(Refleksi Diri atas Puisi Gus Mus untuk Diri yang Lebih Berarti)
Oleh :Agus Ali Sururi
Selamat Tahun Baru kawan
Kawan sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisabNya
Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib
Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan masa
Dan tiba tiba buas dan binal di saat sendiri bersamaNya
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia di surga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istiraht, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus,
Kawan tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih,
kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan,
kita berkelahi demi menegakkan kebenaran, mengacau dan menipu demi keselamatan,
memukul, mencaci demi pendidikan,
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.
Lalu bagaimana para cendekiawan,seniman,mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah nabi.
Jangan ganggu mereka
(A. Mustofa Bisri, Antologi Puisi Tadarus)
Saat saya membaca kembali puisi Gus Mus yang satu ini, dada saya terasa sesak. Mungkin karena saya tahu, puisi itu bukan hanya bicara kepada orang lain tapi juga kepada saya sendiri. Saya, yang sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari perguruan tinggi Islam, menyadari bahwa perubahan besar kampus ini tidak bisa saya berharap dari orang lain, sebab saya sendiri pun belum cukup berubah.
Saya masih terus belajar untuk benar-benar memahami peran saya dalam struktur perguruan tinggi. Bekerja di perguruan tinggi, saya tahu seharusnya menjadi penopang jalannya sistem. Tapi sejujurnya, saya belum maksimal dalam mengenal tugas pokok saya, bukan karena saya tidak dikasih Salinan tugas pokok dan fungsi.
Lebih karena saya terlalu sering menyoroti bagian lain yang tak berjalan dengan baik, bukan untuk memperbaiki bagian tersebut, tapi lebih karena untuk menutupi kekurangan saya sendiri.
Dalam hal ini, saya jadi teringat bagian puisi Gus Mus yang lain:
“Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas…”
Barangkali, kekhusyukan saya dalam ibadah kepada Allah memiliki kemiripan dengan keseriusan saya dalam menjalankan tugas sebagai staf di perguruan tinggi: Ada, tapi tipis. Ada, tapi tidak utuh. Ada, tapi tidak konsisten. Saya akan melakukan tugas pokok saya saat saya diingatkan atau ditegur.
Lebih dari itu, saya juga mulai jujur pada kenyataan bahwa saya terlalu memikirkan nama baik dan zona nyaman saya sendiri, dibanding kepentingan besar nilai-nilai luhur pendidikan. Saya lebih suka menyendiri di balik meja kerja, enggan berdiskusi dengan bagian lain.
Bukan karena tak ada waktu, tapi karena saya takut kalau berdiskusi nanti, akan muncul tugas tambahan. Ironisnya, saya selalu merasa sistem kita sudah cukup bagus. Padahal sebenarnya saya hanya ingin tak terganggu.
Puisi Gus Mus seakan menyadarkan saya: saya turut andil dalam sistem yang formalistis ini. Program kerja seringkali dadakan, hanya untuk memenuhi tenggat waktu, bukan karena benar-benar dipersiapkan untuk perubahan.
Maka jika ditanya apa bentuk pertobatan saya di tahun baru ini, jawabannya bukan membenahi semua hal. Cukup fokus mengembangkan potensi diri sendiri dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Saya sadar, kita semua punya potensi. Saya punya. Teman-teman dosen dan staf punya. Mahasiswa, semuanya. Tapi potensi itu seringkali terkubur di bawah ego dan rutinitas. Kita berjalan dengan semangat administratif, tapi kehilangan nilai.
Kita bicara tentang akreditasi dan peringkat, tapi lupa bahwa pendidikan adalah soal menumbuhkan manusia, bukan sekadar menyelesaikan kurikulum.
Nilai keikhlasan sebenarnya sudah ada di kampus ini saya menyaksikannya dalam senyum tulus staf saat menerima konsultasi mahasiswa atau sekedar bencanda ringan dengan tamu yang berkunjung, dalam perjuangan dosen-dosen yang tulus untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi, dalam mahasiswa yang bekerja diam-diam membantu kampusnya lewat kegiatan Ormawa dan UKM, lewat penelitian dan penemuhan tugas dari dosen.
Tapi nilai itu belum menjadi dominan. Ia masih kalah oleh ego diri sendiri atau egosentrisme kelompok, oleh kebiasaan menunda, oleh rasa malas berkoordinasi dan oleh pengambilan tindakan yang hanya memadang jangka pendek.
Saya menulis ini bukan untuk menggurui. Saya hanya ingin menyapa teman-teman sesama civitas akademika lewat kejujuran saya sendiri. Kalau Gus Mus mengajak kita menunduk memandang diri sendiri, maka tahun ini izinkan saya menunduk duluan.
Semoga dari pengakuan yang sederhana ini, muncul semangat kecil untuk berubah. Tidak perlu serentak. Tapi cukup serius. Karena tahun baru tidak akan berarti, jika aku dan mungkin juga kamu tak sungguh-sungguh mau menjadi baru.(*)
