Oleh : Ela Rosyida
Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Google Gemini, dan DeepL telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memahami dan menghasilkan teks dalam bahasa Inggris dengan kualitas yang bahkan menyaingi penutur asli.
AI kini tidak hanya mampu menerjemahkan, tetapi juga menulis esai, membuat konten profesional, bahkan menjadi asisten pribadi berbasis teks yang sangat fasih dan logis.
Di tengah kemajuan luar biasa ini, muncul pertanyaan mendasar: jika mesin sudah bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik, apakah siswa-siswa kita sudah siap bersaing dalam dunia global yang semakin “berbahasa Inggris”?
Kemampuan berbahasa Inggris kini bukan lagi sekadar nilai tambah dalam dunia pendidikan, tetapi telah menjadi syarat dasar untuk dapat terlibat dalam ekonomi digital. Mengikuti pendidikan global, serta berpartisipasi dalam perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Namun ironisnya, banyak siswa di Indonesia terutama di daerah yang minim akses masih kesulitan memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, apalagi menyusun argumen yang logis secara lisan atau tulisan.
Kontras ini menjadi semakin mencolok ketika kita menyadari bahwa AI, yang tidak memiliki kesadaran atau pengalaman hidup, justru mampu memahami konteks, memilih diksi dengan tepat, dan menangkap nuansa ekspresi bahasa yang kompleks (Luxton, 2023).
Menurut Li dan Zhu (2022), sistem AI berbasis large language models bahkan dapat memproses dan menguasai jutaan struktur bahasa dari berbagai domain hanya dalam hitungan detik, sesuatu yang tentu tidak mungkin dicapai oleh manusia dalam proses belajar tradisional bertahun-tahun.
Kondisi ini menjadi refleksi serius bagi dunia pendidikan kita. Ketertinggalan siswa dari AI dalam penguasaan bahasa Inggris tidak terjadi begitu saja. Banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan ini, seperti pendekatan pembelajaran yang masih terlalu fokus pada tata bahasa dan hafalan, bukan pada kemampuan komunikasi yang nyata (Richards, 2021).
Selain itu, minimnya akses terhadap lingkungan yang mendukung praktik berbahasa, seperti media berbahasa Inggris, percakapan lintas budaya, dan proyek dunia nyata juga menjadi kendala (Rahman, 2022).
Ketimpangan teknologi semakin memperlebar jurang ini masih banyak siswa yang belum memiliki perangkat atau akses internet yang memadai untuk mengeksplorasi konten berbahasa Inggris secara mandiri.
Namun demikian, AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu potensial dalam mempercepat penguasaan bahasa Inggris siswa. Dalam konteks pembelajaran, AI dapat dimanfaatkan untuk melatih percakapan melalui chatbot, menjadi alat refleksi penulisan melalui aplikasi seperti Grammarly atau Quillbot, serta menyediakan umpan balik instan yang selama ini sulit diberikan oleh guru dalam kelas besar.
pendekatan ini dikenal sebagai AI-assisted language learning dan mulai menunjukkan hasil yang positif dalam berbagai studi terbaru (Wang & Vasquez, 2023). Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa AI tidak bisa menggantikan sepenuhnya peran guru dan proses belajar manusia.
AI tidak memiliki empati, kreativitas, atau pemahaman budaya secara utuh. Di sinilah pendidikan bahasa Inggris harus bertransformasi: bukan hanya mengejar ketepatan tata bahasa, tetapi membangun keberanian siswa untuk berbicara, berpikir kritis, dan berkomunikasi secara otentik.
Kecerdasan buatan telah menunjukkan bahwa penguasaan bahasa bukanlah hal mustahil jika didukung data, latihan, dan akses yang luas. Maka, tugas kita sebagai pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan adalah memastikan siswa kita tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi ini, tetapi menjadi bagian darinya.
AI sudah bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang bisa dilakukan mesin?”, tetapi “apakah kita sudah menyiapkan manusia untuk bersaing?” Jika kita tidak segera bergerak, siswa kita bukan hanya tertinggal dalam penguasaan bahasa, tetapi juga akan kehilangan kesempatan berpartisipasi di masa depan yang semakin ditentukan oleh bahasa global ini.(*)
