Oleh : Ahmad Ainun Najib

Semua kalangan pendidikan dari SD sampai SMA guru akan senang ketika mendapati siswa yang pintar dan cepat dalam memplejari sesuatu terkait pembelajaran akademik. Mulai dari menghitung, menghafal , sampai lomba cerdas cermat dan olimpiade. Namun sedih ketika seorang siswa mempunyai keterlambatan belajar atau ketinggalan,  memahami proses pembelajaran akademik.

Dalam hal ini guru otomatis mengaitkan bahwa siswa yang cepat memahami pembelajaran tersebut di anggap cerdas atau pintar dalam sektor akademik. Namun tugas guru sudah pasti mencerdaskan dan mendorong siswa dalam pentingnya belajar sampai kapapun.

Yang bisa jadi tugas berat dimana di kelas bukan lagi homogen melainkan heterogen di tingkat sekolah dasar apalagi di lingkup sekolah menegah atas yang berada di kabupaten atau kota yang memilki berbagai macam jenis latarbelakang. Mulai dari budaya, etnis, tradisi bahakan agama.

Siswa heterogen di kelas mempunyai berbagai kekompleksitas permasalahan siswa yang mengakibatkan guru stres, seperti siswa  nakal dan kurang mampu belajar. Dalam kasus kurang mampu belajar atau kurang bisa mengikuti pembelajaran inilah yang dianggap siswa bodoh tanpa mempertimbankan aspek lainya.

Dalam hal ini ada peristiwa yang sangat menyedikhan. Sebut saja oknuum guru dari Medan yang bersumber dari detik.com. Oknum guru tersebut melakukan agresi verbal kepada dua siswa dengan memberi umpatan “bodoh dan miskin”.

Seburuk apapun kecerdasan siswa, guru tidak diperbolehkan mengucapkan hal tersebut karena masuk dalam kategori diskriminasi yang melangar pada ketentuan UU 20/2023, UU 14/2025, dan UU 23/2002. Serta banyak pasal lain yang mengarahkan guru tersebut ke diskriminasi.

Oleh karena itu, peranan guru dalam memahami ilmu psikologi atau konseling sangat penting dalam mengatasi permasalahan siswa. Namun tidak semua guru paham dan tahu dunia psikologi/konseling  yang lambat laun guru akan stres , kecewa, dan emosi. Yang berdampak efek agresi verbal bahkan agresi fisik kepada siswa tersebut.

Pendalaman mengenai stereotip keterlambatan siswa dalam belajar memilki banyak faktor yang harus diketahui oleh guru. Secara garis besar ada dua faktor internal dan external. Dalam hal faktor internal yang sering dialami seperti kurangnya motivasi , minat, kecemasan dan kemampuan. Juga IQ rendah, selain faktor external  lingkungan yang kurang mendukung, metode pengajaran yang monoton serta kurangnya perhatian indidividu dari guru.

Namun faktor internallah IQ rendah yang sering dikambinghitamkan sebagai faktor utama keterlambatan siswa atau bodoh. Padahal kalau kita menengok beberapa penelitian IQ yang rendah bisa ditingktakan melalaui stimulus dan berbagai upaya lainya. Seperti teori perkembangan kognitif, teori stimulasi otak, teori pendidikan dan lingkungan , cara ini ampuh dan terbukti dapat meningkatkan IQ.

Dalam hal ini guru perlu dan harus belajar dan jangan sampai puas dengan apa yang sudah didapat dari khuliah pada masa lalunya yang dimana penelitian dan perkambangan di dunia pendidikan cukup pesat. Dan seyogyanya guru mengatakan kata yang memberikan nasihat baik dan memotivasi siswa dalam belajar bukan malah melakukan agresi verbal terhadap siswa yang akan berdampak pada psikologis siswa tersebut.

Dalam hal ini saya setuju dengan kutipan dan aksi yang dilakukan oleh Prof Yohanes Surya, anak kelas 2 SD dari Papua yang sudah tinggal kelas 4 kali, jadi juara matematika tingkat nasional, dan juara membuat robot!  Prof Yohanes mengatakan tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari guru yang baik dan motode yang benar.(*)

 

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *