Sumber gambar : Mbludus.com


IAINUonline – Pendidikan merupakan salah satu ruang dimana manusia akan belajar tentang ilmu pengetahuan.  Di dalam ruang inilah manusia memperoleh perbaikaan baik seara moral maupun intelektual. Sehingga manusia dapat bertanggung jawab pada kehidupan masyarakat tertentu.  Dewasa ini sangat ramai dalam dunia pendidikan dengan dikenalkannya pendidikan berbasisi karakter. Dari wacana tersebut, berbondong-bondonglah semua lembaga pendidikan mengimplementasikannya pada lembar-lembar perangkat pembelajaran. Lantas sejauh manakah implementasi yang sudah diterapkan.? Dan sejauh manakah pendidikan sastra pada pendidikan formal.?

Sementara pembicaraan seperti ini sudah ada sejak zaman mbah Plato sampai sekarang. Namun, sebuah upaya dan kegelisahan seorang maunusia seakan-akan turun-menurun jika kita mendengar hal-hal yang berkaitan dengan sastra/seni. Semua anak cucu adam akan mendefinisikan yang berbeda-beda tentang satu kata ini: yaitu sastra/seni. Contoh kecil, Plato dengan konsep mimesisnya, sedangakan Aristetoles dengan konsep katharsisnya.

Pembelajaran sastra dalam bingkai pendidikan sampai saat ini masih banyak permasalahan di semua kalangan pendidikan formal. Munculnya permasalahan dibarengi dengan anggapan bahwa sastra merupakan dunia yang penuh khayalan, fantasi dan cenderung fiktif. Sehingga pembelajaran sastra dianggap tidak penting bagi masa depan siswa. Tidak mengahasilkan apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa!

Meskipun hal seperti ini sudah tidak asing lagi untuk dibicarakan, namun masih terasa manis untuk kita bicarakan. Karena, jika membicarakan sastra dalam pendidikan formal maka akan memicu kekecewaan terhadap sistem pembelajaran yang ada di negeri ini. Kenapa tidak, pembelajaran olahraga akan menjadi sangat penting daripada pembelajaran sastra, lomba saent akan lebih bergengsi daripada sastra. Hal semacam inilah yang menjadi kemirisan penulis juga penggiat sastra pada umumnya. Seakan-akan sastra adalah anak haram yang terbuang. Sehingga wajar jika pelajar saling membunuh, tawuran, dan pemorkasaan, ada pelajar menghamili temannya, itu karena tidak ada kontrol secara emosional.

Hal semacam inilah sering kita jumpai melalui media sosial yang akhir-akhir ini generasi bangsa sudah masuk dalam lembah jahiliyah modern. Dengan demikian, melalui pembelajaran bahasa dan sastra indonesia, seharusnya pembelajaran sastra di lembaga formal harus diberikan secara tepat. Bukan berarti sastra merupakan pelajaran yang numpang (nunut) pada pelajran bahasa Indonesia sehingga pelajaran sastra diberikan sambil berlalu.

Jika pembejalaran sastra diberikan secara tepat, maka sastra akan menjadi agen perubahan peradaban. Sehingga sastra akan menjadi wahana yang sederhana untuk menguatkan akar religi, moral, budaya dan kecerdasan emosional. Belajar sastra pada hakikatnya belajar tentang hidup-kehidupan. Dan membaca karya sastra merupakan pencerah bagi batin seseorang. Dan berkelana bersama alur cerita dan karakter tokoh dalam suatu karya sastra.

Maka dari situlah untuk pelaku pendidikan baik stik holder yang bersangkitan pendidikan sastra dan bahasa merupakan satu-kesatuan. Namun belum tentu seorang Guru bahasa akan mengajarkan sastra. Maksudnya, pembelajaran sastra seorang siswa harus diajak masuk dalam sastra, bukan mengajarkan sastra hanya bedasarkan teks saja. Disitulah guru dituntut untuk mandiri serta menjadi benang merah bagaimana mengapresiasi karya sastra dan menciptakan karya sastra.

Memang, pembelajaran sastra butuh waktu yang sangat panjang, sementara waktu yang ditentukan oleh jadwal di sekolah sangat terbatas. Namun keterbatasan bukan berarti guru harus mengajarkan sastra sebagai pelajaran yang kesannya hanya memiliki status numpang (nunut). Dari sinilah mari kita menyadarkan diri, sadar akan sebuah tugas seorang guru. Sehingga pendidikan memberikan dampak yang positif terhadap pelajar.

Dengan demikian, harapan kedepan untuk pembelajaran sastra tidak berhenti sampai pada teks saja. Kalau bisa pendidikan sastra sebagai atmosfer agen perubahan peradaban sehingga nilai-nilai moral, religi dan sosial-budaya tertanam pada generasi muda. Begitu juga peran sastra sebagai alat pendidikan yang berfikir kritis dan peka terhadap gejala-gejala lingkungan sosialnya. Sehingga dari kepekaan intusi itulah yang nanti akan membangun kntrusksi berpikir dan bertanya secara kritis.

Pendidikan bukan hanya sekedar mendidik dari aspek pikiran (kognitif) saja. Tapi juga secara mental dan emosional. Sehingga peserta didik mampu dan yakin terhadap keberadaannya dan mempunyai sikap yang kritis.

Penulis : Kumaidi

Editor : Laili

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.