CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90
Oleh : Hibrul Umam
Banyak mindset orangtua bahwa dalam hal mendidik anak dilimpahkan kepada guru sepenuhnya. Padahal orangtua harus berusaha keras dalam mendidik anak, agar mereka bisa berfikir, bertindak, sesuai dengan norma. Sehingga anak akan mengerti batasan-batasan yang harus dijaga.
Pendidikan dalam keluarga merupakan suatu hal yang sangat penting, maka pembentukan pendidikan dalam keluarga harus ada meskipun dalam format yang paling sederhana (Mujib, 2010:226).
Proses pendidikan dalam keluarga diharapkan dapat membentuk karakter anak, sehingga ia menjadi manusia yang berkarakter dan bersikap dengan berlandaskan agama dan pancasila. Dalam Al-Quran tercantum bahwa anak merupakan salah satu “hiasan hidup” serta “sumber harapan”.
Subjek utama dalam pendidikan adalah seorang anak, maka diharapkan anak dapat mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan keluarga adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan.
Karena dengan hal tersebut maka dapat mendorong anak untuk menjadi manusia yang lebih baik, dewasa, bijak, serta dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Yakni dengan menggunakan logika yang dihubungkan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sehingga muncul sebuah solusi.
Pendidikan keluarga memiliki peran penting bagi orang yang akan berumah tangga. Dengan adanya pendidikan keluarga maka seseorang akan mengerti apa yang menjadi kewajibannya saat sudah berkeluarga agar tidak terjadi banyaknya angka perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.Dan di sisi lain juga berdampak pada psikologis anak.
Orang tua dalam mendidik anak pasti banyak menemukan permasalahan, dan untuk memecahkan masalah itu maka mencari solusi terbaik yang berdasarkan Al- Qur’an dan Al-Sunnah karena di dalamnya banyak terdapat nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Keluarga Dalam Mendidik Anak
Keluarga menjadi tempat pendidikan yang pertama dan utama untuk anak-anak, karena di situ anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya dan ia akan menerima pendidikan yang disampaikan oleh orangtuanya.
Keluarga juga berperan penting dalam pertumbuhan anak-anaknya baik dalam jasmani maupun rohani, contohnya dalam hal kesehatan, pengetahuan, kebiasaan, dan keterampilan.
Orangtua memiliki peran besar dalam mendidik anak-anaknya sebelum memasuki sekolah. Tugas yang harus dilakukan adalah membantu anak mengembangkan bakatnya, membantu anak menemukan apa kemampuannya dalam hal berfikir, dan membantu anak untuk mengembangkan moralnya.
Ayah dan ibu harus memiliki strategi untuk pembelajaran anaknya, agar ia tidak mudah bosan dan mudah menerima pengetahuan yang disampaikan, selain itu ayah dan ibu juga harus memfasilitasi
Artinya orang tua harus meluangkan waktunya untuk mendampingi belajar anaknya (Jamal Ma’mur Asmani, 2011:188). Orangtua memiliki kontribusi yang besar dalam keberhasilan pendidikan, karena dari orangtua anak membutuhkan arahan, nasehat, dan semangat sehingga anak giat untuk belajar.
Pada era modern ini iptek sangat berkembang pesat, jadi tugas orangtua adalah mendampingi anak-anaknya agar dapat membedakan mana hal yang baik dan boleh dilakukan serta mana hal buruk yang tidak boleh dilakukan.
Strategi pendidikan dalam menghadapi tantangan modernisasi mencakup ruang lingkup motivasi kreativitas anak, menjadikan nilai-nilai islami sebagai pedoman hidup, mendidik keterampilan, serta menanamkan sikap dan wawasan yang luas (Hasbullah, 1996:17).
Orangtua harus selalu mengawasi anak-anaknya ketika belajar di rumah dan saat bermain gadget, anak diberi waktu saat bermain gadget sehari hanya 2 jam agar anak terbiasa disiplin. Pengawasan orangtua sangat diperlukan supaya anak tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak baik.
