Sumber gambar : kahabanet


Banyak yang bercita-cita menjadi guru. Sebab, guru ada pekerjaan yang mulia mencerdaskan generasi bangsa, menjadi kunci utama dalam perubahan peradaban. Banyak sekali calon-calon sarjana pendidikan muda yang dicetak oleh Universitas Negeri ternama dan Swasta.

Apapun itu profesinya baik presiden, polisi, bidan, pilot, dan apapun semua membutuhkan guru, awalnya mereka belajar dari sosok seorang guru, oleh karena itu guru merupakan sosok yang luar biasa pentingnya.

Namun jika melihat nasib-nasib guru honorer yang sekarang yang tak kunjung ada nasib baik tentu sangat miris rasanya, melihat mereka yang tanpa pamrih mencerdaskan generasi bangsa, dengan sabar berjuang untuk mewujudkan perubahan namun gajinya jauh dari kata sejahtera jauh dari kata UMR kabupaten kota.

Gaji guru honorer sudah bukan rahasia lagi, sudah banyak yang tau tentunya. Namun anehnya masih banyak yang berlomba-lomba ingin menjadi guru padahal jauh dari gaji tinggi tapi masih diminati.

Nasib Guru sekarang juga tidak bisa menjadi pegawai negeri sipil karena pemerintah telah merubah peraturan untuk guru adalah PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) yang tentunya PPPK dan PNS ini memiliki banyak sekali perbedaan diantaranya setatus kepegawaian, gaji dan hak cuti.

Menjadi guru sendiri mempunyai tantangan yang luar biasa, salah satunya adalah menyikapi perkembangan teknologi dimasa ini, kalau murid dizaman dulu tidak mengenal internet di zaman sekarang ini. Para murid sudah menggunakan internet semua yang jangkauannya sangat luas, bisa menjadi hal yang positif bila digunakan dengan baik. Namun, bisa menjadi negatif pula jika digunakan berlebihan dan diluar batasan.

Dalam hal ini, peran guru sangat diperlukan sebab guru harus mampu menarik perhatian siswanya. Harus mampu menguasai teknologi yang berkembang sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang tidak ketinggalan zaman dan menyebabkan kejenuhan yang berpeluang tidak diperhatikan oleh anak didiknya.

Memutuskan menjadi seorang guru berarti memutuskan untuk berjuang dan pengabdian. Dengan menomor sekiankan gaji dan mengutamakan pada keberhasilannya dalam mendidik anak didiknya, karena level kebahagiaan yang utama adalah ketika sukses mencerdaskan mereka.

Ada juga yang menjadi guru dan ditengah perjalanannya memutuskan untuk berhenti dan resign sebab terbelit ekonomi, dari segi penghasilan yang kurang untuk mencukupi keluarga. Sehingga terpaksa mereka memilih jalan terakhir mencari pekerjaan yang berpenghasilan

Sosok guru memang pengabdian bukan profesi pekerjaan, karena jika dinilai profesi pekerjaan nanti harapan utama adalah uang dan gajian. Sosok guru itu pengorbanan pantang mengeluh dan menyerah dalam mencerdaskan generasi peradaban bangsa selanjutnya.

Jika tidak ada guru dari mana bisa belajar? tidak semua orang tua mampu mengajari anak-anaknya, hal ini terbukti dari masa pandemi dimana banyak orang tua yang mengeluh merindukan sekolah tatap muka, sebab kuwalahan dalam mendidik anaknya dirumah. Hal inilah tentu menjadi bukti nyata, bahwa guru penting peranannya dan tidak semua mampu menjalankannya.

 

Penulis : Kholisatul Fauziah Pai Aksel F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.