Oleh : Imam Supriyadi
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tuban tahun 2024 mencapai 72,31, meningkat 0,91 poin (1,27 persen) dibandingkan tahun sebelumnya (71,40). Selama 2021–2024, IPM Kabupaten Tuban rerata meningkat sebesar 0,96 persen per tahun.
Peningkatan IPM Kabupaten Tuban 2024 terjadi pada semua dimensi, baik umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Pertumbuhan IPM Kabupaten Tuban 2024 mengalami percepatan dari tahun sebelumnya. Seluruh dimensi pembentuk IPM mengalami peningkatan, terutama pengetahuan.
Pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, bayi yang lahir pada tahun 2024 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 74,95 tahun, meningkat 0,18 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir pada tahun sebelumnya. Sumber data umur harapan hidup saat lahir menggunakan hasil proyeksi penduduk LF SP2020.
Pada dimensi pengetahuan, harapan lama sekolah (HLS) penduduk umur 7 tahun meningkat 0,27 tahun dibandingkan tahun sebelumnya, dari 12,27 menjadi 12,54 tahun. Sedangkan rerata lama sekolah (RLS) penduduk umur 25 tahun ke atas meningkat 0,13 tahun, dari 7,40 tahun menjadi 7,53 tahun pada tahun 2024. Sumber data HLS dan RLS menggunakan hasil Susenas Maret.
IPM tertinggi Jawa Timur tercatat di Kota Surabaya sebesar 84,69, sementara untuk tahun sebelumnya ada Kota Malang. Terdapat 7 (tujuh) daerah dengan IPM berkategori “sangat tinggi”, yaitu Kota Surabaya, Kota Madiun, Kota Mojokerto, Kota Kediri, Kota Malang, Kota Blitar, dan Kabupaten Sidoarjo. Daerah dengan kategori IPM “tinggi” sebanyak 28 kabupaten/kota, sedangkan daerah berkategori IPM “sedang” sebanyak 3 kabupaten/kota. Kabupaten di Jawa Timur yang IPM-nya “naik kelas” tahun ini adalah Kabupaten Jember dari IPM berkategori “sedang” ke “tinggi”.
Kota Malang mempunyai HLS tertinggi sebesar 15,79 tahun, dan terendah tercatat di Kabupaten Bangkalan sebesar 11,98 tahun. Sementara itu, RLS tertinggi tercatat di Kota Madiun sebesar 12,11 tahun dan yang terendah masih dipegang Sampang dengan RLS sebesar 5,08 tahun.
Realita di Tuban tidak sedikit anak selepas Sekolah Dasar dan banyak tidak mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di SMP atau MTs. Demikian juga banyak anak selepas SMP atau MTs enggan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian yang dekat lokasi tambang batu kumbung lebih suka bekerja menggergaji batu kumbung, yang tanpa butuh teori-teori yang njlimet. Sebagian di pesisir ikut orang tua atau tetangga memilih mbelah atau mencari ikan di laut dari pada ke sekolah.
Maka perlu dicari solusi yang bisa membantu lembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah mengubah pola pendidikan dan kurikulum lokalnya agar peserta didik memiiliki kebiasaan yang positif demi masa depan mereka menyambut generasi emas tahun 2040.
Sekolah atau madrasah tidak hanya menjalankan kegiatan akademik, tidak hanya mengejar prestasi anak di bidang akademik, tetapi perlu kegiatan-kegiatan pilihan sesuai dengan keinginan dan hajat anak peserta didik.
Pembinaan khusus mereka perlu dikelola dengan baik walaupun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. JER BASUKI MOWO BEYO. Orang tua wali murid perlu diajak berfikir demi bakat dan kesuksesan anaknya. Sekolah atau madrasah harus bekerjasama dengan paguyuban orangtua wali murid . Dari merekalah akan ada orang peduli baik secara finansial maupun non finansial.
Dengan semakin banyak kegiatan non akademik dan sekolah atau madrasah akan menciptakan anak cinta sekolah dan berkeinginan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dari sinilah akan mendongkrak HLS. Dengan meningkatnya HLS makan akan mendongkrak Indek Pembangunan Manusia.(*)
