MANDI DI LAUT : Sebagian Warga Desa Gesikharjo,Palang Mempertahankan Tradisi Dus-Dusan


IAINUonline – Warga Desa Gesikharjo selalu melakukan tradisi ‘dus-dusan’ saat Lebaran Ketupat pada pada Lebaran ke-7. Belum ada yang bisa memastikan, sejak kapan tradisi mandi bareng dengan cara menceburkan diri ke laut itu dimulai.

Mulai anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua turun ke pantai. Basah kuyub tentu mereka alami. Namun warga melakukannya dengan suka cita. Dan mandi air laut, atau warga menyebut ‘dus-dusan’ itulah tujuan mereka.

Kamis (20/5/2021) pagi, ratusan warga kembali berbondong-bondong ke laut. Dengan pakaian yang masih dikenakan, mereka langsung menceburkan diri laut lepas. Berendam di air dan merasakan benturan deburan ombak membuat mereka puas.

‘’Tidak tahu siapa yang memulai, yang jelas sudah sejak dulu tradisi dus-dusan itu sudah ada,’’ ujar Kasiyani, tokoh sepuh yang juga mantan Kepala Desa Gesikharjo.

Sejak sekitar pukul 07.00 WIB warga sudah mulai keluar rumah. Lalu, bersama-sama berjalan kaki menuju pantai yang ada di seberang jalan Daendels tersebut. Lalu mereka bersama-sama menceburkan diri ke laut.

Kejadian langka setahun sekali ini banyak menarik perhatian. Tak sedikit pendatang yang sengaja datang ke lokasi untuk mengabadikan tradisi tersebut. Karena itu, pagi ini pantai di dekat parkiran wisarta ziarah Makam Syaikh Asmaoroqondi itu disesaki warga.

Hal ini membuat Polsek Palang turun tangan. Aparat menjaga warga dan memastikan protokol kesehatan (prokes) dilaksanakan. Kepada warga yang tidak memakai masker, para polisi itu memberikan masker.

“Mandi bersama atau dus-dusan ini dilakukan warga setahun sekali. Bertepatan dalam perayaan lebaran ketupat,” ujar Yanti warga asli Gesikharjo.

Dia mengaku telah mengikuti tradisi dus-dusan sejak kecil.

“Warga percaya dengan menceburkan diri ke laut dapat menghilangkan berbagai penyakit di tubuh dan menjauhkan dari balak atau musibah,” jelasnya.

Sementara Karmani (52), salah satu warga menjelaskan, sebelum mandi warga berkumpul dan membawa ketupat di masjid. Setelah sarapan ketupat bersama, tanpa dikomando warga langsung menuju pantai dan menceburkan diri bersama-sama. Tradisi ini, katanya, sudah turun temurun.

Selain itu, tradisi mandi bersama di pantai ini juga dijadikan penguat silaturahmi antarwarga. Tak jarang, orang dari luar Desa Gesiharjo ikut mandi bersama karena punya pertalian keluarga atau ikatan dengan warga setempat.

“Entah kapan mulainya, sejak dulu orang tua mengajak seperti itu dan pasti mengajak seluruh keluarga,” tandasnya.(*)

 

Penulis/editor : Sri Wiyono

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.