Oleh : Moh. Arvani Zakky Al Kamil
Semenjak dulu hingga sekarang spiritualitas menjadi bahan perbincangan dan motif dasar manusia untuk bergerak pada arah kebaikan. Seorang ilmuwan spiritualitas, Elkin dan peneliti lainnya, di tahun 1988 mencoba mendefinisikan dan mendeskripsikan spiritualitas berdasarkan tulisan-tulisan para psikolog ulung. Sepeti Abraham Maslow, John Dewey, William James, Carl Jung, Rudolf Otto, Gordon Allport, Mircea Eliade, Martin Burber, Erich Fromm, dan Viktor Frankl. Berdasarkan penelusuran literatur yang dilakukan, Elkins dan ulama psikologi lainnya menemukan bahwa spiritualitas berasal dari bahasa Latin spirit yang berarti nafas kehidupan,
Sehingga spiritualitas adalah cara individu mengalami yang terjadi melalui kesadaran akan entitas dimensi transenden dan ditandai dengan nilai-nilai tertentu yang diterima oleh individu, orang lain secara normal, kehidupan, dan kesehatan. Apa pun yang dianggap sebagai nilai akhir. Spiritualitas memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan.
Banyak orang mengira spiritualitas adalah ritus peribadatan yang dijalankan oleh orang beragama. Namun kenyataannya spiritualitas lebih dari itu. Orang disebut spiritual bukan orang yang paling banyak salatnya atau paling sering pergi ke kuil. Orang yang disebut paling spiritual bukan orang yang paling banyak membaca kitab suci atau paling sering memutar rosario.
Justru spiritualitas adalah ingatan manusia kepada entitas tertinggi atau kemahagungan yang tak tertandingi, dengan sebanyak-banyaknya ingatan sebagaimana sebanyak orang bernafas, karena makna spirit itu adalah nafas tersendiri.
Inti spiritualitas adalah transendensi, yang kemudian diikuti berbagai dimensi lain yang mengandung kebaikan dan keberpasrahan manusia terhadap apa yang ia rasa benar-benar tak mampu.
Manusia memang harus menyadari betapa kelemahan dan kekurangan dirinya, sehingga satu-satunya jalan ialah merasakan berpasrah dan diikuti perilaku pasrah yang membawanya pada keseimbangan hidup yang adil. Dalam konsepsi Psikolog Sosial Lerner, di dunia ini terdapat belief in just word yang dimaknai orang selayaknya mendapatkan apa yang benar-benar ia layak usahakan atau perbuat. Dengan keterhubungan ini, spiritualitas adalah jalan berpasrahnya manusia melalui apa yang sudah ia usahakan sebaik mungkin dengan prinsip-prinsip kebaikan yang ia lakoni.
Sekali lagi inti spiritualitas adalah transendensi. Orang beragama bisa mengartikan transendensi ini sebagai ingatan ketuhanan yang paling sakral. Sedang golongan lain bisa juga memaknai transendensi sebagai kekuatan mahabesar di luar dirinya yang sungguh ia sebagai manusia teramat lemah dan tak mungkin menandinginya, -mereka bebas menamainya sendiri.
Sehingga transendensi dalam psikologi spiritualitas adalah transendensi yang melampaui ritual peribadatan, tapi ingatan akan kemahabesaran di luar diri manusia, yang disertai tindakan kebaikan seperti rasa empati, kepasrahan akut setelah ikhtiar luar biasa, altruisme dengan tujuan hidup yang bermakna, kesucian dari setiap proses kehidupan.Kesemua itu dijalani dengan kesadaran yang paling sadar.
Alhasil, spiritualitas adalah jalan manusia mengenal keagungan hidup. Jika dalil yang kita perdengar adalah man arafa nafsahu faqod arafa rabbahu, maka dalam psikologi spiritualias mengenal diri adalah juga mengenal agungnya proses kehidupan yang sedang dijalani dengan penuh kesadaran.(*)