Pertama kali anak belajar berkomunikasi yaitu dalam keluarga, anak juga berusaha untuk mengenali dirinya, dan bakatnya. Keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik anak, karena keluarga merupakan media untuk anak belajar berkomunikasi dan berinteraksi untuk pertama kalinya. Selain itu melalui pendidikan keluarga anak akan belajar menegenali karakternya sendiri seperti apa. Dengan hal tersebut anak akan membentuk perilaku yang kemudian menjadi sebuah kebiasaanya pada dirinya dan kemudian akan melekat menjadi karakter anak tersebut serta menjadi ciri khas kepribadiannya (Syahrial Labaso, Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2018).
Dengan adanya pendidikan keluarga diharapkan anak dapat tumbuh menjadi manusia yang memiliki watak dan kepribadian baik dan selalu berpedoman pada agama.
Seseorang yang terdidik karakternya dengan baik maka akan mempunyai sifat komitmen, loyalitas, kesadaran dan kemauan dalam berpegang dan mematuhi etika. Hal ini sejalan dengan penjelasan bahwa: “The essence of symbolic meanings, or of moral knowledge is right deliberate action, that what person ought volunterily to do” (esensi dari makna-makna etika atau pengetahuan moral adalah perilaku yang baik yang dilakukan secara sengaja ( Zubaedi, 2011:24).
Masa kanak-kanak merupakan masa yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan psikologi dan agama seorang anak. Oleh karena itu pada masa ini orangtua harus ekstra ketat dalam mendidik anaknya.
Contohnya kita membiasakan anak untuk menggunakan tangan kanan dalam mengambil, memberi, makan, minum, menulis, menerima tamu dan mengajarkan untuk membaca basmalah saat memulai pekerjaan dan mengucapkan hamdalah saat pekerjaanya selesai (Zakiyah Darajat, 1993:2). Masa kanak-kanak merupakan masa keemasan dengan kapasitas yang dapat dimaksimalkan, sehingga peran orangtua dalam menanamkan segala bentuk ajaran positif sangatlah penting untuk pedoman hidup anak.
Langkah-langkah yang Dilakukan Dalam Mendidik Anak
Dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi manusia yang baik dan berakhlakul
karimah adapaun langkah-langkah yang harus dilakukan, antara lain:
Membangun rasa percaya diri
Manusia memiliki tugas dalam hidup ini di antaranya adalah menjalankan peranan dengan sempurna, dan selalu menambah kesempurnaanya sampai akhir hayat, hingga menjadi orang muslim yang paling mulia yang bertaqwa.
Manusia tidak bisa menjalankan perannya dengan ideal tanpa adanya pengetahuan yang dimiliki dan berkaitan dengan peranan itu serta kemauan dan kemampuan untuk menjalankannya (Maimunah hasan, 2011:45).
Oleh sebab itu manusia harus mengembangkan berbagai potensi yang ada di dalam dirinya. Salah satu cara untuk mengembangkan potensi manusia adalah dengan membangun rasa percaya diri, ketika manusia memiliki rasa percaya diri maka ia dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Dengan rasa percaya diri seseorang akan melakukan suatu hal dengan penuh keyakinan, sehingga ia akan merasa mantap dengan apa yang telah menjadi keputusannya.(Sukardi, 2016).
Mengajarkan keimanan
Orangtua harus mengajarkan keimanan agar anak dapat meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya, salah satu cara agar anak meniru maka orangtua juga melakukan apa yang diajarkan kepada anaknya.
Contohnya melakukan salat. Ketika anak melihat orangtua melakukan salat, maka anak akan menirukannya dan terbiasa melakukan salat dalam kesehariannya (Helmawati, 2017:36). Disamping itu orangtua tua juga menjelaskan apa itu sholat, dan apa fungsinya, serta mengapa harus melakukan salat
Hal tersebut dilakukan agar anak dapat memahai apa itu sholat dan fungsinya, serta anak mengetahui sebab dan akibat jika tidak melaksanakan sholat. Dengan begitu ketika anak akan meninggalkan kewajibannya, maka ia akan berfikir seperti apa dampaknya.
Mengajarkan kedisiplinan
Menanamkan disiplin pada anak paling bagus adalah saat anak menginjak usia dini yaitu rentan usia 4 tahun. Mengajarkan kedisiplinan pada anak dapat dimulai dari hal-hal sederhana ajarkan ia untuk bangun pagi dan membantu ibu membereskan rumah dengan menyapu lantai, mandi dan makan tepat waktu, menaruh sepatu pada rak sepatu.
Dengan mengajarkan kedisiplinan maka anak anak akan terbiasa untuk disiplin dalam hidupnya, ini akan terbawa sampai ia dewasa. Menurut pendapat Sukino pembentukan akhlak mulia harus dibiasakan dari sejak awal anak memasuki lingkungan baru baik ketika di rumah atau disekolah.
Jadi setiap hal kecil yang diajarkan sejak dini dan selalu dilakukan maka itu akan menjadi kebiasaan dan terbawa sampai ia dewasa. Ia akan mengerti sebuah batasan waktu dan apa yang harus dilakukan pada saat itu. (Sukino & Muttaqin, 2019).
Mengajarkan mandiri
Anak pada usia dini cenderung memiliki sifat manja kepada orangtuanya, hal ini tidak baik jika dibiasakan. Sebagai orangtua kita harus mengajarkan anak untuk mandiri, contohnya memakai sepatu sendiri, memakai baju sendiri, mandi sendiri, berangkat sekolah sendiri.
Ketika dari kecil anak dibiasakan mandiri maka sampai dewasa ia akan mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Orangtua harus mengajarkan mandiri kepada anak sejak ia kecil, sehingga ia terbiasa melakukan hal apapun sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.
Kemandirian yang dilatih sejak kecil akan sangat berdampak besar saat ia dewasa, contohnya ketika ia mempunyai masalah dan ia yakin mampu dapat mengatasi maslahnya sendiri tanpa merepotkan orang lain.
Mengajarkan tanggung jawab
Setiap perbuatan yang dilakukan maka akan dimintai pertanggungjawaban. Karakter tanggung jawab harus ditanamkan pada anak sejak usia dini, sebab ia akan mengetahui konsekuensi dari hal apapun yang ia lakukan. Cara menenamkan sifat tanggung jawab pada anak adalah dengan membiasakan anak agar mengerjakan tugas sekolah sendiri.
Ketika anak tidak mengerjakan tugas sekolah maka otomatis ia tidak akan mendapatkan nilai, sehingga dalam pikirannya akan terbiasa jika ada tugas harus dikerjakan sampai selesai. Anak akan selalu berfikir dalam bertindak, karena ia tahu setiap sebab akibat yang dia lakukan ada dampaknya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Mengajarkan kejujuran
Mengajarkan anak untuk memiliki sifat jujur bukanlah hal yang mudah, maka sejak dini anak harus ditanamkan sikap jujur. Orangtua sendiri harus membiasakan bersifat jujur, agar anak menirunya. Dengan sifat jujur maka kehidupan seseorang akan tenang.
Sekalipun anak salah ketika ia jujur seharusnya orangtua tidak memarahinya, namun menasehatinya dengan lembut. Contoh dalam menanamkan sikap jujur adalah ketika ia diminta untuk membelikan sesuatu jika ada kembalian maka ia harus memberitahu ibunya dan meminta ijin jika ingin menggunakan uang tersebut. Anak diajarkan untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya jika melakukan kesalahan.
Mengajarkan bersabar
Anak adalah seseorang yang memiliki sifat egosentris, ia selalu memiliki pikiran bahwa apa yang menjadi keinginan maka harus terjadi, disini orangtua memiliki kewajiban mengajarkan anak untuk bersabar.
Dalam kehidupan seseorang mengalami banyak cobaan,dengan rasa sabar maka cobaan itu dapat terlewati. Cara mengajarkan kesabaran pada anak dapat dilakukan dari sebuah hal kecil, misalnya bersabar untuk menanti giliran bermain, antri untuk membayar di swalayan, dan lain-lain.
Sabar adalah kunci kesuksesan manusia dengan menjalankan perikalu sabar tujuan hidup akan dapat diraih (Sukino, 2018)
Mengajarkan memaafkan
Setiap orang pasti pernah melakukan sebuah kesalahan, dan sebaik-baiknya manusia adalah yang memaafkan. Sifat memaafkan sangat penting untuk ditanamkan pada anak sejak dini, agar anak memiliki sifat pemaaf dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki kesalahannya. Cara yang diajarkan adalah ketika anak melakukan kesalahan, contohnya menumpahkan air minum di lantai, lalu ia dimaafkan dan disuruh segera mengelap lantai yang terkena air.
Dengan begitu anak akan meniru apa yang orangtuanya lakukan dan ketika temannya melakukan salah maka ia akan terinspirasi dari apa yang pernah di dilakukan orangtuanya yaitu memaafkan dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Setiap anak pasti akan merekam dalam pikirannya berdasarkan apa yang ia lihat dan ia dengar, maka disitulah orangtua harus selalu memberi contoh yang baik dalam memperlakukan seseorang dan salah satunya adalah dengan memaafkan seseorang dengan iklas.
Metode Pendidikan
Metode pendidikan mempunyai peranan penting, sebab merupakan jembatan yang menghubungkan pendidik dengan peserta didik menuju ke tujuan pendidikan yaitu terbentuknya pribadi yang berkarakter baik.
Proses pembelajaran harus berjalan dengan menyenangkan agar peserta didik akan mudah menerima materi pelajaran yang disampaikan. Karena proses pembelajaran akan terasa nyaman dan santai tanpa keterpaksaan. Adapun metode-metode tersebut sebagai berikut:
Metode Teladan
Pendidikan melalui metode keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan yang efektif, sehingga Allah mengutus Nabi Muhammad SAW menjadi contoh yang baik bagi semua orang. Metode keteladanan merupakan metode yang paling mudah untuk diterapkan, karena seorang anak akan meniru apa yg di contohkan secara terus-menerus.
Metode Melalui Nasehat
Manusia memiliki sifat yang berubah-ubah dan dapat dengan mudah terpengaruh oleh kata-kata yang didengar. Pembawaan itu kadang tidak tetap dan oleh karena itu kata-kata harus diulang-ulang. Nasehat yang lembut dan penuh kasih sayang akan mengubah anak menjadi pribadi yang baik.
Metode Melalui Hukuman
Apabila teladan dan nasehat tidak mempan, maka waktu itu harus diadakan tindakan tegas yang dapat meletakkan persoalan di tempat yang benar. Hukuman sesungguhnya tidak mutlak diperlukan, karena manusia tidak selalu memliki sifat yang sama. Metode hukuman dapat diimplementasikan ketika anak sudah tidah bisa di beri teladan dan nasehat.
Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan, yang dikemukakan oleh pendidik yang harus dijawab peserta didik. Metode tanya jawab dimulai dengan mempersiapkan pertanyaan yang diangkat dari bahan pelajaran yang akan diajarkan, mengajukan pertanyaan, menilai proses tanya jawab yang berlangsung, dan diakhiri dengan tindak lanjut (Nata, 2009:187).
Kesimpulannya, pendidikan merupakan suatu proses agar siswa dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin dalam lingkungannya. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap sikap dan pemikiran, maka orangtua harus mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak serta mengimplikasikan dalam kehidupannya agar anak tak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.
Pendidikan dan keluarga memiliki kaitan yang sangat erat, karena pendidikan pertama kali dilakukan dan di ajarkan oleh orangtua yaitu ayah dan ibu. Pendidikan telah ada semenjak munculnya peradaban manusia, semenjak awal mula manusia diciptakan upaya membangun peradaban selalu dilakukan.
Melalui proses pendidikan yang benar dan baik maka cita-cita ini diyakini akan terwujud dalam realita kehidupan manusia. Sedangkan keluarga adalah kelompok kecil yang memiliki pemimpin dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya.
Keluarga inti adalah Ayah, Ibu, dan anak. Keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama dimana anak-anak belajar. Dari keluarga mereka belajar berbicara, berkomunikasi, mempelajari keyakinan dan keimanan, berinteraksi sosial, dan mempelajari sifat-sifat mulia.(*)
