Oleh : Aufi Imaduddin

“Di saat kamu memiliki jabatan yang sedang kamu jabat, jangan pernah diri kita ingin menjadi sebuah penghambat. Pilihannya hanya dua di saat kita sudah ada di tempat, ingin membuat hidupnya menjadi selamat, atau membuat hidupnya menjadi lebih sekarat.

Pesan untuk kita semua, lebih baik hidup petentang petenteng tapi bisa membuat hidup orang lain menjadi lebih enteng, daripada hidup terlihat memiliki harkat dan martabat, tapi cuman bisa membuat hidup orang lain menjadi lebih berat”.

Sebuah penggalan pesan panjang dari salah satu video akun tiktok Bang Bio. Pesan yang ingin dibahas dalam opini ini adalah, pejabat bukanlah suatu kekuasaan yang dengan kewenagannya dapat membuat orang lain menjadi terhambat untuk mendapatkan suatu haknya. Akan tetapi pesan itu akan menjadi sebuah pemanis belaka bila pejabat tersebut tidak memahami arti dari sebuah kemanusiaan.

Jabatan itu memberikan kekuasan dan kewenangan tertentu kepada pemangkunya. Kekuasaan ini dapat digunakan untuk membuat atau mempengaruhi suatu kebijakan. Namun kekuasaan ini harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab, karena penyalahgunaan kekuasaan dapat berdampak negatif bagi lembaga bahkan pada orang lain.

Suatu kebijakan yang tidak semestinya diambil, bahkan kebijakan itu yang tidak mempunyai dasar hukumnya yang kuat. Apalagi kebijakan tersebut dapat menghambat karir ataupun pendapatan orang lain dengan dalih  demi kebaikan organisasi atau lembaga. Alih-alih demi kebaikan malah hanyalah sebuah arogansi nyata yang dipamerkan di dalam tubuh lembaga.

Jabatan tidaklah hanya tentang gelar atau titel, tetapi juga tentang tanggungjawab dan kekuasaan yang menyertainya. Pemegang jabatan diharapkan untuk mengambil keputusan dan kebijakan yang tepat, mengelola sumber daya yang efektif.

Alih-alih efektif kalau jabatan itu digunakan untuk kolusi dan nepotisme. Pejabat yang sekiranya tidak mampu mengemban amanah dan tanggung jawab dari jabatannya alangkah baiknya, memberikan kesempatan pada oarang lain yang lebih mampu darinya. Karena menikamati penghasilan dari jabatannya itu adalah bentuk sebuah kezaliman pada sebuah lembaganya.

Kepada semua pejabat-pejabat, dalam sistem demokrasi, pejabat adalah pelayan masyarakat, pejabat dipilih atau diangkat untuk MELAYANI MASYARAKAT, BUKAN UNTUK MENGHAMBAT. Posisikan diri Anda sebagai pelayan yang baik yaitu pajabat memiliki tanggungjawab besar untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi rakyat, bukan malah menghambat masyarakat.

Menurut sumber ringan dan sederhana yaitu meta AI, kualitas pejabat yang baik dapat dilihat dari integritas, kompetensi dan empati. Integritas artinya sifat yang menunjukkan kejujuran, keterbukaan, konsistensi dalam tindakan dan perilaku.

Kompetensi di sini maksudnya adalah kemampuan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan tugas dengan efektif. Sedangkan empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain.

Empati bagi pejabat adalah hal yang sangat penting untuk dapat mengayomi, melindungi dan memberikan rasa nyaman pada anggotanya. Pejabat yang tidak mempunyai empati cenderung akan mejadi pejabat yang suka menghambat dan mempersulit anggotanya.

Pejabat sebaiknya juga menjadi lebih profesional dari sebelum dirinya menjadi pejabat, jangan membawa emosional terlalu besar tanpa diimbangi dengan profesional. Pejabat juga harus mau terbuka, dan tidak antikritik. Pejabat yang antikritik sering menjadikan dirinya selalu benar dan menganggap orang yang mengkritiknya selalu salah di matanya. Padahal kritik dalam sebuah lembaga adalah vitamin yang dapat menganggahkan dan membawa organisasi itu menjadi lebih berkembang. (*)

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *