 212 mahasiswa bakal melaksanakan KKN tahun ini. Pembukaan pembekalan dilaksanakan di aula KH. Hasyim Asy’ari kampus IAINU.

Ada yang berbeda dengan pelaksanaan KKN pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan tema KKN ; ‘Pemberdayaan Berbasis Pontensi Lokal untuk Keberlanjutan dan Kesejahteraan Masyarakat’, KKN tahun ini lebih fokus pada pemberdayaan kelompok masyarakat sesuai dengan potensinya masing-masing.

Rektor IAINU Tuban Prof, Syaiful Huda, M.Fil.I memberikan sambutan dan membuka pembekalan KKN secara daring. Rektor berpesan pada para mahasiswa agar bersyukur bisa menjalani bagian dari proses pembelajaraan. KKN adalah belajar langsung di masyarakat, sehingga akan menemukan dinamika yang berbeda.

‘Sehingga butuh kearifan dan strategi-strategi. Karena tahun ini KKN difo,kuskan pada pemberdayaan masyarakatan,’’ ujarnya.

Tahun ini, KKN  tidak lagi menggunakan pendekatan charity atau kegiatan sosial, bantuan dan sejenisnya. Sebab, charity menjadikan masyarakat selalu bergatung, sehingga tidak berani membuat inisiitif dan berrani melakukan sesuatu yang bisa mengubah nasibnya sendiri. Sedangkan mahasiswa KKN menganggap masyarakat adalah obyek dan tak punya pengalaman dan pengetahuan.

‘’Seolah-seolah kampus adalah menara gading yang bisa melakukan semuanya, bisa menyelesaikan semua masalah masyarakat,’’ tambahnya.

Menurutnya, pengabdian pada masyarakat itu muncul maka terjadi perubaan sosial (social engineering). Di masyarakat ada perubaan-perubahan ketika agen perubahan itu bisa bekerja sesuai peran dan fungsi mereka.

‘’Kampus menjadi mediator, motivator untuk mereka, sehingga ketika ditinggal masyarakat bisa bergerak sendiri. Kenapa berpuluh-puluh tahun KKN tidak ada perubahan dan tidak ada pemikiran masyarakat untuk maju sendiri karena pendekatannya berbeda,’’ urainya.

Tahun ini pendekatan KKN IAINU Tuban adala ABCD, yakni asset base community development. Pendekatan ini adala memahami bahwa masyraakat punya potensi dan bekal yang dianggap sebagai aset. Masyarakat yang melakukan discovery atau menemukan aset alam, manusia, sosial bahkan finansial dan aset kelembagaan yang mereka miliki.

‘’Sehingga dari itu mereka nanti bisa membangun dirinya tanpa harus bergantung bantuan atau uluran tangan yang selama ini dilakukan oileh pemerintahan maupun kampus.  ABCD tidak berangkat dari masalah apa, tapi apa yang dimilik dan  dipunyai,’’ jelasnya

‘’Kekuatan apa yang ada menjadi pijakan gerak. Dari apa yang dimiliki itu kemudian muncul dream atau impian. Dari apa yang dimiliki mereka punya cita-cita apa. Ini yang harus digali mahasiswa,  mimpinya apa?’ ungkapnya.

Kemudian masuk desain, bagaimana mereka merancang, bagaimana menyamakan atau gerakan dan kemudian menerima hasil yang sama. Untuk itu, para dosen pendamping lapangan (DPL) dalam KKN ini sudah dilatih beberapa hari.

Karena itu Rektor berpesan pada para mahasiswa untuk mengikuti pembekalan ini tahap demi tahap,  teknik demi teknik secara seksama dari awal sampai akhir agar mampu memahami dan mempraktikan bagaimana harusnya sesuai dengan apa yang dipelajari.

‘’Kalau ikut setengah-setengah saya takut mahasiswa salah memahami, dan yang salah itu akan diajarkan ke masyaraka  juga salah. Jadi tolong DPL untuk membimbing proses pelatihan dengan baik,’’ pesannya.

Pesan lain yang disampaikan pada mahasiswa adalah menjaga nama baik kampus. Kemajuan suatu kampus, menurut Rektor diukur 4 hal, yakni dipercaya (trust) tentu harus ada produk yang bisa dipakai employment atau berdampak. Bagaimana kampus bisa ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, membuat masyarakat aktif dan kreatif serta mandiri.

‘’Jadikan IAINU jadi kampus yang trust dan dipercaya pemerintah dan dunia usaha, tunjukkan mahasiswa IAINU punya sesuatu yang bisa diberikan pada masyarakat,’’ tandansya.

Sementara, Ketua LPPM Nurul Hakim, S.Th.I, M.Hum menambahkan KKN tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau dulu yang digarap mahasiswa KKN satu desa penuh. Hal apapun yang dimiliki desa akan digarap mahasiswa KKN. Namun, tahun sekarang KKN hanya terfokus pada satu komunitas di setiap desa.

Misalnya di Kecamatan Senori akan menjadi salah satu lokasi KKN. Disebutkan ada komunitas atau petani tembakau. Mahasiswa KKN diberi tugas bagaimana caranya bisa memberdayakan petani tembakau tersebut agar menjadi lebih produktif dan meningkat kesejahteraannya.

‘’Bagaimana dengan pendekatakan ABCD yang biasanya menghasilkan Rp5 juta sekali jual, bisa menjadi Rp20 juta sekali jual. Maasiswa harus menggali potensi dari mereka, diajak ngobrol dan sebagainya untuk menemukan potensi mereka. Mungkin tembakau bisa diolah sedemikian rupa sehingga bisa menaikkan nilai jual, itu salah satu cara,’’ ungkapnya.

Hakim menyebutkan, pembekalan KKN dilaksanakan selama 3 hari. Sedangkan  KKN dilaksanakan pada 14 Juli- 11 Agustus 2025 dengan mengambik lokasi di daerah gunung,pesisir dan perkotaan.

Ada 7 Kecamatan dan 10 desa yang akan ditempati yakni Kecamatan Jenu di Desa Mentoso dan Remen, Kecamatan Kerek di Desa Padasan dan Tengger Wetan, Kecamatan Semanding di Desa Kowang dan Jadi, Kecamatan Merakurak  di Desa Mandirejo, Kecamatan Palang  di Desa Pliwetan, Kecamatan Rengel di Desa Rengel serta di Kecamatan Senori di Desa Sidoharjo.(*)

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *