Oleh : Fashi Hatul Lisaniyah
Setia sering dianggap sebagai lambang keteguhan dan cinta tanpa syarat. Dalam hubungan—baik dengan keluarga, teman, pasangan, atau lingkungan kerja—kata ini kerap jadi ukuran seberapa kuat ikatan emosional seseorang.
Tapi, apakah loyalitas selalu harus berarti pengorbanan tanpa batas? Di balik kemuliaan kesetiaan, ada sisi kelam ketika loyalitas dipahami secara keliru.
Loyalitas yang Menguras Jiwa
Loyalitas sejati adalah tarian dua arah—memberi dan menerima, mempercayai dan dipercaya. Namun, realitas sering tak seindah itu. Banyak yang terjebak dalam loyalitas sepihak: bertahan meski terluka, memberi meski diabaikan, atau memaafkan meski dikhianati. Dalam romantisme budaya, sikap ini kerap dipuji sebagai kebajikan. Tapi, apakah setia sampai lupa diri itu mulia?
Di dunia kerja, misalnya, ada yang rela mengorbankan waktu dan energi demi perusahaan, tapi tak pernah dihargai. Dalam keluarga, ada anak yang terus berjuang memenuhi ekspektasi orang tua, hanya untuk mendapat kritikan atau pengabaian.
Dalam pertemanan, ada yang selalu jadi penutup lubang saat krisis, tapi menghilang saat ia butuh bahu. Dan dalam cinta, ada yang bertahan dalam hubungan yang meracuni jiwa, hanya karena takut dicap “tidak setia.”
Ketika Setia Menjadi Belenggu
Loyalitas yang tidak sehat bisa jadi jerat. Ia menjebak seseorang dalam rasa bersalah saat ingin menjauh dari hubungan yang merusak. Memilih pergi bukan pengkhianatan, melainkan keberanian untuk menyelamatkan diri.
Loyalitas bukan soal bertahan dalam penderitaan, tapi tentang menjaga keseimbangan antara peduli pada orang lain dan mencintai diri sendiri.
Banyak yang keliru mengira loyalitas adalah ketakutan—takut kehilangan, takut dihakimi, atau takut sendiri. Kesetiaan yang lahir dari ketakutan bukanlah kebajikan, melainkan bayang-bayang trauma yang perlahan menggerus jiwa.
Budaya yang Menciptakan Loyalitas Buta
Di banyak masyarakat, loyalitas disamakan dengan ketaatan mutlak. Anak harus nurut, bawahan harus patuh, anggota harus tunduk—tanpa ruang untuk bertanya atau berbeda pendapat.
Budaya ini menutup pintu dialog dan menjadikan loyalitas sebagai alat kontrol, bukan jembatan kepercayaan. Akibatnya, banyak yang terperangkap dalam hubungan yang mengikis harga diri, tanpa tahu cara melepaskan diri.
Mendefinisikan Ulang Kesetiaan
Loyalitas yang sejati bukan soal seberapa lama kita bertahan, tapi seberapa jujur kita dalam menjalaninya. Ia tumbuh di ruang yang penuh rasa aman, saling menghargai, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Tanpa itu, loyalitas hanyalah beban yang menyamar sebagai kebajikan.
Setia dengan Jiwa Bebas
Kita semua ingin jadi orang yang bisa diandalkan, tapi itu tak berarti harus kehilangan diri. Loyalitas yang sehat adalah ketika kita peduli tanpa mengorbankan kewarasan, memberi tanpa melupakan hak kita untuk dihargai.
Jangan biarkan loyalitas menjeratmu dalam hubungan yang merampas cahayamu. Kesetiaan adalah anugerah, tapi ia hanya akan jadi berkah jika diberikan pada mereka yang tahu cara menghormatinya. Setia dengan batas, berbagi dengan hati utuh—itu adalah cara menjalani loyalitas yang membebaskan, bukan membelenggu
Menemukan Keseimbangan dalam Memberi dan Menerima
Loyalitas yang sehat tidak hanya tentang kesetiaan kepada orang lain, tetapi juga kesetiaan kepada diri sendiri. Dalam budaya yang sering kali menuntut pengorbanan tanpa batas, kita perlu belajar untuk menetapkan batasan. Batasan ini bukan tanda egoisme, melainkan bentuk cinta diri yang memungkinkan kita untuk tetap utuh saat berbagi dengan orang lain.
Bayangkan sebuah gelas yang terus diisi tanpa pernah dikosongkan—ia akan pecah. Begitu pula dengan hati kita. Memberi tanpa henti tanpa menerima penghargaan atau dukungan akan menguras energi, emosi, dan bahkan identitas kita. Loyalitas yang sejati mengakui bahwa kita juga manusia, dengan kebutuhan dan hak untuk bahagia.
Loyalitas yang memberdayakan adalah ketika kita bisa berkata “aku setia karena aku memilih untuk setia,” bukan karena terpaksa atau takut. Ia adalah komitmen yang lahir dari kebebasan, bukan keterpaksaan.
Dengan demikian, kita tidak hanya setia pada orang lain, tetapi juga pada diri kita sendiri—dan itulah loyalitas yang benar-benar utuh dan bermakna.
Jadi, mari kita setia dengan jiwa yang bebas, berbagi dengan hati yang utuh, dan menjalani hidup dengan keberanian untuk memilih hubungan yang membawa cahaya, bukan bayang-bayang.(*)
