Oleh : Ummidlatus Salamah
Bekerja sesuai passion tapi gaji kecil, atau bekerja tidak sesuai passion tapi gaji besar? Apabila dihadapkan pada dua pilihan tadi, kira-kira apa yang akan kita pilih.
Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja menjumpai konten di salah satu platform yang membahas tentang kegalauan generasi muda akan pekerjaan mereka yang tidak sesuai passion. Banyak di antara mereka mengatakan kalau pekerjaan mereka sekarang ini tidak sesuai passion dan berharap suatu saat nanti bisa bekerja sesuai dengan yang mereka sukai.
Setelah melihat fenomena tersebut muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya passion itu penting atau tidak? Banyak orang bermimpi mempunyai pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka. Namun, ada satu pertanyaan besar yang pelu dijawab, “apakah mengejar passion itu benar-benar penting?
Atau justru ada hal lain yang lebih penting, seperti kestabilan finansial”. Dari pertanyaan itu, kita perlu memandang passion dari sudut pandang yang lebih realistis.
Passion sendiri bukanlah sesuatu yang mudah didefinisikan. Mengapa saya mengatakan demikian, karena apa yang kita anggap sebagai passion hari ini bisa saja berubah dalam beberapa bulan atau tahun ke depan.
Kita ambil contoh misalnya, seseorang sangat bersemangat dalam fotografi selama beberapa minggu, tetapi setelah menyadari bahwa penghasilannya minim dan tidak menentu, ia akan mulai mempertanyakan, apakah ini benar-benar passion saya.
Artinya, passion tidak hanya tentang kesenangan, tetapi juga berkaitan dengan kepuasan jangka panjang dan berkelanjutan.
Coba kita breakdown, kita bisa mengatakan bahwa sesuatu adalah passion kita jika, pertama, kita melalukan sesuatu yang kita sukai. Kedua, sesuatu itu bermanfaat bagi orang lain, dan ketiga, sesuatu itu mendapat apresiasi.
Ketika seseorang menjadi guru misalnya, ia bisa merasa senang mengajar, merasa berguna karena muridnya bertambah pintar, dan mendapat apresiasi dari orang lain. Jika ketiga hal tersebut terpenuhi, seseorang bisa menganggap itu passion.
Kenyataannya, ketiga hal tersebut bisa kita dapatkan dari semua pekerjaan yang kita lakukan. Bisa jadi sesorang mengatakan ia tidak suka bekerja di tempat A, tapi begitu ia kerja di tempat A bosnya sering mengapresiasi pekerjaannya, rekan-rekan kerjanya mengapresiasi hasil kerjanya, perusahaannya maju karena dia. Sudah bisa dipastikan dia akan betah bekerja di sana.
Jadi intinya, passion itu bisa shifting, karena berbicara tentang passion adalah berbicara tentang hati. Dan hati manusia akan bahagia, ketika berguna buat orang lain, diapresiasi orang lain, dan ketika memang bisa/mahir melakukannya.
Dalam realitasnya, mengejar passion tidak bisa dilepaskan dari kondisi finansial seseorang. Jika seseorang berasal dari background keluarga yang cukup mampu dan tidak mempunyai beban finansial besar, ia bisa leluasa mengejar passion tanpa banyak kekhawatiran.
Namun, bagi mereka yang harus menopang kehidupan keluarga, membiayai orang tua atau menanggung biaya pendidikan saudara, maka mengejar passion tanpa memikirkan penghasilan bisa menjadi keputusan yang tidak bijak.
Maka yang bisa dilakukan adalah jika kebutuhan dasar belum terpenuhi, maka mencari pekerjaan yang stabil secara finansial harus menjadi prioritas. Passion bisa dilakukan secara bertahap, atau ditemukan dalam pekerjaan yang awalnya tidak disukai namun bisa ditemukan passion darinya, seperti yang telah kita bahas sebelumnya.
Banyak orang yang awalnya bekerja di bidang yang tidak sesuai passion, tetapi akhirnya menemukan kepuasan karena merasa dihargai, berguna, dan mampu berkembang di bidang tersebut.
Pada akhirnya, passion bukanlah sesuatu yang mutlak. Passion berkembang seiring dengan pengalaman dan perubahan hidup. Seseorang mungkin merasa tidak cocok dengan pekerjaan di awal, tetapi ketika ia mendapat apresiasi dan melihat dampak positif dari pekerjaannya, rasa suka itu bisa muncul.
Mengejar passion itu penting, tapi tidak boleh mengorbankan kestabilan finansial. Jika ada kesempatan untuk mengejar passion tanpa mengorbankan kebutuhan dasar, maka lakukanlah.
Namun jika keadaan belum memungkinkan, prioritaskan dulu kestabilan, lalu cari cara agar passion bisa tetap dilakukan. Karena kebahagiaan datang bukan hanya dari melakukan sesuatu yang kita suka, tetapi juga dari perasaan berguna dan dihargai orang lain.(*)
