LANTIK REKTOR : Katib Aam Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf Melantik BPP dan Rektor IAINU Tuban


IAINUonline – Badan Penyelenggara Pengelola (BPP) dan Rektor Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban dilantik untuk masa khidmat lima tahun mendatang, Kamis (28/10/2021). SK tertanggal 9 September 2021 itu dibacakan, SK tersebut habis pada 9 September 2026.

Pelantikan digelar di halaman gedung KH Hasyim Asy’ari yang merupakan gedung rektorat. Pelantikan yang dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Hari Santri Nasional tersebut merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri Nasional yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tuban.

Hadir sekaligus melantik BPP dan Rektor IAINU Tuban, Katib Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf. Sebelum melantik, Gus Yahya Cholil memastikan apakah para pengurus BPP dan Rektor itu siap untuk dilantik. Usai semua menyataka siap, kakak kandung Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas ini langsung membaiat para pengurus BPP dan Rektor kemudian membacakan kata-kata pelantikan.

Dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur hadir Husnul Maram yang sekaligus Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur. Syuriah PCNU Tuban KH.Kholilurrohman dan Ketua PCNU Tuban KH Mustasin Syukur juga hadir bersama pada pengurus PCNU lainnya. Seluruh Majelis Wakil Cabang (MWC) NU juga hadir, termasuk badan otonom (banom) dan lembaga-lembaga di bawah naungan NU.

Ketua PCNU Tuban KH.Mustain Syukur bersyukur sekarang NU Tuban punya perguruan tinggi yang megah. Dia tidak menyangka IAINU yang sebelumnya bernama STITMA bisa berkembang sedemikian bagus.

‘’Mari kita jaga dan besarkan bersama,’’ ajaknya.

NU, kata Mbah Tain, panggilan akrabnya, membutuhkan seluruh kadernya untuk terus berkhidmat dan berjuang untuk membesarkan NU. Kepada kader NU yang menjabat bupati dan wakil bupati, yakni KH Fathul Huda dan Noor Nahar Hussein diajak untuk kembali berkhidmat dui NU.

‘’Monggo dari NU untuk NU, Pak Huda dan Noor Nahar mari berkhitmad lagi di NU,’’ ajaknya.

Sementara Kepala Kanwil Kemenag Jatim Husnul Maram mengatakan, dia baru resmi dilantik menjadi kepala kanwil 8 Oktober lalu. Karena hadir Gus Yahya Cholil, dia mengatakan, bahwa Gus Yahya adalah pelopor moderasi beragama. Sedangkan moderasi beragama saat ini getol disuarakan oleh Kemenag.

‘’Gus Yahya Cholil ini pelopor moderasi beragama,  moderasilah yang bisa menyelamatkan Indonesia. Semoga dari Sabang sampai Merauke mendukung Gus Yahya,’’ kata Husnul yang mendengar bahwa Gus Yahya menjadi kandidat calon Ketua PBNU.

Saat memberi orasi ilmiah Gus Yahya Cholil mengucapkan selamat pada rektor baru IAINU Tuban. Dia menyebut, bahwa adanya perguruan tinggi di lingkungan NU karena barokah adanya kemenag. Karena, rerata perguruan tinggi di kalangan NU ya perguruan tinggi agama.

‘’Rerata sarjana NU adalah sarjana agama, karena itu perguruan tinggi yang didirikan juga agama, tidak kedokteran, teknik atau sejenisnya,’’ urainya.

Karena itu, lanjut pria asal Rembang ini, adanya rektor IAINU juga karena berkah adanya kemenag.

‘’Akhmad Zaini jadi rektor IAINU adalah berkah kemenag yang dihadiahkan negara untuk NU. adikku mosok gak tak ewangi,” katanya sambil menggojlok rektor IAINU Akhmad Zaini.

Muncul sarjana atau intelektual dari NU juga terlambat. Banyak tokoh bangsa yang muncul sebelum sampai tahun 1950 dan 1960 belum ada yang dari NU. Karena ketika pemuda di luar NU sudah di perguruan tinggi, pemuda NU masih di pesantren.

‘’Pada era 1970 an baru panen sarjana muslim tapi lagi-lagi juga bukan dari NU, ada Dawam Raharjo, Nurcholis Majid dan lainnya. Baru setelah 1980 an muncul Masdar Faried Mas’oed, Slamet Efendi Yusuf, Ali Maschan Musa yang dari NU muncul,’’ ungkapnya.

Karena kemenag adalah hadiah negara untuk NU, karena NU bisa mendirikan perguruan tinggi agama. NU harus bersyukur, cara bersyukurnya adalah kemenag kementrian untuk semua agama, karena Indonesia bukan hanya islam. Dan kemenag untuk semua muslim, karena muslim bukan hanya NU.

Untuk mengelola perguruan tinggi di kalangan NU, BPP kata Gus Yahya punya peran penting dan harus memainkan perannya. Sebab, BPP adalah dibentuk dari para pengurus NU yang di antaranya pada kiai.

Meski sudah punya pendidikan modern tidak boleh lupa dengan asal usul. Tidak boleh lupa dengan jati diri, bahwa lembaga pendidikan itu punya nafas NU. Sehingga kemampuan kognitif dan rohani atau spiritual harus bisa dicapai.

‘’Kalau sampai mahasiswa di IAINU ini tidak mempunyai kemampuan kognitif dan spiritual yang dalam, BPP saya anggap gagal berperan di sini. Maka dari itu tugas BPP lebih berat dibanding pengurus NU lainnya,’’ tegas Gus Yahya.

Karena dulu, lanjut Gus Yahya, pesantren mampu menjadi lembaga pendidikan yang mendidik dan mencetak intelektual secara paripurna. Cakap ilmu pengetahuan dan namun ilmu agamanya juga dalam. Banyak tokoh yang mengenyam pendidikan pesantren namun mumpuni di banyak bidang ilmu.

‘’Sebelum pendidikan modern muncul dan dikenalkan oleh Belanda, pesantren adalah pilihan utama kaum bangsawan atau masyarakat kelas ekonomi atas mengirimkan anak-anaknya belajar agar menjadi kaum elit dan terpelajar,’’ tandasnya.(*)

 

Penulis/editor : Sri Wiyono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.