Oleh: Nurul Hakim, Alfaqir

Penuntut ilmu sebisa mungkin diharapkan agar memurnikan niatnya tatkala menuntut ilmu. Pernyataan ini tentu tidak mudah untuk dilaksanakan. Terlebih pada kehidupan era kontemporer ini. Tentu, tantangan hidup serta pilihan jurusan dalam studi semakin kompleks juga.

Seiring dengan kekomplekan dan tantangan kehidupan yang demikian itulah yang membuat niat para penuntut ilmu sekarang ini juga mengalami perubahan. Jika dahulu, para generasi sebelum era kita, tatkala menuntut ilmu, niatnya betul-betul murni karena Allah.

Namun untuk era sekarang ini, niat tersebut ditepis oleh berbagai pihak. Mereka yang menepis kemurnian niat ini menggunakan satu alasan bahwa mereka hidup di atas bumi. Di mana orang yang hidup di atas bumi tentu membutuhkan finansial dalam melestarikan kehidupannya.

Untuk mendapatkan finansial, seseorang butuh untuk bekerja. Dan orang dapat bekerja di suatu instansi tertentu, karena ia mengajukan diri.

Polapikir yang semacam ini tidak salah, namun kurang tepat. Mengapa kurang tepat? Dalam pribadi orang yang semacam ini masih tertanam rasa kekhawatiran.

Ia khawatir setelah ia lulus dari studinya, ia tidak mendapatkan peluang kerja. Akhirnya, kehidupannya terus dihantui oleh kecemasan dan kekhawatiran. Jiwanya belum tenang sebelum ia mendapatkan peluang bekerja.

Sebenarnya orang-orang yang beilmu atau para ilmuan atau para professional, tidak perlu risau dan khawatir tidak akan mendapatkan peluang atau tempat bekerja. Sebab, Allah sendirilah yang akan menjaminnya tatkala ia sudah menjadi seorang professional.

Gelar profesional tidak akan pernah didapat, kecuali orang ini benar-benar mempelajari dan mendalami keilmuan yang sedang digeluti dengan penuh kesungguhan. Orang yang belajar dengan penuh kesungguhan hanyalah orang yang memurnikan niat karena Allah.

Orang yang demikian itulah yang belajar dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar tekun mempelajari keilmuan yang sedang digelutinya. Sebab, ia ingin memerangi kebodohan yang ada dalam dirinya. Orang yang semacam inilah yang kelak di kemudian hari akan menjadi professional.

Hal ini akan berbeda dengan orang yang tidak memurnikan niatnya karena Allah di dalam menuntut ilmu. Di dalam jiwa orang yang semacam ini, masih terselubung tendensi-tendensi lain. Dengan kata lain, dalam jiwa orang yang semacam ini, masih ada niatan-niatan untuk menjadi sesuatu—jabatan-jabatan tertentu.

Akhirnya, tatkala ia dalam masa studi, niatnya hanya satu, yaitu mendapatkan ijazah. Dengan harapan, ijazah tersebut dapat digunakan untuk melamar pekerjaan tatkala ia sudah lulus nantinya.

Jenis orang yang semacam inilah yang sering kita dapati sekarang ini. Dan tidak jarang juga kita dapati justru orang yang semacam inilah yang mengalami kegagalan untuk mendapatkan pekerjaan.

Hidupnya hanya disibukkan berjalan dari satu instansi ke instansi lain, guna menjual atau menawarkan ijazahnya. Jika ijazahnya tidak laku—karena semua instansi tidak menerima/menolaknya—ia menjadi stress berat. Akhirnya, jiwanya goncang dan goyah.

Mengenai hal ini, Nabi telah mengingatkan agar penuntut ilmu benar-benar memurnikan niatnya karena Allah, bukan karena yang lain.

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (أخرجه الترمذى)

Barang siapa belajar suatu ilmu karena selain Allah, atau menghendaki dengan ilmu itu selain Allah, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka” (H.R. Tirmidzi).

Dua model manusia diingatkan oleh Nabi, pertama, penuntut ilmu yang tidak memurnikan niatnya tatkala ia sedang studi. Kedua, penuntut ilmu yang sudah selesai dari studinya, yang ia menghendaki dengan keilmuan yang sudah diperolehnya itu untuk suatu kepentingan tertentu.

Kedua model manusia inilah yang disindir oleh Nabi bahwa hendaknya orang-orang yang semacam ini mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka.

Neraka merupakan tempat yang penuh dengan siksaan. Karena itulah neraka merupakan tempat kesengsaraan. Tentu saja, neraka—yang sifatnya demikian—keberadaannya masih abstrak. Ia baru akan dijumpai tatkala di akhirat nanti.

Padahal, penuntut ilmu—yang sudah selesai dari masa studinya—hidup di atas bumi. Jika ia menunggu neraka yang semacam ini, berarti ia baru akan menemukannya pasca meninggal. Jika demikian adanya, keberadaan hadis ini, juga baru bisa dirasakan setelah meninggal—khususnya di akhirat nanti.

Neraka dalam hadis di atas, hanyalah merupakan simbol. Yaitu simbol dari tempat yang penuh kesengsaraan. Dan orang yang sengsara berarti ia merupakan orang yang hina.

Jika hal ini dihubungkan dengan hadis di atas, berarti orang yang sedang menuntut ilmu yang tidak memurnikan niatnya karena Allah, atau juga setelah ia memperoleh suatu keilmuan tersebut, dia tidak memanfaatkan keilmuannya tersebut untuk kepentingan Allah, maka orang ini akan dihinakan oleh Allah.

Hal ini dapat dimaklumi, karena penuntut ilmu yang tidak memurnikan niatnya karena Allah, pastilah ia kurang bersungguh-sungguh dalam belajar. Dan jika ia kurang sungguh-sungguh untuk belajar, niscaya ia tidak akan menjadi alim (professional).

Tatkala ia tidak menjadi profesional inilah ia akan sangat kelihatan kebodohannya. Sebab, jika ia ditanya oleh seseorang, ia menjawab tidak sampai detail. Ditambah, jika pertanyaannya lebih dalam, ia akan semakin tidak bisa menjawabnya.

Pada saat inilah, orang-orang akan mengetahuinya, bahwa ia bukanlah seorang professional—dalam suatu bidang keilmuan—melainkan ia hanya seorang yang—kira-kira—merasa tahu tentang permasalahan itu, padahal ia bukanlah pakar dari bidang tersebut.

Pada saat kelihatan kebodohannya, bahkan terbongkar, ia akan menjadi hina. Manusia yang ada di sekelilingnya, lambat laun akan menjauhinya.

Begitulah gambaran dari orang yang tidak memurnikan niat tatkala ia menuntut ilmu. Mungkin jenis orang yang seperti inilah yang hendaknya dihindari. Hal ini sesuai dengan petunjuk Nabi, agar kita tidak menyerahkan suatu perkara kepada yang bukan ahlinya. Sebab, orang yang bukan ahli (profesional) justru akan membuat kerusakan belaka. Waallahu A’lam.(*)

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *